[Sigit 2]: Borobudur itu asli gak sih?

Kalau lihat judulnya, sebenarnya kata [Sigit 2] hanya untuk menggambarkan bahwa kejadian ini berada di sekitar Sigit, mahasiswa Departemen Ilmu Administrasi UI, yang sedang jalan-jalan untuk pertama kalinya di Borobudur. Cerita versi aslinya bukan dari Sigit, tetapi dari kawannya yang menurut banyak orang “memiliki charisma luar biasa”. Namanya Alfie (saya tidak perlu menyebut siapa nama panjangnya). Dia juga mahasiswa di Departemen yang sama, hanya beda angkatan dengan Sigit. Sstt, dia ini seniornya Sigit!

Kalau gaya, gak usah dijelasin deh. Yang pasti begaya abis. Mau gaya putrid duyung, mau gaya cover boy, atau playboy juga bisa. Tapi bukan itu yang mau diceritakan dalam tulisan ini.

Tahu gak sih, berapa anak tangga yang harus dipijak sebelum kita sampai di puncak teratas Borobudur? Waduh… sumpah lupa. Padahal, saya sudah menghitungnya waktu ke sana. Maklum, otak sudah gak bisa diajak untuk berpikir lama-lama. Dengan ketinggian anak tangga yang berbeda-beda –dari mulai yang mudah dipijak karena cukup rendah sampai yang  -aduh… siapa sih yang ngebangun candi ini?- sekitar 40 sentimeter- an  bisa kita temui.

Terakhir saya ke candi ini sekitar tahun 1990-an awal banget. Waktu itu, dengan modal nekat, saya pergi dengan kawan SMA saya yang pernah sebangku waktu kelas dua. Perasaan saya, kayaknya anak tangganya tidak seperti yang saya pijak di tahun 2008 ini deh. Atau mungkin, karena waktu itu saya masih terbilang muda? He he he… wajar kali ya… Namanya juga ABG, kalau ‘manjat’ ukuran Borobudur sih kecil. Terus, saya juga lupa (sekali  lagi, ini karena faktor ‘U’), apakah dulu sudah ada pegangan di tangga menuju puncak. Kalau yang sekarang ini, sudah ada loh. Jadi lumayan membantu bagi  para ‘Mr. and Mrs. Uzur’ untuk tetap bisa menapaki tangga satu persatu.

Ngomong-ngomong tangga dan pegangannya, waktu abad 13 dulu saat wangsa Syailendra membangun candi ini, pegangan tangganya sudah ada atau belum ya? Masalahnya aneh banget terlihat.

Sepengetahuan saya, candi ini kan dibangun dari batu yang hingga sekarang saja masih diperdebatkan bagaimana batu-batu ini bisa saling menempel. Gak mungkin jaman dulu sudah ditemukan semen kan? Perdebatan yang ada seputar penggunaan telur untuk alat menempelkan batu. Jadi menurut Alfie (tokoh yang telah dikemukakan di atas), Nah, bagaimana cara pegangan tangga yang terbuat dari aluminium steel ini bisa ada menghiasi candi yang dari batu? Jadi aneh kan.  Apa iya, Syailendra dan kawan-kawan sudah mengenal aluminium ini?

Duh pemerintah Indonesia, mbok ya piker-pikir kalau mau nambahin aksesoris. Bagus sih idenya untuk membantu orang berpegangan dan menjaga keselamatan. Tapi, masak harus diberikan alat yang beda zaman? Pantes aja Borobudur sudah gak dijadiin “the world heritage” lagi. Wong sudah jelas. Kalo Borobudur itu, baru kok ditambahin aksesoris peninggalan abad 20… Luar Biasa kan?

 

 

 

 

 

 

 

                                                                                       Foto: Desy Haryati, 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s