Welcome to the Real World (1)

Latihan Praktik Metode Penelitian Sosial (LPMPS) 2009 di Kuningan baru aja usai. Ternyata, LPMPS kali ini banyak membawa petaka. Dari tim mobile yang lupa jalan, peserta yang dirawat di rumah sakit dan akhirnya dipulangin ke Jakarta (untung orangtuanya mau jemput!), panas tinggi dan batuk yang merajalela di Linggasana, bajak laut yang berserakan di Linggamekar (yang ini ada indikasi ketularan dari yang punya desa karena beliau juga sakit mata!), sampai jemuran yang bertebaran di atas kepala (kelompok Peusing). Tapi dari semuanya, saya bisa ambil sedikit pelajaran.

Ngomong-ngomong usia, saya ternyata tidak muda lagi, dan masalahnya saya baru sadar sekarang. Ha ha ha…. Jadi badan ini udah gak kuat. Buktinya, jam sepuluh malam aja, udah pegen tidur. Atau mungkin gara-gara kemarin baru sakit lama ya… Ditambah lagi lingkungan yang semakin tidak ramah. Cuaca jelek banget. Dingin tapi panas, panas tapi dingin. Dingin gak panas-panas, dan panas susah jadi dingin. Pokoknya saya hanya bisa bilang bahwa semuanya karena ulah manusia. Alam jadi murka. Belum lagi, ternyata mahasiswa sekarang jauh lebih manja disbanding mahasiswa jadul. Perasaan saya, waktu saya jadi peserta LPMPS tahun 1993, jauh lebih berat. Dosen yang begitu perfect, Mbak Iva, membuat saya menjadi orang yang tangguh. Mbak Vida membuat saya menjadi orang yang peduli lingkungan.

Kembali ke inti tulisan, walaupun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, Kuningan yang memiliki ciri khas ‘mendaki gunung, melewati lembah, sungai mengalir indah, ke samudra, bersama-sama teman bertualang’ (yang ini persis lagunya Ninja Hattoru), yang menyebalkan sih bukan masalah lokasinya. Tapi, pelitnya itu loh! Tahun lalu makan Rp. 17.500 udah mewah. Sekarang Rp. 22.000 masih aja kurang. Kalau inflasi ya, jangan gede-gede lah. Belum lagi waktu mahasiswa ngadain acara semacam 17-an, eh anak-anak di sana nyangka hadiahnya Playstation dan Kulkas. Saya bingung, ini desa apa kota?

Tapi semua tetap ada hikmahnya kok. Saya tetap bangga dengan kegiatan ini. Biar mahasiswa sadar, hidup bangsa ini bukan seperti hidupnya saja. Masih ada hidup orang-orang lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s