Apa Kabar Indonesiaku…

Tadi… adik saya, Farah, minta agar saya menulis puisi tentang Indonesia dan masa depan. Tiba-tiba, inilah yang terlintas. Sederhana. Apa kabar Indonesiaku…

Apa kabar Indonesiaku?

Gersang

Kekeringan

Banjir

 

               Selamat pagi bangsaku

               Polusi

               Macet

               Kriminalitas

               Pengangguran

               Kebakaran

               Kekerasan

 

Ada apa dengan Tanahku?

Penyakit

Bencana alam

Kelaparan

Kekurangan

Dimana tanah air beta?

 

Kalau Anda ingin Indonesia tetap begini

Pilihlah saya sebagai Presidennya

Dijamin, hidup bangsa Indonesia akan cepat menjadi akhir

Dalam mimpi

 

Depok, 12 Agustus 2008

Advertisements

[Sigit 3]: “Jadi manajer itu lebih enak, ketimbang anak buah…”

Kalau yang ini, cerita singkat yang benar-benar tentang Sigit. Keikutsertaan Sigit dalam Pekan Ilmiah Mahasiswa tingkat Nasional (PIMNAS) ke XXI di Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA) memang tidak disengaja. Semua di luar kekuasaan manusia deh. Begini ceritanya.

Dari 4 proposal Program Kreativitas Mahasiswa bidang penulisan Ilmiah (PKMI) yang diajukan, ternyata hanya 1 kelompok yang dinyatakan lolos untuk ikut dalam PIMNAS ini yaitu Diana, Desy, Alfie, dan Sigit (tentunya). Nah, berhubung yang presentasi hanya 3 orang saja, jadi satu orang terpaksa Makan Gaji Buta (Magabut). Harusnya, kalau dilihat dari status kesenioran, tentu saya yang bisa Magabut hanya Alfie, berhubung tiga yang lainnya adalah adik kelas Alfie. Tapi entah apa pertimbangan dari keempat orang ini, hingga akhirnya Sigit yang dipilih untuk tidak presentasi. Padahal, kalau dilihat dari wajah, Sigit terhitung lumayan lah…, dilihat dari prestasi juga gak jelek-jelek amat.

 

Akhirnya, karena tidak melakukan tugas apa-apa, Sigit ‘mengangkat’ dirinya menjadi manajer kelompok. Tugasnya, ya… membawakan barang-barang kelompoknya. Ha…ha…ha… atau mencarikan makanan buat teman-temannya (padahal, tetap aja duitnya itu dari teman-temannya juga). Pokoknya, kerjaan Sigit di Semarang judulnya cuma bersenang-senang di atas penderitaan orang lain, termasuk pembimbingnya. Ha…ha…ha…

Saya gak tahu, apakah gara-gara jadi manajer ini, badan Sigit jadi semakin kurus, atau karena terlalu diperdaya teman-teman dan pembimbingnya. Saya gak tahu juga, apakah gara-gara Sigit yang jadi manajernya, makanya tim UI belum bisa dapat juara.

[Sigit 2]: Borobudur itu asli gak sih?

Kalau lihat judulnya, sebenarnya kata [Sigit 2] hanya untuk menggambarkan bahwa kejadian ini berada di sekitar Sigit, mahasiswa Departemen Ilmu Administrasi UI, yang sedang jalan-jalan untuk pertama kalinya di Borobudur. Cerita versi aslinya bukan dari Sigit, tetapi dari kawannya yang menurut banyak orang “memiliki charisma luar biasa”. Namanya Alfie (saya tidak perlu menyebut siapa nama panjangnya). Dia juga mahasiswa di Departemen yang sama, hanya beda angkatan dengan Sigit. Sstt, dia ini seniornya Sigit!

Kalau gaya, gak usah dijelasin deh. Yang pasti begaya abis. Mau gaya putrid duyung, mau gaya cover boy, atau playboy juga bisa. Tapi bukan itu yang mau diceritakan dalam tulisan ini.

Tahu gak sih, berapa anak tangga yang harus dipijak sebelum kita sampai di puncak teratas Borobudur? Waduh… sumpah lupa. Padahal, saya sudah menghitungnya waktu ke sana. Maklum, otak sudah gak bisa diajak untuk berpikir lama-lama. Dengan ketinggian anak tangga yang berbeda-beda –dari mulai yang mudah dipijak karena cukup rendah sampai yang  -aduh… siapa sih yang ngebangun candi ini?- sekitar 40 sentimeter- an  bisa kita temui.

Terakhir saya ke candi ini sekitar tahun 1990-an awal banget. Waktu itu, dengan modal nekat, saya pergi dengan kawan SMA saya yang pernah sebangku waktu kelas dua. Perasaan saya, kayaknya anak tangganya tidak seperti yang saya pijak di tahun 2008 ini deh. Atau mungkin, karena waktu itu saya masih terbilang muda? He he he… wajar kali ya… Namanya juga ABG, kalau ‘manjat’ ukuran Borobudur sih kecil. Terus, saya juga lupa (sekali  lagi, ini karena faktor ‘U’), apakah dulu sudah ada pegangan di tangga menuju puncak. Kalau yang sekarang ini, sudah ada loh. Jadi lumayan membantu bagi  para ‘Mr. and Mrs. Uzur’ untuk tetap bisa menapaki tangga satu persatu.

Ngomong-ngomong tangga dan pegangannya, waktu abad 13 dulu saat wangsa Syailendra membangun candi ini, pegangan tangganya sudah ada atau belum ya? Masalahnya aneh banget terlihat.

Sepengetahuan saya, candi ini kan dibangun dari batu yang hingga sekarang saja masih diperdebatkan bagaimana batu-batu ini bisa saling menempel. Gak mungkin jaman dulu sudah ditemukan semen kan? Perdebatan yang ada seputar penggunaan telur untuk alat menempelkan batu. Jadi menurut Alfie (tokoh yang telah dikemukakan di atas), Nah, bagaimana cara pegangan tangga yang terbuat dari aluminium steel ini bisa ada menghiasi candi yang dari batu? Jadi aneh kan.  Apa iya, Syailendra dan kawan-kawan sudah mengenal aluminium ini?

Duh pemerintah Indonesia, mbok ya piker-pikir kalau mau nambahin aksesoris. Bagus sih idenya untuk membantu orang berpegangan dan menjaga keselamatan. Tapi, masak harus diberikan alat yang beda zaman? Pantes aja Borobudur sudah gak dijadiin “the world heritage” lagi. Wong sudah jelas. Kalo Borobudur itu, baru kok ditambahin aksesoris peninggalan abad 20… Luar Biasa kan?

 

 

 

 

 

 

 

                                                                                       Foto: Desy Haryati, 2008

Kuliah, di UI aja…

Bingung gak dapat diterima di perguruan tinggi negeri (PTN) banyak dialami lulusan SMA. Boro-boro dapat PTN yang bonafide, yang biasa-biasa aja susah banget. Gak usah cerita program studi favorit, yang gak laku aja tetap gak diterima. Mau jalur biasa atau jalur khusus tetap membingungkan. Tapi tidak bagi Farah Milkiyah.

Cewek lulusan SMAN 74 Jakarta ini malah pusing karena harus memilih di mana dia harus kuliah. PMDK di Universitas Diponegoro gagal diperoleh. Lewat jalur UMB (Ujian Masuk Bersama) memang dia gak diterima. Pilihannya hukum dan psikologi. Dua-duanya program studi yang peminatnya lumayan. Dari awal sebenarnya sudah dipastikan, Farah pasti gak bakal diterima. Prestasi akademisnya selama SMA biasa-biasa saja. Akhirnya, dia coba lewat jalur lain yaitu kelas paralel Universitas Indonesia (UI). Dia memilih Sastra Perancis. Lewat program Vokasi (juga di UI) dia memilih Penyiaran. SNMPTN dia pilih Sastra Inggris UNJ. Dilalahnya, tiga-tiganya lolos! Siapa yang tidak takjub.

Dengan kondisi seperti ini, alhasil Farah pusing luar biasa. Orangtuanya ingin dia masuk UNJ. Jauh lebih murah ketimbang UI. Setelah perenungan yang memakan waktu, tenaga, dan emosi, akhirnya dia memutuskan untuk memilih D3 Penyiaran. Yang lain… ya mudah-mudahan tahun depan masih bisa coba lagi…

Selamat ya, De… Semoga berhasil dengan kuliahnya. Buktikan kamu bertanggungjawab dengan pilihan kamu…

musim “sertifikasi”

Bagi banyak orang, bau keringat menjadi suatu masalah besar. Ada orang yang akhirnya mati-matian mencari obat dan bahkan sampai melakukan operasi untuk mengurangi hormon yang bikin badan jadi bau ini. Biayanya, tentu saja gak sedikit.

Tapi ada satu orang yang gak seperti ini. Gak perlu pakai obat “ketek” segala. Dalam kondisi apapun, ketiaknya ini tetap wangi kok, walaupun hanya bermodalkan sedikit parfum murah yang ada di mini market manapun juga.

Pernah suatu ketika ketika saya duduk di boncengan motornya, baju kerjanya sudah kuyup oleh keringat. Si Bapak ini hanya senyum-senyum aja, sambil bilang, “Saya udah keringatan tiga kali hari ini.” Puah… luar biasa. Walaupun dalam kondisi basah begini, untunglah tak ada bau keluar dari badannya. Sambil malu-malu menanyakannya, saya penasaran, apa yang membuatnya tetap wangi sepanjang hari. Dengan keyakinannya, si Bapak ngasih jawaban begini, “Mau tau gak, sejak lahir, keringat saya itu sudah bersertifikat.” Meledaklah tawa saya. Gini hari, ternyata bukan hanya guru atau dosen yang mesti di sertifikasi, tetapi juga keringat. Ada-ada aja.