Dago… tak seindah dulu

Malam mingguan di Dago? Jangan deh, bising, ramai, kumuh. Yang ada di sepanjang Dago -selain Factory Outlet dan Resto-Cafe-Bakery, dan penjual bunga potong, cuma Anak Gede Bandung yang pakaian seragam banget, yang cowok rambut mohawk berjeli, celana ketat, sepatu sneaker dan tas selempang. Yang cewek, ya gak ada bedanya. Kayaknya standar banget deh dandanan mereka. Udah gitu, gak ada tabu lagi buat pelukan atau ciuman di jalan. Udah gitu, pas di atas jam 12 malem, suara ngetrek motor bikin suasana semakin gak nyaman.

Jadi buat kamu-kamu yang mau ngisi liburan, gak usah berharap banyak dengan kesejukan apalagi kenyamanan Dago. Mending, cari tempat lain.

ADM: Asisten Dosen Melulu

Dari kiri ke kanan: Berdiri: Umanto, Nurul, Titi, Azis, Djaka, Bambang (Dekan FISIP UI), Thomas, Papas, Billy, Heru, Alfie. Jongkok: Lu’lu, Neni, Lina, Sarah, Elga, Bayu

Ilmu Administrasi, biasa disingkat mahasiswa dengan ADM. Tapi akhirnya ini diplesetkan menjadi Asisten Dosen Melulu. Padahal sih gak juga. Foto-foto di atas menggambarkan gimana antara dosen dan asisten dosen sudah menyatu. Untuk menjadi seorang asisten pun tidak langsung begitu saja. Ada seleksi mulai dari IPK, nilai, dan kepribadian. Jadi, kayaknya gak usah curiga bahwa mereka gak punya kemampuan.  Tapi ada satu yang menjadi isu wajib untuk para pelamar, bahwa mereka haruslah orang-orang yang sedikit “garing” dengan ide-ide yang ketika dilaksanakan jadi tampak bodoh.

Elga dengan “pulsa subangnya”, Lu’lu dengan “hobi tidurnya”, Nurul yang punya partner di Jambul, dan Alfie dengan “barang pecah belahnya”.

[Mari] Kembalikan Nama Baik Buaya

Lihatlah pada diriku
aku cantik dan menarik
dan kau mulai dekati aku

Ku beri sgalanya
cinta harta dan jiwaku
tapi kau malah menghilang
bagai hantu tak tau malu

Lelaki buaya darat
busyet aku tertipu lagi
mulutnya manis sekali
tapi hati bagai serigala

(Lelaki Buaya Darat, cipt.  Maia Ahmad)

Siapa sih yang tidak tahu lagu tersebut. Di sebuah acara anak-anak saja, jika ada anak yang diminta menyanyikan lagu, mereka akan lebih senang memilih lagu Lelaki Buaya Darat ketimbang lagu Balonku atau Pelangi. Tidak salah memang karena lagu tersebut sempat mengalami hits tahun 2006 dan hingga kini termasuk dalam salah satu ringtone yang paling banyak diminati oleh pengguna telepon genggam. Tapi cobalah kita sedikit menelaah tentang beberapa kalimat dalam lagu tersebut.

Dalam konteks lagu yang dinyanyikan oleh Duo Ratu tersebut, orang akan menganggap bahwa buaya adalah binatang yang memiliki ciri mirip serigala, yang tidak dapat dipercaya karena suka menipu. Seorang perempuan yang merasa kesal karena dibohongi pasangannya akan mengumpat dengan sebutan “dasar, lelaki memang buaya darat”. Tapi mereka amatlah jarang menggunakan menggunakan umpatan “kamu kok seperti serigala?”

Ini bukan satu-satunya lagu hits yang menggunakan perandaian. Perhatikan lagu yang lainnya yang diciptakan Melly Goeslaw sebagai Original Soundtrack film Heart.

Ku temukan dalam pencarian
cinta sejati untuk hidupku
kurang lebih yg seperti dia
ku harap dalam cintaku

Ku tak mau menjanjikannya
pasti bahagia bila denganku
biar dia rasakan sendiri
betapa gilanya cintaku

aku memang pencinta wanita
namun ku bukan buaya
yg setia pada seribu gadis
ku hanya mencintai dia

(Pencinta Wanita; cipt. Melly Goeslaw)

Lagu yang dinyanyikan Irwansyah tersebut memang sangat indah. Syair yang dialunkan ditambah ketampanan wajah sang “Pencinta Wanita” membuat lagu ini enak sebagai pelengkap rayuan pasangan muda-mudi yang sedang kasmaran. Betapa tidak. Kata-kata dalam syair tersebut membuat para perempuan merasa melayang dalam angan bahagia karena memiliki laki-laki yang cinta dan setia hanya pada diri satu orang. Di manapun di muka bumi ini, tidak ada perempuan yang ingin dibagi kasihnya.

Tapi sekali lagi, perhatikan pada bagian reffrain lagu tersebut.  Entah mengapa seorang Teh Melly atau pencipta lagu lainnya (dan juga tentu saja tidak tertutup bagi yang lain) mendefinisikan buaya sebagai binatang yang tidak setia pada pasangannya dan senang memiliki pasangan lebih dari satu atau berganti-ganti pasangan.

 

 

 

Tenarnya Sang Binatang

Sebenarnya pendefinisian yang sama juga dilakukan oleh seniman film Hollywood. Di beberapa film produksi negara paman Sam, seperti pada fiksi Peter Pan ciptaan JM Barrie yang kemudian oleh Spielberg dibuat menjadi Hook, seekor buaya besar digambarkan telah menggigit tangan Captain Hook sehingga akhirnya menggunakan tangan palsu. Dalam film animasi The Wild produksi Disney pun, buaya digambarkan sebagai sosok protagonis. Sedangkan pada film Live and Let Die, satu dari film James Bond pun, buaya perliharaan Dr. Kananga alias Mr. Big dimunculkan walau cuma sekedar figuran yang kelaparan sehingga membuat Sang Agen harus lari tunggang langgang. Dan di film James Bond lainnya yaitu Octopussy, buaya juga telah dijadikan tersangka karena dianggap telah membunuh Agen 007 tersebut, walaupun pada akhirnya tuduhan tersebut tidak terbukti karena Bond selamat.

 

Analogi binatang

Penggunaan analogi binatang untuk mengungkapkan sesuatu adalah sah-sah saja. Selain buaya dan serigala, masih ada juga binatang yang sering dijadikan analogi. “Kupu-kupu malam” digunakan untuk perempuan pekerja seks komersial, kancil sebagai binatang yang cerdik dan banyak akalnya, “kuda hitam” untuk sebutan orang/kelompok yang tidak pernah diperhitungkan, ataupun “kambing hitam” untuk orang yang dianggap menjadi penyebab kesalahan. Tapi analogi binatang tersebut tidak sebanyak analogi yang diberikan pada buaya. 

 

Deskripsi tentang buaya

Kasihan benar si buaya. Padahal kalau saja kita mau saja menelisik lebih dalam, seperti apa buaya, mungkin kita tidak akan pernah menggunakan istilah-istilah yang semakin lama membuat buaya menjadi binatang yang paling ditakuti. Buaya dalam bahasa Inggris disebut sebagai crocodile adalah makhluk yang masuk dalam keluarga Crocodylidae (walaupun kadang-kadang diklasifikasikan dalam subkeluarga Crocodylinae). Buaya adalah reptil yang hidup di daerah tropik di Afrika, Asia, Amerika dan Australia. Mereka hidup di habitat sungai dan danau, atau menyenangi tanah yang becek. Di seluruh dunia terdapat 23 jenis buaya Istilah corcodile diambil dari bahasa Yunani yaitu krokodilos (berasal dari kata kroke, yang berarti batu dan drilos yang berarti panas.)

 

Buaya dalam tradisi Indonesia

Dalam beberapa tradisi di Indonesia, buaya adalah fenomena yang selalu ditakuti. Surabaya misalnya. Nama kota ini diambil dari binatang Sura (sejenis …) dan Buaya. Simbol kotanya pun dilambangkan dengan binatang Sura dan Buaya yang sedang bertarung. Di daerah Tenggarong Kalimantan Timur, ada seorang keluarga yang sudah hidup bersama dengan buaya selama lebih dari 20 tahun hanya karena ia mimpi didatangi buaya.

Lain lagi dengan warga Betawi. Ridwan Saidi, ahli tentang Betawi, dalam pikiran-karya.com menyebutkan bahwa buaya dijadikan simbol untuk mencegah terjadinya pencemaran sungai. Secara turun temurun diceritakan bahwa orang betawi tidak boleh membuang sampah di sungai karena di dalam sungai bertahta sepasang siluman buaya putih. Buaya ini akan memangsa siapa saja yang dianggap kuwalat karena melanggar pantangan untuk tidak mencemarkan sungai. Untuk men­jaga jangan sampai buaya putih bangkit amarahnya, di samping berpantang membuang sampah ke sungai, juga ada waktu-watu tertentu orang Melayu Betawi “nyugu” ke sungai dengan membawa sajenan kembang tujuh rupa, telur ayam mentah, bekakak ayam, dan nasi kuning. Hingga kini pun,  tradisi menghormati sepasang buaya putih masih tercermin dalam adat perkawinan Melayu Betawi yang mengharuskan dalam pinangan pihak mempelai laki-laki membawa sepasang roti buaya.

 

Sifat lain dari buaya = analogi?

Apakah semua yang menjadi cerita di atas benar adanya? Benarkah buaya adalah penyerang, pembunuh, tidak setia, melakukan poligami?

Buaya adalah predator, predator berdarah dingin. Mereka dapat bertahan untuk jangka waktu yang panjang tanpa makanan dan jarang melakukan perburuan. Dengan tubuhnya yang tipis, buaya dapat mengejar mangsanya dengan cepat apabila sedang berada di dalam air. Dengan bentuk tubuhnya yang seperti hewan prasejarah, gigitan buaya memiliki kekuatan sama dengan 3000 pon (bandingkan dengan anjing labrador yang memiliki 100 pon per square inch, 350 pon per square inch untuk hiu besar, dan 800 per square inch yang dimiliki oleh hyena).

Ikan, burung, mamalia lain, dan juga kadang-kadang buaya yang lebih kecil menjadi santapannya. Jadi sebenarnya manusia bukanlah makanan utama dari buaya. Mereka akan menyerang dalam keadaan terdesak atau merasa terganggu.

Namun buaya tidaklah seperti binatang lain yang hidup berkerumun. Mereka lebih senang hidup menyendiri. Steve Irwin, sang crocodile hunters, dalam filmnya menjelaskan bahwa buaya adalah hewan yang mempunyai kesetiaan/loyalitas yang tinggi terhadap pasangannya. Penelitian membuktikan bahwa seekor buaya biasanya mempunyai pasangan yang tetap selama hidupnya.  Untuk menjaga telur-telurnya yang disimpan di bawah pasir atau tumpukan daun membusuk, si betina ini akan mengintai dari jarak 2 meter dan akan menjadi sangat buas.

Jadi kalau disebutkan bahwa buaya adalah makhluk yang tidak setia, kata siapa? Tapi kalau digambarkan bahwa buaya adalah makhluk yang mengintai dan pemangsa, mungkin lebih tepat. Jadi bagi lelaki pengintai dan pemangsa perempuan mungkin dapat dianggap sebagai lelaki buaya darat. Satu keistimewaan buaya adalah membuka mulutnya lebar-lebar. Hal ini dilakukan hanya ketika buaya sedang menunggu mangsanya. Sehingga ketika mangsanya dekat, dengan mudah mereka langsung menerkamnya. Inilah yang kemudian menjadi analogi sebagai mulut orang yang selalu ternganga ketika terkaget-kaget melihat sesuatu. Apakah lelaki seperti itu? Kalau kita melihat sinetron-sinetron yang diputar pada primetime di TV swasta, rasa-rasanya perempuan dan laki-laki akan beradegan sama ketika mereka kaget. Mata melotot dan mulut ternganga. Ini baru perempuan dan laki-laki buaya.

Entah siapa yang memulai untuk mengeluarkan istilah air mata buaya. Belum ada penelitian apakah memang buaya sering sedih sehingga harus menangis dan meneteskan air mata. Tapi kenapa ketika ada manusia yang pura-pura sedih lantas mengeluarkan air mata disebut air mata buaya? Tidak bisakah kita menggantinya dengan sebutan air mata cicak atau air mata burung?

Dari sisi usia, buaya termasuk hewan yang berumur panjang. Tingkat kehidupan rata-rata buaya adalah 71 tahun, bahkan “Mr Freshy”, buaya yang berhasil diselamatkan oleh Bob dan Steve Irwin, mencapai usia 130 tahun. Dengan kondisi seperti ini, anehnya tidak ada seorangpun yang menyebutkan “wah, orang itu berumur panjang seperti buaya,” kepada orang yang usianya sudah lanjut.  

Atau dapatkah kita menggunakan istilah “kamu besar sekali sih seperti buaya” kepada orang yang memiliki bobot lebih berat dari orang lain atau sangat tinggi. Sebagai informasi, walaupun ketika terlahir hanya berukuran 20 cm saja, ketika dewasa buaya dapat mencapai bobot lebih dari 1200 kg dengan panjang 5-6 meter. Bahkan di Australia pernah ditemukan seeokor buaya dengan panjang 8,63 yang dibunuh oleh Krystina Pawlosk tahun 1958.

          Satu lagi identitas dari buaya yang patut menjadi peristilahan dalam dunia keindahan. Kulit buaya adalah salah satu kulit terbaik untuk dijadikan hiasan atau bahan baku pembuatan tas, sepatu, dompet, maupun aksesoris lainnya. Ketika ada seorang perempuan memiliki kulit yang sangat indah, kenapa tidak ada yang menyebutnya dengan “kulitmu seindah kulit buaya”. Atau para perempuan takut karena kulit buaya begitu bercorak?

Kasihan buaya. Dengan berbagai kelebihan yang dimilikinya, hewan ini hanya dimanfaatkan manusia hanya untuk diambil beberapa keburukannya. Sungguh tidak adil. Dapatkah kita (sedikit) mengembalikan nama baik buaya di depan manusia dan memperlakukannya dengan (sedikit) adil?

 

 

 

 

 

“Doa untuknya”

Kalau cemburu itu tanda cinta

Tuhan, biarkan aku cemburu padanya

Untuk sepuluh, seratus, seribu, atau sejuta cemburu

 

Kalau cinta itu buta

Tuhan, biarkan aku meminta padaMu

“Butakan aku selamanya agar tetap mencintainya”

 

Namun kalau cemburu itu menjadi buta,

Tuhan, jangan pernah biarkan aku mencintainya

Untuk sejam, semenit, atau sedetikpun

 

Izinkan dengan rasa yang KAU telah berikan,

Aku hanya akan mencintainya

Tanpa cemburu dan buta

Ramalan oh ramalan?

Serem banget, dalam 4 bulan terakhir ini, apa yang aku bayangkan dan aku pikirkan semua terlaksana. Biasanya ditandai dengan mimpi-mimpi yang memberikan gambaran secara lengkap atau bahkan hanya sekedar tanda-tanda alam semata.

4 bulan yang lalu, misalnya, aku sudah memprediksikan seorang kolega dosen akan diminta menjadi calon menantu dosen yang lainnya. Padahal, yang bersangkutan pun boro-boro tahu. Si Ibu dosen pun juga gak pernah ngomong langsung sama aku tentang keinginannya. Sampai 3 minggu lalu kolega dosen ini akhirnya cerita kalau dia memang ‘diminta’ untuk menjadi menantu. Dan masih ada 3 ramalan yang ternyata memang terjadi pada kolega dosen ini. Pusing nih. Soalnya, akhirnya dia tanya tentang “Mama Lina, siapa presiden RI 2009?” Memangnya aku mama Loren apa. Dia pikir aku bisa meramal.

Lain halnya cerita di lapangan. Entah apa yang terjadi, hanya satu mahasiswa yang aku pikirkan 2 hari sebelum berangkat. Dan ternyata, ada koneksi batin antara aku sama dia. Aneh ya… semua yang sedang dipikirkannya sudah ada di kepalaku sejak berangkat. Sampai teman-temanku bilang, “aneh banget sih loe mikirin dia, bukan tipe loe banget!” ya namanya juga perasaan.

Yang paling bikin aku geleng-geleng adalah waktu Kompetisi Karya Tulis Mahasiswa Tingkat Wilayah A di UNJ, sehari sebelum pengumuman pemenang, aku sudah tahu siapa yang menang. Padahal, aku gak pernah menyaksikan presentasi mereka. Apa gak bikin ngeri? Aku bilang waktu itu kepada anak USU, bahwa mereka akan juara tapi juara 2. UNJ juara 3, dan UI pasti juara 1. Dilalah… ternyata pas banget. Termasuk ketika feeling memperoleh juara KKTM Pendidikan Tingkat Nasional. Aneh kan?

Di tingkat nasional kejadian lagi, aku bilang di KKTM IPS, bahwa yang akan juara salah satunya anak Unpad dan IPB. Ternyata benar. Maafin ya… kemarin aku sebenarnya sudah punya feel kalau UI bakal gak menang di bidang ini. Tapi gak enak, nanti teman-teman mahasiswa malah jadi gak semangat.

 

[Sigit 1]: Kehilangan Candi Borobudur

Bagi orang yang baru ke Borobudur, pasti akan merasakan sesuatu yang luar biasa. Mengunjungi situs sejarah dunia, yang dulu pernah jadi satu dari 7 keajaiban dunia. Sama halnya dengan Sigit-mahasiswa salah sebuah perguruan tinggi ternama di Indonesia-yang saat itu sedang merasakan kegundahan yang sama, akan mengunjungi tempat Syailendra membesarkan nama. Turun dari bus kuning, penjaja sewa payung, penjual topi, sampai pernak-pernik khas Borobudur menghampiri. Ya, namanya juga usaha. Awalnya kami ditawari 3000 rupiah untuk 1 buah payung. Tetapi, ketika mendekati pintu pembelian tiket, harga tersebut sudah turun menjadi 2000 rupiah. Wah… jangan-jangan, sampai di dalam Borobudur, harganya menjadi gratis bahkan payung kita akan dipegangi orang ini (ngarep banget ya…).Untuk masuk kawasan Borobudur, kami harus membayar 9000 rupiah sekali masuk, ditambah 1000 rupiah lagi untuk kamera (gila… gini hari masih harus bayar pakai kamera, emangnya kita nyewa kamera mereka apa?). Sigit bersama dengan teman-teman dan dosennya memasuki kawasan yang cukup panas. Dengan menggunakan kereta api (lagi-lagi harus membayar sebesar 5000 rupiah) sigit mulai menyalakan fasilitas video di telepon genggamnya. Ia duduk di sebelah kanan dan dengan semangat bergejolak mulai memvisualisasikan obyek yang dilihatnya. Semua hijau. Ia merekam sisi kanan dari kereta yang dinaikinya.

Kalau Sigit -sang manajer PKMI yang kalah- ini melihat ke sebelah kanan, kami semuanya menyaksikan kemegahan Borobudur dari sebelah kiri. Waw… 17 tahun yang lalu, tempat ini sudah saya kunjungi bersama dengan teman semasa SMA yang juga kuliah di UI. Masih tetap sama, berdiri kokoh dengan segala kecongkakannya. Tiba-tiba Sigit mengeluarkan pernyataan yang membuat kami tertawa sampai sakit perut. “Mana sih Borobudurnya?” sambil terus merekam gambar. “Kok ga kelihatan?” ujar Sigit kembali. “Gimana sih, Git, orang Borobudurnya di sebelah kiri, loe ambil video di sebelah kanan, ya ga bakal ketemu lah…” begitu ucap kami serempak seraya terus mentertawakan Sigit yang akhirnya cuma senyum-senyum malu.

Baru kali ini, saya melihat bagaimana tampang seorang yang baru kehilangan “Borobudur”

dan takut untuk tidak bisa menyaksikan “Borobudur”.

 

 

[LPMPS 2008]: Hidup sebagaimana orang Indonesia kebanyakan

Coba… apa yang terjadi kalau mahasiswa Indonesia tidak pernah menikmati menjadi orang-orang Indonesia seperti kebanyakan. Pastinya, kebijakan yang ada tidak akan pernah dikritisi, kita terima semua yang dibuat pemerintah tanpa pernah mereviewnya. Tapi anak FISIP UI gak begitu kok. Dalam kegiatan LPMPS (Latihan Praktik Metode Penelitian Sosial), mereka membuktikan bahwa mereka bisa hidup sebagai masyarakat kebanyakan. Antri mandi (dan kalau mandi pun harus irit air karena sedang kekeringan) mereka anggap seperti antri BLT, tidur hanya beralaskan tikar seperti di tempat pengungsian, dan makan pun seadanya.

  

Kebiasaan kemana-mana naik kendaraan pribadi atau umum, saat LPMPS harus berubah 180 derajat. Angkot yang selama ini banyak mereka temui di Jakarta-Depok, selama 8 hari harus dilupakan. Kendaraan pribadi yang setiap hari menemani, paling mentok digantikan dengan ojek motor. Tapi yang nikmat, tentu saja jalan kaki di tempat yang naik turun. Betis gede, biarin aja deh. Kulit menjadi beda warna karena tersengat matahari tak jadi soal. Pokoknya, hidup harus tetap dinikmati di manapun berada.

 

Tidur larut, bangun pagi-pagi menjadi satu kebiasaan. Nonton tv tidak menjadi keharusan lagi. Piala eropa pun terlupakan. Di Subang, mereka ini tinggal di rumah penduduk. Salah satu desa yang dikunjungi adalah Bunihayu. Sudah lebih dari 7 bulan, di Bunihayu tidak turun hujan. Makanya, sulit air. Air menjadi bawang merah, eh barang mewah. Saya sendiri pernah mandi hanya dengan 4 gayung air karena benar-benar kehabisan. Untunglah sudah pernah merasakan yang lebih parah dari ini. Hanya satu hari pertama saja udara terasa dingin, selebihnya panas luar biasa.

Hidup memang seperti roda, kadang di atas, kadang di tengah, kadang di bawah. Kita harus siap pada posisi apapun dan kapanpun.