Home sweet home…

RUMAH LINAGambar di sebelah adalah rumah kami. Luarnya dicat ungu tua dan dalamnya hijau, my favourite colour.  Suami saya sih ikut aja.  Yang ngedisain semuanya saya. Walaupun atas sepersetujuan my lovely. Ceritanya, pilihan warna ini udah yang ketiga. Pertama kali beli, warnyanya hijau pupus. Kalau saya bilang sih, hijau buluk, seperti masuk kantor Kodim. Terus ganti warna kuning kinclong. Pokoknya UI banget deh, sesuai tempat kerja. Akhirnya, teman saya yang disain interior dateng mengunjungi rumah yang kinclong ini. Komentar dia sederhana, “Loe gak kasihan sama tetangga depan loe? Tiap hari silau ngelihat rumah loe.” Gitu ungkap mas Icuk.  Padahal, saya udah cinta sama warna kuning bali ini. Akhirnya, diputuskan mengganti warna jadi merah maroon. Ternyata, bukan maroon yang saya dapat malah ungu tua. Tapi, sumpah. Elegan, gak ada yang nyamain. Pokoknya beda deh dari tetangga. Jadilah tiga tahun ini setia menggunakan warna ungu.

Kolam ikanUkuran gak terlalu besar kok. Luas tanah 130 meter. Di depan masih ada ruang kosong sembilan meter persegi buat tanam-tanam bunga. Di belakang rumah selain ada kolam ikan 3 x 2 meter, masih ada tanah 14 meterbuat tanam-tanam sayuran. Lumayan, sebangsa katuk, daun singkong, lengkus, sirih, salam koja, dan cabe sih ada. Bahkan pernah panen singkong yang besarnya sebetis. Semua sisi berjendela. Jadi gak perlu pakai pendingin ruangan, dan yang pasti hemat listrik.

Nah… mau cerita tentang ngurus IMB dan Surat Tanah di Depok.

Dulu waktu beli dari pengembang, dijanjikan IMB dan SHGB (Sertifikat Hak Guna Bangunan). Setelah lunas, SHGB gak juga bisa diperoleh. Sampai tahun ketiga baru diperoleh, itupun sudah marah-marah dan mengancam akan mempidanakan pengembang. Tapi, tetap…. IMB belum dapat juga.

Akhirnya, dengan berbagai pertimbangan, mending ngurus sendiri. Biaya IMB 600 ribu rupiah (gak resmi, ada biaya tambahan), biaya SHM 1,02 juta, resmi ada tanda terimanya. Cepat… seluruhnya 2 minggu kelar. Akhirnya,  rumahku jadi istanaku. Resmi dan gak nyicil lagi.

Advertisements

Di mana hak anak? [2]

 

Membaca tulisan kompas Minggu (26 Juli 2009) tentang Pskikologi menggugah hati saya. Betul sekali. Anak sekarang terlalu banyak dibebani dengan banyak tuntutan. Mau masuk Sekolah Dasar (SD), ada syarat harus sudah bisa membaca, menulis, dan berhitung. Makanya, orangtua memutuskan ‘menyekolahkan’ anak di Taman Kanak-Kanak (TK), yang notabene bukan sekolahan. Namanya taman, berarti bermain, bukan belajar dan mengasah otak, sampai ada wisuda TK segala.

Menyaksikan acara Are You Smarter than 5th Grader kemarin, semakin membuat saya malas menyekolahkan anak di sekolah formal. Betapa tidak, di kelas 3 SD di Amerika sana, ada pelajaran ‘spelling’ atau mengeja. Nah, di sekolahan Indonesia, anak kelas 1 harus sudah lancar membaca. Kalau tidak, jaminan tidak akan naik kelas.

Orangtua sekarang pasti kelimpungan, setiap hari, anak akan dijejali dengan banyak pekerjaan rumah (PR). Tetangga saya yang sekolah di Pemuda Bangsa Depok harus mendatangkan guru privat hanya untuk menjawab PR anak-anaknya. Pertanyaan yang diberikan lebih layak dijadikan pertanyaan kelas 6 SD atau bahkan SMP. Kalau orangtua gagap teknologi dan gak ngerti internet, jangan berharap bisa menjawab pertanyaan ini. Belum lagi bahasa asing yang ‘karena alasan globalisasi’ juga mulai diterapkan untuk anak SD kelas 4, bahkan banyak playgroup yang berlomba-lomba mengajarkan bahasa asing sejak balita. Padahal, bahasa ibunya saja mereka belum lancar. Walhasil, banyak kosakata yang campur baur gak jelas. Akhirnya, dipilihnya les atau kursus bahasa Inggris.

Terkait dengan acara Are You Smarter than 5th Garder di atas, ada satu jawaban dari salah satu murid untuk pertanyaan Siapakah Presiden Pertama Cina? Dia menjawab Mauw. Padahal yang dimaksud adalah Mao. Toh, buat mereka gak jadi masalah hanya karena kesalahan pengejaan. Di Indonesia, ya jelas gak berlaku dong.

Itu semua terkait pelajaran. Nah, orangtua sekarang kepengen anaknya jadi artis dan langsung terkenal, sehingga bisa mendatangkan pundi-pundi dalam waktu singkat. Akhirnya, kursus modelling, musik, menyanyi, dan segala jenis ‘terpaksa’ diikuti si anak. Anak yang belum bisa mengambil keputusan untuk dirinya dan menolak segala penjajahan dengan alasan untuk masa depannya harus menerima dengan ‘lapang hati’ karena kalau tidak, ancaman akan keluar dari mulut orangtua.

Acara TV juga kurang mendukung. Indonesia Kids Choice Award 2009 yang dari, untuk, dan oleh anak ternyata diisi oleh pengisi acara dewasa dengan pakaian yang gak pantes buat anak-anak. Idola Cilik sama saja. Lagu-lagu yang dibawakan peserta adalah lagu untuk dewasa. Untung masih ada si Bolang yang menghibur anak-anak.

hutapuli22Kapan dong waktu bermain anak? Pantas banyak anak sekarang lebih cepat stress dan akhirnya malah jadi generasi yang memberatkan bangsa. Terlibat narkoba, seks bebas, dan hanya mengandalkan peran orangtua karena mereka tidak pernah diberikan kebebasan untuk menikmati waktunya.

Apakah kita akan terus berdiam?

Ditulis dalam rangka Hari Anak Nasional 23 Juli 2009.

Candi Prambanan… Lambang kekuasaan perempuan atas laki-laki?

Prambanan adalah candi Hindu yang terletak 17 kilometer dari pusat kota Yogyakarta. Candi ini dibangun pada abad ke-10 pada masa pemerintahan dua raja, Rakai Pikatan dan Rakai Balitung setinggi 47 meter. Dengan tinggi ini, berarti Borobudur yang merupakan candi Budha kalah tinggi dibanding Prambanan.

Ada sebuah cerita menarik dibalik pembangunan Prambanan. Legenda Bandung Bondowoso yang mencintai Roro Jonggrang. Walaupun Jonggrang tidak membalas cinta Bondowoso, Jonggrang tidak menyatakannya secara langsung. Dia memilih menguji cinta Bondowoso dengan membuat suatu permintaan yang susah dipenuhi oleh orang normal. Jonggrang meminta Bondowoso membuat candi dengan 1000 arca dalam semalam. Yah, namanya cinta, Bondowoso dengan segenap kemampuan dan kekuatan yang dimiliki (walaupun bukan kekuatan dia sepenuhnya) akhirnya berhasil membuat 999 arca. Tapi… inilah kehebatan Jonggrang. Daripada dia menyesal seumur hidup menikahi Bondowoso, lebih baik dia berbuat curang dengan meminta warga desa menumbuk padi dan membuat api besar agar kelihatan sudah pagi. Ayam juga dipaksa berkokok untuk menandakan pagi menjelang. Bondowoso yang kesal karena merasa dicurangi, akhirnya mengutuk Jonggrang menjadi arca yang ke-1000.Inilah yang akhirnya mengilhami judul tulisan ini.

Candi Prambanan sendiri (menurut cerita Pak Joko, yang jadi guide selama saya mengunjungi Prambanan) memiliki 3 candi utama di halaman utama, yaitu Candi Wisnu, Brahma, dan Siwa. Cerita lengkap tentang candi-candi ini, silakan baca dari tulisan penulis lain.

Candi Prambanan adalah salah satu tempat yang juga merasakan gempa Yogyakarta pada Mei 2006.

100_0290

Beberapa bangunannya rusak. Kerusakan yang dialami candi prambanan kebanyakan adalah runtuhnya bagian-bagian gunungan candi dan rusaknya beberapa batuan yang menyusun candi. Makanya, UNESCO melakukan renovasi dan rehabilitasi bangunan candi yang warisan budaya dunia nomor 642.

100_0291Tapi bukan masalah rehabilitasi yang dilakukan oleh UNESCO. Hanya saja, memang agak sulit mengembalikan candi seperti semula. Bangunan candi yang ada sekarang dibikin beton (yang pada masa dibangunnya candi ini belum diciptakan baja dan semen). Ukiran khas candi juga tidak bisa dikembalikan seperti sedia kala. Malah banyak ornamen candi yang masih berserakan di bawah. Saya semakin yakin, bahwa manusia dulu memang lebih pintar untuk membangun bangunan. Gak pake semen, gak pake baja, tapi kokoh. Gak pake alat canggih, tapi bisa bikin relief yang kaya dengan arti.

100_0304 Bahkan pak Joko juga bercerita, “dulu sih banyak batu candi yang diambil warga, bahkan untuk membangun rumah mereka. Sekarang sih gak lagi,” komentar Pak Joko waktu saya bertanya mengapa candi hanya dibatasi dengan kawat yang mudah dilalui orang, dan bagaimana penjagaan terhadap batu-batu candi yang belum sempat dikembalikan kepada bentuk aslinya.

Terakhir, hati-hati ketika mengajak anak-anak di bawah umur untuk melihat candi ini.  Prambanan adalah candi yang reliefnya memuat kisah Ramayana. 100_0309Ada beberapa penggambaran tentang hubungan seks pada relief yang ada. Jadi harus pintar-pintar menceritakannya kepada anak-anak.

Semua foto diambil penulis pada tanggal 6 Juli 2009.

Kisah perjalanan pertama kali ke luar Kota….

Kalau yang ini cerita tahun lalu waktu aku penelitian ke Sumba Timur. Kebetulan, buat aku sih, penelitian kemana aja udah biasa aku jalanin. Nah, penelitian ke Sumba Timur ini lumayan lucu. Aku ngajak seorang temanku, Retno Kusumastuti (yang ini nama benar, mudah-mudahan dia gak marah dan keberatan karena aku ceritain di blog ini. Tiba-tiba dia cerita, kalau di kopernya itu ada abon n kornet. Loh, emangnya mau kemping apa? Orang nginap di hotel kok bawa makanan kaleng begini. Rupanya, dia khawatir karena akan pergi ke daerah terpencil, dan Retno berpikiran kalau makanan di Sumba Timur pasti aneh dan dia akan kelaparan. Ha… ha… ha… Tapi mudah-mudahan pengalaman tersebut membuat Retno gak malu-maluin aku lagi.

Inilah tingkah orang saat pertama kali nginap di Hotel….

Ikut acara diskusi KPAI membuat aku punya pandangan sedikit tentang  peserta yang ikut dalam diskusi ini, alias behind the discussion.

Sekamar dengan dua orang baru (satu kamar bertiga !!) membuat aku yang bawel banget setiap harinya sedikit mengurangi volume dan intensitas berbicara. Mengamati tingkah laku orang itu enak loh. Yang satu kerja di rumah bersalin di Depok, lulusan D1. Yang satu lulusan S1 Kesejahteraan Sosial dan kerja di sebuah yayasan. Sebut aja yang pertama namanya Ida, dan yang kedua namanya Dwi.

Tiba-tiba ada satu komentar Ida ketika kami sedang bersiap-siap tidur. “Emang di hotel itu gak bisa pinjami mukena ya?” Sebelumnya, aku ceritain dulu satu hal kalau Ida memakai jilbab. Harusnya, dia sadar dong kalau pergi ke mana-mana harusnya bawa mukena dong. Biasanya sih aku bawa mukena, tapi berhubung lagi berhalangan (biasa …. Perempuan), ya nggak bawa deh. Makanya, aneh ketika akhirnya dia nelepon bagian informasi hotel dan meminta hotel cariin mukena (dan sajadah juga)! Satu lagi keanehan Ida. Eh, dia tiba-tiba komentar “Kok gak ada guling ya?” Capek deh, emangnya dia pikir ini rumahnya apa? Dalam sejarah aku jalan dan nginap di hotel, kayaknya hotel tuh gak pernah nyediain guling deh.

Yang satu lagi, Dwi, juga kayaknya baru nginap pertama kali di hotel. Kebetulan tempat kami menginap adalah hotel bintang 3 di kawasan Cisarua. Harusnya, dia tahu kalo hotel kayak gini pasti nyediain handuk dong. Nah… dia akhirnya menyesal karena tasnya jadi berat karena dia bawa-bawa handuk. Ha… ha… ha…

“Lebih cepat, lebih baik” tidak berlaku di sini

Perjalanan panjang dari Jakarta, menginap semalam di Yogyakarta untuk kemudian harus menyebrangi pelabuhan Ketapang menjadi kenangan indah yang harus tetap dikenang. Jam 3 sore, saat jam makan siang sudah terlewat, menyebabkan kami terpaksa berhenti di jalan raya menuju Ketapang untuk santap siang yang kesorean.

Rumah Makan Cawang Indah, menjadi pilihan. Nama Cawang bagi orang Jakarta adalah nama yang tak asing, pasti mengingatkan pada sebuah daerah di Jakarta Timur. Di rumah makan ini sudah ada segerombolan orang asing yang sedang dilayani oleh pramusaji restoran.

Karena sedikit kalap kelaparan, akhirnya pesan-memesan makanan cepat dilakukan. Saya memesan spaghetti bolognaise, suami saya memesan nasi ayam goreng kering, anak-anak saya memesan mie goreng dan steak campur.  Setelah komplain dan lebih dari 1 jam, barulah spaghetti pesanan saya datang. Dengan rasa yang tidak “nyuss” alias gak kerasa, terpaksa dimakan juga. Lapaaaar.  Sesi kedua datang mie goreng, yang juga dengan rasa hambar. Kurang bumbu. Pesanan ketiga datang, ternyata gak sesuai. Yang datang malah steak ayam. Ya sudahlah, daripada kelamaan. Terakhir… dengan wajah bersungut-sungut kecewa, pesanan suami saya datang. Nasi dan ayam goreng kering, yang ternyata tidak sesuai dengan harapan karena gak kering. Abang cuma nyolek-nyolek si ayam basah ini. Dia yang biasanya doyan makan jadi gak nafsu sama sekali.

Bubar judulnya.

100_0419100_0420

 

padahal jelas-jelas tertulis bahwa “Kepuasan Anda adalah Pelayanan Kami”.  Kalau bicara harga, standar. Pramusajinya kurang ramah (mungkin karena kami para pembelinya terlalu bawel, minta cepat semuanya). Jadilah wajah sang pramusaji ditekuk habis.

Saya jadi penasaran… apa sih penyebab lamanya pelayanan. Ternyata, setelah saya tanya-tanya dan observasi langsung ke dapur, yang ada satu koki dibantu satu orang. Kompor cuma 2… jadi… pantaslah lama. Akhirnya, supir, kernet, fotografer, dan tour guide membatalkan pesanan dan beralih membeli bakso malang yang lewat di depan resto. Jadilah… moto pak JK-Wiranto gak berlaku di sini. Lama ya lama… Lapar tetap lapar.

Hasil Survei Tim Universitas Indonesia

Kamis, 29 Jan 2009, | 112
Hasil Survei Tim Universitas Indonesia
Sumba Timur Layak 3 Kabupaten
 
WAINGAPU, Timex- Kabupaten Sumba Timur layak dimekarkan menjadi tiga kabupaten dan satu Kota. Itu berdasarkan skor tertinggi dari hasil kajian dan studi kelayakan tim independen asal Universitas Indonesia (UI) masing-masing,… Dr. Roy V. Salomo,M.Soc,Sc, Dr. Irvan Ridwan Maksum,Msi, Lina Miftahul Jannah,MSi, Muh. Azis Muslim,MSi dan Umanto,MSi.

Mereka memaparkan hasil survei tersebut pada Bupati, pimpinan dan anggota DPRD serta tokoh agama/masyarakat Sumba Timur di gedung nasional Umbu Tipuk Marisi, Rabu (28/1) kemarin.

Bupati Sumba Timur Gidion Mbilijora dalam sambutannya ketika memimpin pertemuan itu mengungkapkan, sejak awal, pihaknya menginginkan pemekaran Sumba Timur harus melalui pengkajian yang mendalam dan obyektif oleh tim independen atau bukan karena adanya keinginan segelintir elite politik yang haus kuasa.

Karena itu sejak dua tahun lalu melalui APBD, pemerintah bersama DPRD telah mengalokasikan dana untuk membiayai survei oleh tim independen dari UI.
“Dalam tim yang berasal dari Universitas Indonesia ini tidak ada orang NTT apalagi orang Sumba khususnya Sumba Timur. Ini hanya untuk menjaga independensi hasil kajian pemekaran itu,” tegasnya.

Sedangkan menurut dosen FISIP UI yang juga anggota Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah (DPOD) Prof. DR Eko Prasojo, di Indonesia saat ini masih terdapat 183 daerah yang menginginkan pemekaran termasuk Sumba Timur. Dari 183 daerah tersebut terangnya, 81 merupakan daerah kabupaten, sembilan kota dan 21 daerah provinsi.

Eko mengungkapkan hakekat dan tujuan dari sebuah pemekaran yakni, memperkuat partisipasi masyarakat, memperpendek jangkauan pelayanan publik dan mendesentralisasikan dana pembangunan.

Namun kendala yang dihadapi adalah masalah keuangan negara yang terbatas sementara masalah lain yang juga dihadapi daerah yang menginginkan pemekaran adalah terbatasnya sarana dan prasarana penunjang, jumlah penduduk dan luas wilayah.

Bahkan kata Eko, pemekaran sebuah wilayah bisa menyebabkan terjadi gesekan kepentingan politik masyarakat. Ia menegaskan, syarat fisik yang harus dipenuhi
sebuah wilayah yang menginginkan pemekaran sesuai PP No 78/2007, untuk kabupaten harus memiliki minimal lima kecamatan, kota empat kecamatan dan provinsi lima kabupaten termasuk lokasi calon ibukota, sarana dan prasarana pemerintahan. Selain itu juga harus melalui persetujuan DPRD, bupati/walikota/gubernur di wilayah tersebut.

“Untuk syarat tehnisnya, jumlah skornya harus minimal dan tidak boleh terdapat nilai merah pada empat faktor penentu,” paparnya. Hal senada disampaikan anggota tim kajian pemekaran Sumba Timur, Roy V. Salomo. Menurut Roy, dari hasil survei tersebut pihaknya menentukan tujuh skenario dengan skor nilai masing-masing karena memenuhi sejumlah indikator yang ditentukan. Untuk skenario pertama dengan skor nilai 380,32 jelasnya, pemekaran Sumba Timur menjadi dua Kabupaten dan satu kota.

Untuk kabupaten pertama dengan menggabungkan Kecamatan Lewa, Lewa Tidahu, Haharu, Kanatang, Nggaha Ori Angu, Katala Hamulingu, Pinu Pahar dan Kecamatan Tabundung.
Kabupaten kedua, Kecamatan Kahaungu Eti, Matawai Lapau, Paberiwai, Karera, Ngadu Ngala, Mahu, Umalulu, Rindi, Pahunga Lulu dan Kecamatan Wulla Waijelu.

Untuk Kota di skenario pertama itu demikian Roy, dengan menggabungkan Kecamatan Kambata Mapa Mbuhang, Pandawai, Waingapu, Kambera dan Kecamatan Kambera. Masih menurut Roy, untuk skenario kedua dengan skor nilai 380,92, menggabungkan Kecamatan Lewa, Lewa Tidahu, Haharu, Kanatang, Nggaha Ori Angu, Katala Hamulingu, Pinu Pahar dan Kecamatan Tabundung menjadi 1 Kabupaten pertama.

Kabupaten kedua ujarnya, terdiri dari Kecamatan Kahaungu Eti, Matawai Lapau, Paberiwai, Karera, Ngadu Ngala, Mahu, Umalulu, Rindi, Pahunga Lodu dan Kecamatan Kecamatan Wulla Waijelu sedangkan untuk Kota mencakup Kecamatan Kanatang, Pandawai, Waingapu, Kambera dan Kecamatan Kambata Mapa Mbuhang.

Ia memaparkan, dari sejumlah skenario tersebut skor tertinggi memekarkan Sumba Timur menjadi tiga kabupaten dan satu Kota dengan skor nilai 383,33. Skor tersebut sambungnya, diperoleh dari skenario menggabungkan Kecamatan Lewa, Lewa Tidahu, Haharu, Nggaha Ori Angu, Katala Hamulingu dan Kecamatan Tabundung menjadi Kabupaten pertama. Kabupaten kedua tandasnya, terdiri dari Kecamatan Kahaungu Eti, Umalulu, Rindi, Pahunga Lodu dan Kecamatan Wulla Waijelu.

Kabupaten ketiga gabungan dari Kecamatan Pinu Pahar, Matawai Lapau, Paberiwai, Karera, Ngadu Ngala dan Kecamatan Mahu dan untuk Kota terdiri dari, Kecamatan Kanatang, Pandawai, Waingapu, Kambera dan Kecamatan Kambata Mapa Mbuhang.

Ketua DPRD Palulu Pabundu Ndima, mengkritik indikator yang digunakan tim kajian per wilayah Kecamatan karena tidak sesuai fakta yang ada misalnya, jumlah balai pertemuan di wilayah Kecamatan Kota Waingapu dalam data tim tersebut tercantum hanya satu buah sementara jumlah balai pertemuan di Kecamatan Karera sebanyak
18 buah.

Menanggapi hal itu, anggota Tim kajian, Miftahul Jannah menegaskan, data tersebut diperolehnya langsung dari Camat Kota. “Tapi ini bukan harga mati kalau terjadi kesalahan data, maka kami akan lakukan perbaikan lagi,” kata Jannah. Diakhir acara, Bupati Gidion memberikan deadline waktu pada Tim selama seminggu untuk melakukan perbaikan data dimaksud melalui Bagian Tata Pemerintahan Setda Sumba Timur.(jun)

  Dimuat dalam HARIAN PAGI TIMOR EXPRESS KUPANG – Cerdas dan Konsisten