[Sigit 1]: Kehilangan Candi Borobudur

Bagi orang yang baru ke Borobudur, pasti akan merasakan sesuatu yang luar biasa. Mengunjungi situs sejarah dunia, yang dulu pernah jadi satu dari 7 keajaiban dunia. Sama halnya dengan Sigit-mahasiswa salah sebuah perguruan tinggi ternama di Indonesia-yang saat itu sedang merasakan kegundahan yang sama, akan mengunjungi tempat Syailendra membesarkan nama. Turun dari bus kuning, penjaja sewa payung, penjual topi, sampai pernak-pernik khas Borobudur menghampiri. Ya, namanya juga usaha. Awalnya kami ditawari 3000 rupiah untuk 1 buah payung. Tetapi, ketika mendekati pintu pembelian tiket, harga tersebut sudah turun menjadi 2000 rupiah. Wah… jangan-jangan, sampai di dalam Borobudur, harganya menjadi gratis bahkan payung kita akan dipegangi orang ini (ngarep banget ya…).Untuk masuk kawasan Borobudur, kami harus membayar 9000 rupiah sekali masuk, ditambah 1000 rupiah lagi untuk kamera (gila… gini hari masih harus bayar pakai kamera, emangnya kita nyewa kamera mereka apa?). Sigit bersama dengan teman-teman dan dosennya memasuki kawasan yang cukup panas. Dengan menggunakan kereta api (lagi-lagi harus membayar sebesar 5000 rupiah) sigit mulai menyalakan fasilitas video di telepon genggamnya. Ia duduk di sebelah kanan dan dengan semangat bergejolak mulai memvisualisasikan obyek yang dilihatnya. Semua hijau. Ia merekam sisi kanan dari kereta yang dinaikinya.

Kalau Sigit -sang manajer PKMI yang kalah- ini melihat ke sebelah kanan, kami semuanya menyaksikan kemegahan Borobudur dari sebelah kiri. Waw… 17 tahun yang lalu, tempat ini sudah saya kunjungi bersama dengan teman semasa SMA yang juga kuliah di UI. Masih tetap sama, berdiri kokoh dengan segala kecongkakannya. Tiba-tiba Sigit mengeluarkan pernyataan yang membuat kami tertawa sampai sakit perut. “Mana sih Borobudurnya?” sambil terus merekam gambar. “Kok ga kelihatan?” ujar Sigit kembali. “Gimana sih, Git, orang Borobudurnya di sebelah kiri, loe ambil video di sebelah kanan, ya ga bakal ketemu lah…” begitu ucap kami serempak seraya terus mentertawakan Sigit yang akhirnya cuma senyum-senyum malu.

Baru kali ini, saya melihat bagaimana tampang seorang yang baru kehilangan “Borobudur”

dan takut untuk tidak bisa menyaksikan “Borobudur”.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s