Di mana hak anak? [1]

Sabtu, 15 November 2008 yang lalu, saya, suami, adik, dan anak saya menonton James Bond yang terbaru, Quantum of Solace. Terus terang, film 007 ini tidak pernah saya tinggalkan karena saya adalah penggemar Bond, sang agen Inggris ciptaan Ian Flemming. Film akan diputar 15.10, jadi kami mengantri pukul 14.30. Kami mendapatkan bangku agak ke depan karena penuhnya. Sambil menunggu, kami mengamati sekeliling Platinum Screen di Margo City, Depok. Ada yang sedang duduk berduaan tanpa menghiraukan lingkungan sekitar, ada yang berkerumun karena rombongan, ada yang akhirnya karena menunggu lama malah memakan terus jagung meleduk (popcorn). Pokoknya banyak aktivitas lah. Saya tertarik memperhatikan dua orang anak balita yang sedang kejar-kejaran di depan Studio 3. Ayah dan Ibunya duduk di lantai memperhatikan. Tidak lama kemudian datang juga sepasang suami isteri dengan dua anak balita membeli tiket Studio 3. Bukankah studio ini memutar film 17 tahun ke atas?

Pukul 15.00 ada 3 orang anak usia SMP datang dan juga membeli tiket James Bond. Loh, umurnya berapa sih anak-anak ini? Ketika film hampir dimulai, tiba-tiba ada dua orang perempuan sambil menggandeng seorang anak laki-laki (sekali lagi, masih balita kayaknya) dan duduk di deret depan saya.

Ada apa sebenarnya dalam konteks ini? Coba perhatikan film-film James Bond selama ini yang kemudian melahirkan istilah ‘wanita-wanita bond’. Mereka biasanya adalah perempuan yang seksi, dengan pakaian sedikit terbuka, dan juga berani melakukan adegan yang ‘berani’.

Coba bandingkan kondisi tersebut dengan siapa saja penonton film. Apakah pantas, 5 anak balita ini dan tiga anak SMP ada di dalam studio yang memutar film dewasa? Lantas penjelasan apa yang dapat diberikan orangtua ketika anak bertanya “Mengapa Bond melakukan itu” atau “Itu apa sih?” saat beberapa adegan sedang diputar. Pertanyaan-pertanyaan sederhana dan wajar yang diajukan oleh anak kecil.

Di mana tanggungjawab orangtua? Ketika banyak orang dan lembaga berusaha peduli untuk mengembalikan hak Lutviana Ulfa (anak usia 11 tahun yang kemudian dinikahi Syech Pujiono) agar tidak kehilangan masa kecil dan pendidikannya, apakah mereka juga tidak memperhatikan hak anak-anak lain untuk memperoleh hiburan yang sehat? Kalau kejadiannya seperti ini, apakah pemerintah tidak bisa melakukan penindakan atas pelanggaran hak anak (Lihat UU 23 Tahun 2002) ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s