Keluarga BESAR ku

Coba perhatikan baik-baik foto di atas. Salah satu komentar tetangga saya melihat foto tersebut adalah: ” Ini keluarga BESAR ya?” “Wah, pak Yasin imut banget”, atau “Gak salah tuh, foto sampai penuh begitu padahal cuma berempat?”

Nah itulah keluarga BESAR ku. Hobi: nyicipin kuliner alias makan makanan yang enak, tidur, dan nonton film. Makanya, semuanya jadi BESAR.

Advertisements

INDAH DUNIA

Indahnya dunia jika semua orang saling cinta
Dengan penuh ketulusan

Indahnya dunia jika semua orang saling sayang
Dengan penuh keikhlasan

Indahnya dunia jika semua orang saling kasih
Dengan penuh kerelaan

Jangan biarkan ini berakhir
Hanya karena salah kata
Hanya karena salah ucap
Hanya karena salah sangka

Biarkan indahnya dunia tetap bisa kita reguk untuk
10, 20, atau 30 tahun lagi
Sepanjang usia ini
Bersama mu….
bali

Welcome to the Real World (2); Islam Yes, Gaul OK

Ini cerita lain di balik LPMPS Kuningan. Kadang, saya bingung dengan banyak mahasiswa yang kaget dengan kegiatan lapangan macam LPMPS ini. Yang tadinya biasa tidur di springbed, ternyata harus tidur hanya beralaskan tikar atau sleeping bag. Biasanya buang air besar di wc duduk, terpaksa harus jongkok. Biasanya gak pernah beres-beres rumah sekarang harus nyupir (alias nyuci piring). Pokoknya lengkaplah.

Tapi bagi saya, hanya ada satu mahasiswa yang paling saya acungkan jempol. Namanya BAGUS (Nama lengkap terpaksa disamarkan, karena takut di kudeta teman-temannya). Laki-laki asli Bali (saya tebak karena menggunakan nama Bali). Sesuai dengan namanya, orangnya juga bagus kok. Anak-anak kecil di Kuningan memanggil dia dengan sebutan Kak Ridho (itu loh Ridho Rhoma, anaknya Rhoma Irama, yang lagi tenar dengan dangdut masa kininya). Agamanya, Alhamdulillah luar biasa, tapi pergaulannya juga oke. Ditambah lagi, Pintar. Lengkap sudah! Makanya, saya sih pengen, nih anak bisa jadi menantu saya, ha… ha… ha… Tapi masalahnya dia mau gak ya?

Kalau Bagus membaca ini, anggap saja ini keisengan Mbak Lina semata, yang lagi curhat karena gak sempat nulis di bu-cur waktu di lapangan.

 

Welcome to the Real World (1)

Latihan Praktik Metode Penelitian Sosial (LPMPS) 2009 di Kuningan baru aja usai. Ternyata, LPMPS kali ini banyak membawa petaka. Dari tim mobile yang lupa jalan, peserta yang dirawat di rumah sakit dan akhirnya dipulangin ke Jakarta (untung orangtuanya mau jemput!), panas tinggi dan batuk yang merajalela di Linggasana, bajak laut yang berserakan di Linggamekar (yang ini ada indikasi ketularan dari yang punya desa karena beliau juga sakit mata!), sampai jemuran yang bertebaran di atas kepala (kelompok Peusing). Tapi dari semuanya, saya bisa ambil sedikit pelajaran.

Ngomong-ngomong usia, saya ternyata tidak muda lagi, dan masalahnya saya baru sadar sekarang. Ha ha ha…. Jadi badan ini udah gak kuat. Buktinya, jam sepuluh malam aja, udah pegen tidur. Atau mungkin gara-gara kemarin baru sakit lama ya… Ditambah lagi lingkungan yang semakin tidak ramah. Cuaca jelek banget. Dingin tapi panas, panas tapi dingin. Dingin gak panas-panas, dan panas susah jadi dingin. Pokoknya saya hanya bisa bilang bahwa semuanya karena ulah manusia. Alam jadi murka. Belum lagi, ternyata mahasiswa sekarang jauh lebih manja disbanding mahasiswa jadul. Perasaan saya, waktu saya jadi peserta LPMPS tahun 1993, jauh lebih berat. Dosen yang begitu perfect, Mbak Iva, membuat saya menjadi orang yang tangguh. Mbak Vida membuat saya menjadi orang yang peduli lingkungan.

Kembali ke inti tulisan, walaupun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, Kuningan yang memiliki ciri khas ‘mendaki gunung, melewati lembah, sungai mengalir indah, ke samudra, bersama-sama teman bertualang’ (yang ini persis lagunya Ninja Hattoru), yang menyebalkan sih bukan masalah lokasinya. Tapi, pelitnya itu loh! Tahun lalu makan Rp. 17.500 udah mewah. Sekarang Rp. 22.000 masih aja kurang. Kalau inflasi ya, jangan gede-gede lah. Belum lagi waktu mahasiswa ngadain acara semacam 17-an, eh anak-anak di sana nyangka hadiahnya Playstation dan Kulkas. Saya bingung, ini desa apa kota?

Tapi semua tetap ada hikmahnya kok. Saya tetap bangga dengan kegiatan ini. Biar mahasiswa sadar, hidup bangsa ini bukan seperti hidupnya saja. Masih ada hidup orang-orang lain.