Di mana hak anak? [2]

 

Membaca tulisan kompas Minggu (26 Juli 2009) tentang Pskikologi menggugah hati saya. Betul sekali. Anak sekarang terlalu banyak dibebani dengan banyak tuntutan. Mau masuk Sekolah Dasar (SD), ada syarat harus sudah bisa membaca, menulis, dan berhitung. Makanya, orangtua memutuskan ‘menyekolahkan’ anak di Taman Kanak-Kanak (TK), yang notabene bukan sekolahan. Namanya taman, berarti bermain, bukan belajar dan mengasah otak, sampai ada wisuda TK segala.

Menyaksikan acara Are You Smarter than 5th Grader kemarin, semakin membuat saya malas menyekolahkan anak di sekolah formal. Betapa tidak, di kelas 3 SD di Amerika sana, ada pelajaran ‘spelling’ atau mengeja. Nah, di sekolahan Indonesia, anak kelas 1 harus sudah lancar membaca. Kalau tidak, jaminan tidak akan naik kelas.

Orangtua sekarang pasti kelimpungan, setiap hari, anak akan dijejali dengan banyak pekerjaan rumah (PR). Tetangga saya yang sekolah di Pemuda Bangsa Depok harus mendatangkan guru privat hanya untuk menjawab PR anak-anaknya. Pertanyaan yang diberikan lebih layak dijadikan pertanyaan kelas 6 SD atau bahkan SMP. Kalau orangtua gagap teknologi dan gak ngerti internet, jangan berharap bisa menjawab pertanyaan ini. Belum lagi bahasa asing yang ‘karena alasan globalisasi’ juga mulai diterapkan untuk anak SD kelas 4, bahkan banyak playgroup yang berlomba-lomba mengajarkan bahasa asing sejak balita. Padahal, bahasa ibunya saja mereka belum lancar. Walhasil, banyak kosakata yang campur baur gak jelas. Akhirnya, dipilihnya les atau kursus bahasa Inggris.

Terkait dengan acara Are You Smarter than 5th Garder di atas, ada satu jawaban dari salah satu murid untuk pertanyaan Siapakah Presiden Pertama Cina? Dia menjawab Mauw. Padahal yang dimaksud adalah Mao. Toh, buat mereka gak jadi masalah hanya karena kesalahan pengejaan. Di Indonesia, ya jelas gak berlaku dong.

Itu semua terkait pelajaran. Nah, orangtua sekarang kepengen anaknya jadi artis dan langsung terkenal, sehingga bisa mendatangkan pundi-pundi dalam waktu singkat. Akhirnya, kursus modelling, musik, menyanyi, dan segala jenis ‘terpaksa’ diikuti si anak. Anak yang belum bisa mengambil keputusan untuk dirinya dan menolak segala penjajahan dengan alasan untuk masa depannya harus menerima dengan ‘lapang hati’ karena kalau tidak, ancaman akan keluar dari mulut orangtua.

Acara TV juga kurang mendukung. Indonesia Kids Choice Award 2009 yang dari, untuk, dan oleh anak ternyata diisi oleh pengisi acara dewasa dengan pakaian yang gak pantes buat anak-anak. Idola Cilik sama saja. Lagu-lagu yang dibawakan peserta adalah lagu untuk dewasa. Untung masih ada si Bolang yang menghibur anak-anak.

hutapuli22Kapan dong waktu bermain anak? Pantas banyak anak sekarang lebih cepat stress dan akhirnya malah jadi generasi yang memberatkan bangsa. Terlibat narkoba, seks bebas, dan hanya mengandalkan peran orangtua karena mereka tidak pernah diberikan kebebasan untuk menikmati waktunya.

Apakah kita akan terus berdiam?

Ditulis dalam rangka Hari Anak Nasional 23 Juli 2009.