Administrasi Kepegawaian Negara

Silakan unduh bahan di bawah ini untuk kepentingan perkuliahan Administrasi Kepegawaian Negara.

BPKM Administrasi Kepegawaian Negara 2014

AKN_Perkuliahan 1_Pengantar_2014

AKN – SISTEM ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN

AKN_HAK dan KEWAJIBAN APARATUR NEGARA 2014

AKN_Perencanaan Kepegawaian 2014 [2]

AKN sistem remunerasi 2014

AKN Pendidikan dan Pelatihan 2014

MSDM_Pembinaan dan Pengembangan SDM

AKN_SISTEM PENGEMBANGAN KARIR Aparatur Negara

Lampiran PP 15 Tahun 2012 tentang PGPNS

AKN-Eselonisasi

AKN-Penilaian kinerja

AKN-DISIPLIN PNS

AKN_PRINSIP NON-DISKRIMINASI

AKN-NETRALITAS PNS DALAM POLITIK

AKN-Reformasi Kepegawaian Negara

Statistik Sosial untuk Administrasi Negara

Silakan diunduh untuk kepentingan perkuliahan.

GBPP STATISTIK SOSIAL LANJUTAN 2014

statistik-sosial_pendugaan-parameter dan besaran sampel

Statistik Sosial_Kuliah 2_Uji Non Parametrik 1 Sampel

STATISTIK SOSIAL_Uji Beda Dua SAmpel_2 Kuliah 3

STATISTIK SOSIAL_ANOVA dan Table_F_0_05

STATISTIK SOSIAL_NONPARAMETRIK 3SAMPEL

STATISTIK SOSIAL_Tabel Silang dan Uji Independensi

STATISTIK SOSIAL_Pengujian Simetrik Nominal

STATSOS_Pengujian Asosiasi Asimetrik Dengan Skala Nominal

STATSOS_uji asosiasi ordinal by ordinal.pdf

Antara Garuda Indonesia dan Batik Air: pengalaman game dan korek gas

Berpergian dengan pesawat sebenarnya menyenangkan, apalagi karena sekarang saya sedang mengejar agar GFF (Garuda Frequent Flyer) saya menjadi gold. Makanya, salah satu alasan saya untuk menerima undangan ke Papua adalah untuk mempercepat peralihan GFF tersebut. Perjalanan dengan GA 650 ternyata sangat melelahkan. Setelah take-off agak tertunda sedikit (kurang lebih 20 menit) karena padatnya Bandara Soetta, dua jam kemudian akhirnya mendarat di Makassar pukul 12.30 (WITA).  Pengumuman menyebutkan transit 30 menit  (yang pada akhirnya juga tidak pas 30 menit) dan tidak boleh turun dari pesawat. Sambil meluruskan kaki dan sedikit olahraga, saya akhirnya ke toilet pesawat, sesuatu yang bisa dibilang jarang sekali saya lakukan.

Pesawat kembali mengudara dan tiga jam kemudian mendarat di Biak. Bandara Frans Kaisiepo ini masih belum berubah saat saya pertama kali mendarat tahun 2002. Yah, inilah salah satu bukti sejarah, betapa lambatnya pembangunan. Sama seperti di Makassar, penumpang hanya transit, yang sekali lagi tidak boleh turun dan katanya 30 menit (padahal 40 menit). Jam di tangan saya sudah saya pindah ke Waktu Indonesia Timur… sudah pukul 5.20 tapi masih gelap sekali. Saat transit ini, saya coba main game… eh saya ditegor oleh pramugaranya. Maaf, pak. Saya tidak tahu. Saya kira ini kan hanya game, bukan hape.

Akhirnya pesawat kembali mengudara menuju Sentani. Pukul 07.20 WIT akhirnya mendarat. Duh, ngantuk banget. Soalnya selama di atas pesawat hanya bisa tidur ayam sekitar 2 jam saja. Penyebabnya, baru tidur, udah dikasih makan malam. Bangun, tidur lagi eh makan lagi ketika menuju Biak. Menuju Sentani, baru aja tidur sebentar eh, udah dikasih sarapan. Jadilah, tidur, makan, tidur, makan, tidur, makan.

Langsung disambut Prof. Akbar, kami diminta menuju ruang VIP. Terus terang, saya sebenarnya enggan dengan pelayanan eksklusif seperti ini. Tapi, berhubung saya mendampingi Pak Wakil Menteri, terpaksalah harus mengikuti protokoler. Sekitar 30 menit, langsung menuju Hotel Grand Abe… mandi dulu ah… rasanya gimana gitu. Setelah itu, langsung menuju Universitas Cenderawasih tempat acara dilaksanakan. Duuhhh, gak ada snack ya? Lapeeeeer nih. Sudah lewat pukul 12.00 WIT acara belum juga selesai, pukul 13.00 WIT belum juga, sampai akhir… Alhamdulillah pukul 14.15 WIT akhirnya acara selesai, makan siang juga. Mata sudah gak sanggup lagi, saya minta waktu istirahat kembali ke hotel. Pasang alarm, Blasss tidur. “Hah? Sudah jam 18.10 WIT? kok saya gak dengar alarm?” Padahal belum mandi dan siap-siap untuk bertemu pak Rektor pukul 19.00.

Makan malam bersama rektor, menunya papeda. Ini kedua kali saya makan papeda. Pertama kali saya ke Papua dulu, agak ragu mencobanya. Pada akhirnya saya tidak tahan untuk mencoba ketika saya ke Ambon. Waktu di Halmahera sebenarnya saya punya kesempatan untuk menyantapnya, tapi berhubung belum siap lahir batin, terpaksa batal. Kalau di Halmahera namanya popeda. Beda-beda tipis lah. Sagu yang dimasak seperti lem, terus di kasih ikan kuah kuning dan bunga papaya. Enak loh, sensasional. Saya lebih suka ditambah sambal. Jadi gimana gitu… Kebetulan dalam acara makan malam ini, saya juga bersama dengan dosen dari Universiti Sains Malaya.

Pulang… mampir dulu di apotek, cari obat tetes mata. Khawatir aja, soalnya kok gatal, berair, dan berat banget mata sebelah kiri. Setelah itu, masuk kamar kembali. Lelaaaap.

Pagi, pukul 06.00 WIT saya turun untuk sarapan karena pukul 07.00 harus sudah jalan lagi kembali ke Bandara Sentani. Back to Jakarta. Ngajar di Uncen yang rencananya dilakukan, terpaksa dijadual kembali, soalnya jadualnya belum ketemu. Duh… di Jakarta baru pukul 4 pagi. Sarapan seadanya, soalnya tenggorokan sudah mulai sakit. Nunggu pak Wakil Menteri yang semalam sakit, jadi gak ikut makan malam dengan Pak Rektor. Akhirnya 06.30 beliau turun, hanya sarapan omelet dan segelas teh hangat, akhirnya kami melaju ke Sentani. Di jalan, mampir dulu ketemu Pak Deputi V UP4B yang harusnya kemarin ketemu tapi batal.

07.15 kembali masuk VIP, cek in, pukul 08.30 masuk pesawat. Sangat tepat waktu. 08.45 take-off. Luar biasa Batik Air. Flight number ID 6181-4 Maret 2014, saya dapat kursi nomor 10E. Sekretarisnya Pak Wakil Menteri di 10 C. Saya lihat kursi di sampingnya kosong. Tapi, ya sudahlah, saya tetap duduk sesuai dengan boarding pass ya. Baru kali ini saya naik Batik Air. Lelaki di sebelah kiri saya, masih asik dengan permainan dari hapenya dengan suara yang sangat mengganggu. Akhirnya saya tegor. Setahu saya, alat elektronik tidak boleh dinyalakan sampai lampu tanda sabuk dimatikan. Masalahnya, pramugari bolak-balik tapi gak juga menegor. Di depan saya, di kursi 9, seorang perempuan juga masih asik main Candy Crush Saga.

Sekitar 30 menit setelah mengudara, penumpang diberi makan. Yah… akhirnya dapat makanan sisa, karena menu daging sudah habis, tinggal ikan. Baru saja mulai memotong ikan (yang nasinya belum matang betul… tahu kan rasa nasi belum matang?) eh, pramugarinya sudah nanya “Sudah selesai makannya?” apa dia gak lihat ya? Agak jutek, males banget lihat pramugari kayak gini.

Kekurangan Batik Air dibandingkan Garuda adalah fasilitasnya. Walaupun sama-sama ada fasilitas video, musik, dan permainan, tapi di Batik Air tidak disediakan earphone nya, sehingga kalau mau dengar musik harus bawa earphone sendiri. Kalau di Garuda kan sudah disediakan. Sudah begitu, film dan musiknya didominasi oleh India… Gimana gitu… Gak ada bantal atau selimut juga, padahal perjalanan jauh. Di toiletnya pun tidak ada gelas untuk kumur-kumur. Memang harga menentukan kualitas kok.

Kurang lebih pukul 10, tiba-tiba saya dengar ledakan kecil dari sebelah kanan saya. Bunyinya seperti plastik kecil yang ditiup terus ditepuk oleh kedua tangan. Tapi kok, bisa ya? “Bunyi apa?” saya tanya sama laki-laki di samping kanan saya. Saya lihat dia juga panik, sambil merogoh saku celana sebelah kiri. Saya lihat di celana itu ada cairan keluar dan baunya…. Astaghfirullah…. Itu kan korek gas? “Hah????” kok bisa korek gas dibawa masuk ke kabin? Apa tidak ada pemeriksaan di pintu masuk terminal bandara?

Sambil saya beristighfar terus, saya sedikit panik. Di belakang saya juga sudah mulai berbisik tentang bau gas. Saya akhirnya bangun, pura-pura ke toilet. Deg-degan luar biasa. Soalnya, saat take-off, saya baru saja membaca majalah yang disedaikan dikantung kursi di depan saya tentang apa saja penyebab kecelakaan pesawat. Salah satunya adalah karena korek gas. Laa haula walaa quwwata illa billaah. Laki-laki di samping saya, mengeluarkan korek yang sudah pecah tersebut, dibungkus dengan tisu dari kotak roti yang baru saja disajikan dan kemudian dia masukkan ke dalam kotak roti tersebut. Gilaaa. Perlu gak ya saya laporka ke pramugari? Tapi saya kasihan sama laki-laki ini. Akhirnya saya putuskan untuk diam. Sembari terus beristighfar.

Tiba-tiba disampaikan oleh pilot bahwa akan mendarat pukul 11.15. Hah? Bukannya sesuai tiket pukul 12.15? Baru kali ini, bukannya delayed, tapi lebih awal. Wah… tidak ada informasi berapa kecepatan pesawatnya.

Saya menulis ini bukan bermaksud menjelek-jelekan Batik Air. Kalau ada CCTV, mungkin bisa dijadikan data untuk ditindaklanjuti. Tapi, ini lebih pada untuk instrospeksi soal keamanan bandara dan pesawat. Untung, pesawat yang saya tumpangi tidak meledak. Seringkali, penumpang suka seenaknya sendiri. Tidak tahu etika bagaimana menjadi penumpang. Pramugari juga seharusnya punya etika. Bukan hanya mementingkan dandanan dengan belahan paha yang tinggi dan belahan dada yang rendah. Bagaimana bisa menolong penumpang dalam keadaan darurat kalau dia sibuk untuk menjaga agar belahan kebayanya tidak turun.

Sejak kemarin saya berpikir, jangan-jangan pesawat Malaysia Airlines juga seperti itu. Bukannya penerbangan internasional lebih ketat?

Jadi pilih penerbangan mana? Itu kembali kepada kita masing-masing.

Undang-Undang Aparatur Sipil Negara

Sebelum bingung dengan perkembangan di bidang Aparatur Sipil Negara, ada baiknya membaca dulu UU Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara dan penjelasannya. Silakan unduh pada:

UU Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara

Penjelasan UU Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara

Salah satu yang menarik adalah kedepannya ada dua kelompok Aparatur Sipil Negara yaitu PNS dan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). PNS berhak memperoleh gaji, tunjangan, dan fasilitas; cuti, jaminan pensiun dan jaminan hari tua; perlindungan; dan pengembangan kompetensi. Yang membedakan dengan PPK hanya adalah tidak mendapatkan fasilitas dan jaminan pensiun dan jaminan hari tua. Tapi tenang saja, kedepan pensiun dan jaminan hari tua akan pakai SJSN. Selebihnya… monggo diboco ya…

 

Mutiara, air tawar atau air laut?

Tulisan ini mengambil site di Lombok, pulau yang sudah pernah saya datangi sebelumnya bersama suami dan teman-teman penelitian sekitar 2008. Jadi, kalau ditanya apa yang menarik dari pulau ini, semua perempuan akan serentak menjawab… mutiara.

Nah, hari ini saya ikut dengan ibu dan bapak juri Pimnas 2013 yang rupanya juga tahu bahwa mutiara lombok adalah oleh-oleh yang harus diburu. Menuju sekarbela, akhirnya kami mampir di satu toko. Saya hanya membeli beberapa bros dan sebuah cincin saja. Yang bros untuk teman-teman di kampus, yang cincin buat saya dong…. Kebetulan kalau dari suami, saya sudah pernah dibelikan satu set mutiara. Thanks, Ayah….

Ada dua jenis mutiara, katanya, kalau yang mutiara air laut yang tidak dibudidayakan pasti lebih mahal karena memang susah mencarinya. Ada juga mutiara air laut yang sudah dibudidayakan, hasilnya memang tidak sebaik yang asli beneran. Namanya juga karena dipaksa menghasilkan. Yang paling murah adalah mutiara air tawar. Bahkan untuk sebuah bros yang saya beli gak sampai Rp. 50.000,- Maaf ya teman-teman, tapi memang itulah kemampuan keuangan saya sementara ini.

Kembali ke air laut dan air tawar. Jadi, sampai saat ini saya belum bisa membedakan mana yang air tawar dan mana yang air laut. Karena konon katanya, kalau yang air laut asli, bisa sampai jutaan (hanya untuk sebuah butir mutiara). Nah kalau yang saya beli, berarti dari air tawar kayaknya.

Sebenarnya, bukan itu yang mau saya tuliskan. Rupanya ketidakpedulian dari mana dan jenisnya apa juga terjadi pada pengunjung toko. Yang penting oleh-oleh berhasil dibawa ke kota tujuan masing-masing.

Mutiara air laut budidaya

Mutiara air laut budidaya

Kalau seperti ini, apa bedanya ya mutiara-mutiara ini?

Mutiara air laut budidaya

 

Memilih-milih

Memilih-milih, bingung, semua bagus…. cari yang murah aja ah….

 

Lombok,12 September 2013

Dari Depok untuk Indonesia lebih baik

Salah kaprah: Antara FGD dan Diskusi

Menghadiri beberapa acara yang diadakan oleh pemerintah menjadi geli sendiri. Hari ini, misalnya. Saya datang mewakili kampus UI dalam Focus Group Discussion (FGD) tentang gerakan diversifikasi pangan dan dewan ketahanan pangan. Mau tahu apa yang menggelikan? Lihat daftar yang undangan saja, saya berpikir, penyelenggara tahu gak sih apa yang dimaksud dengan FGD? Atau mereka hanya sekedar menggunakannya tanpa tahu tujuan diselenggarakannya FGD. Nah lihat format acara, saya lebih geli lagi. Loh kok kayak seminar atau lokakarya? Eh, terakhir, lihat tata letak ruangannya, akhirnya geli saya jadi hilang. Yang tinggal hanya miris dan sedih. Sebagai orang yang berkutat dengan kegiatan penelitian sehari-hari hati saya tergerak unuk membagi sedikit pengetahuan yang saya miliki.

Mengapa tidak? Coba kita lihat apa yang dimaksud dengan FGD. FGD adalah suatu metode pengumpulan data kualitatif. Tujuannya agar dapat dihimpun penyelesaian masalah dari semua peserta diskusi. Jadi, peserta diskusi adalah narasumber. Siapa sih peserta dan berapa sih jumlahnya? Peserta harus memiliki syarat seperti halnya syarat informan di dalam penelitian kualitatif. Dengan kata lain, mereka adalah orang yang mafhum terhadap masalah yang diangkat.

Berikutnya, sangat dianjurkan agar peserta adalah  homogen (dapat dikelompokkan ke dalam karakteristik yang sejenis). Mengapa harus homogen, agar tidak ada ketimpangan ketika mereka mengutarakan pendapat, tidak ada yang dianggap lebih rendah sehingga tidak percaya diri atau dianggap lebih berkualitas sehingga bisa menguasai jalannya diskusi. Perlu hanya 8-12 peserta saja agar diskusi berjalan dengan lebih intens.

Untuk memandu jalannya FGD ini diperlukan seorang moderator yang biasanya adalah peneliti sendiri. Moderator hanya perlu menjadi pihak yang mengajukan stimulan masalah tanpa ikut di dalam “substansi diskusi” seperti halnya menjadi pewawawancara. Di sini diperlukan moderator yang kreatif untuk membangun suasana agar diskusi menjadi lebih hidup.

Terkait dengan setting ruangan, agar memudahkan jalannya diskusi, dibuat format O shape bukan model kelas atau studio.

image

Nah, apa yang saya alami hari ini? Acara yang disedianya dimulai pukul 8 (sesuai dengan undangan) sampai pukul 9.45 belum juga ada tanda-tanda akan dimulai. Malah lihat agendanya lebih lucu.  Justru ada acara pembukaan, acara pemakalah atau pemateri, dan gak jelas kapan fgd nya sendiri.

Acara akhirnya dimulai pukul 9.55. Dibuka dengan lagu kebangsaan Indonesia Raya, disusul dengan pemaparan oleh ketua panitia, pembacaan doa, bau deh para pemateri.

Di tengah paparan pemateri 1, eh bu sekda depok datang. Kepotong lagi.

Huh. Saya coba tanya kepada ketua panitia, kenapa namanya FGD padahal kegiatannya seminar. Dijawab olehnya, soalnya sesuaidengan rencana anggaran kegiatan yang sudah dibuat sebelumnya.

Lagi-lagi alasan yang gak penting mengalahkan subtansi. Kalau sudah begini, jadinya gimana dong?

Menangis dan Tertawa: Kapan, Di mana, dan Untuk Siapa

Apa sih yang menghubungkan kata menangis dan tertawa? Pada satu malam di jalan Wijilan Yogyakarta, sayup-sayup terdengar melodi indah pengamen jalanan

            Pulang ke kotamu
           Ada setangkup haru dalam rindu
           Masih seperti dulu
           Tiap sudut menyapaku bersahaja
           Penuh selaksa makna
           Terhanyut aku akan nostalgia

           …

Ya, lagu Yogyakarta memang lagu melankolis yang banyak membuat perempuan (tapi kadang juga laki-laki loh), menjadi sosok yang sok romantis saat mengingat masa-masa pacaran, mungkin bisa dengan cinta pertamanya, cinta terakhirnya, atau mungkin juga dengan selingkuhannya. Mengapa tidak?

Nah, mungkin  ada perempuan yang ketika mendengar lagu ini merenung atau bahkan menjadi sedikit histeris, kok bisa ya ada cowok romantis macam Katon Bagaskara. Merangkai kalimat puitis bernada sehingga meluluhlantakkan tulang hingga ke sum-sumnya. Atau, ada juga perempuan yang akhirnya meneteskan air mata sedih karena mengingat mengapa cinta pertamanya tidak berakhir di pelaminan dan bahkan mungkin menyesal seumur hidup karena cinta pertamanya dulu, saat ini menjadi pejabat atau selebritis yang setiap hari muncul di televisi. Tapi, kalau saya disuruh memilih, saya bukan kedua tipe di atas. Saya akan bilang, Katon sebagai musisi memang luar biasa, tapi toh pada akhirnya dia hanya manusia biasa yang tidak bisa mempertahankan dua kali mahligai perkawinannya . Saya juga bukan orang yang dengan mudah akan meresapi setiap syair lagu itu sehingga meneteskan air mata sedih karena bagi saya suami saya adalah sosok yang memang saya pilih untuk menjadi pendamping saya jadi tidak akan ada air mata kesedihan.

Malam ini, di dalam hati saya hanya akan menertawakan perempuan (dan laki-laki) yang begitu hanyut dalam khayalan masa lalunya. Seperti saya menonton Opera Van Java saat wayang-wayang itu membuat lawakan yang tiada habisnya. Dunia ini panggung sandiwara.

Tidak salah memang. Karena, melupakan sejarah akan menjadi bahaya karena kita melupakan bagaimana diri ini dapat tercipta seperti sekarang. Yang terpenting adalah dunia kita saat ini, bukan masa lalu. Dunia yang harus kita hadapi dengan segala konsekuensi dan bukan menghindarinya atau menyalahkan orang lain akan keberadaan kita saat ini. Dunia kita sekarang adalah dunia masa depan yang harus kita rencanakan dengan matang sehingga kita siap dengan segala macam rintangan.

Kembali lagi kepada menangis dan tertawa, bagi saya, kedua kata ini sangat tipis perbedaannya, setipis koin mata uang seribu rupiah yang ada di negara ini. Kadang, kita tidak akan pernah tahu kapan kita menangis dan kapan kita harus tertawa. Buktinya, banyak koruptor yang seharusnya menangis karena ketahuan belang kelakuannya yang mengakibatkan tangis anak dan keluarganya, toh malah tertawa dan menertawakan orang lain. Di sisi lain, banyak orang yang tertawa karena melihat pemimpin kita, dan calon pemimpin kita berbicara tanpa dasar padahal banyak orang kelaparan, kesakitan, dan tidak mampu berjuang untuk hidup. Artinya, bagi saya, tertawa dan menangis adalah perasaan yang wajar dan manusiawi, tetapi harus tahu kapan digunakan, di mana tempatnya, dan untuk siapa.

UC UGM Yogyakarta, 22 Mei 2013

Dari Depok untuk Indonesia yang Lebih Baik

nilai UTS Administrasi Kepegawaian Negara

Hasil UTS Administrasi Kepegawaian Negara dapat dilihat pada tautan berikut.

NILAI AKN 2013_WORDPRESS

Evaluasi:

1. Mahasiswa tidak membaca petunjuk ujian dengan baik

2. Tidak memahami konsep

3. Tidak lengkap menuliskan jawaban

4. Tulisan tidak terbaca

5. Membaca materi hanya sepintas lalu.

Mohon persiapkan diri untuk menjawab soal UAS dan mengerjakan materi diskusi dengan lebih baik.