Aurat dan Kecantikan Sang Putri Indonesia

Sekali lagi… Kecantikan mengalahkan segalanya. Menyaksikan penampilan pemilihan Putri Indonesia malam minggu kemarin (10/10/09) di salah satu stasiun swasta nasional membuat saya semakin tidak yakin dengan istilah perempuan cantik.

Perempuan Indonesia adalah perempuan yang memang diciptakan Tuhan menjadi makhluk yang cantik. Dengan rambut hitam, kulit sawo matang, dan wajah yang unik, membuat banyak lelaki ‘bule’ tertarik untuk menjadikan mereka pasangannya. Tapi kemudian, perempuan yang cantik ini di’eksploitasi’ oleh pengusaha kecantikan dengan membuat analagi bahwa perempuan cantik seperti kebanyakan perempuan bule, rambut pirang blonde, kulit putih, mata biru, dan beragam ciri lainnya yang melekat di benua Eropa sana. Pemutih kulit, cat rambut, dan lensa mata beragam warna mewarnai hampir seluruh iklan kecantikan. Dengan alasan kesehatan, semua berlomba-lomba melakukan promosi. Apakah ini yang dinamakan cantik?

Lain lagi seorang Qori Sandieoriva yang ngakunya orang Aceh sehingga bisa mewakili propinsi ini. Mahasiswa UI Sastra Perancis ini sempat berucap dalam acara pemilihan bahwa dia sudah meminta izin Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam dan Menteri Pemberdayaan Perempuan untuk membuka jilbab yang di NAD sana memang diwajibkan untuk memakai jilbab karena rambut juga merupakan aurat bagi perempuan. Apa iya, jilbab bisa dibuka hanya karena izin pimpinan negeri? Namun, sekali lagi dengan alasan kecantikan, Qori mengatakan bahwa alasannya membuka jilbab adalah ingin menunjukkan bahwa rambut juga melambangkan keindahan perempuan. Loh… makanya Islam melarang dipertontonkan karena ini aurat!

Lihat pakaiannya, pada putaran pertama (10 besar), pakaian yang dikenakannya (bikinan Anne Avantie) masih sedikit tertutup dan berbeda dengan 37 kontestan yang lain. Putaran kedua (5 besar) pun sang putri Aceh ini juga masih dengan pakaian yang cukup sopan. Tapi… apa lacur. Pada putaran ketiga (tiga besar), 3 kontestan asal Maluku Utara, Sumatera Barat, dan NAD memakai kebaya modern dengan bagian depannya cukup terbuka untuk mempertontonkan sedikit kemontokan dan dengan belahan kain yang juga cukup tinggi, membuat mata pria pasti terbuka tak berkedip(maaf kalau kalimat ini begitu vulgar). Qori…Qori… ini bukan cuma sekedar membuka jilbab.

Satu lagi, dalam acara di stasiun TV yang lain, Qori juga menyatakan bahwa ia akan siap menjalankan segala konsekuensinya. Apa maksud pernyataannya? Apakah dia tahu, bahwa tahun depan saat pemilihan Miss Universe 2010, dirinya harus menghadapi cemoohan masyarakat dengan aurat yang harus semakin dibuka melalui pakaian renang? Apakah nantinya dia akan dengan senang hati berjalan goyang pinggul dengan bikini dan hak tinggi?

Apakah ia siap menghadapi tantangan ke depan, menyandingkan agama untuk akhirat dengan sosok kecantikan yang dimilikinya untuk duniawi? Keinginan menjadi Putri Indonesia telah mengalahkan keyakinan yang dimilikinya. Tapi itulah pilihan, itulah keinginan. Kita tidak pernah tahu apakah Qori sudah menyadari konsekuensi yang lebih panjang untuk sesaat menggunakan mahkota Puteri?

6 thoughts on “Aurat dan Kecantikan Sang Putri Indonesia”

  1. menarik membaca tulisanmu mbak, media kecantikan telah mengalahkan prinsip. kayaknya hal2 seperti hrs juga diimbangi, bahwa masih banyak kok perempuan yg tetap menjaga auratnya namun tetap eksis dan diakui keberadaannya…, saya belajar banyak dari teman2 saya yg tetap menutup auratnya mesti sdh melanglang buana ke LN,tetap dihargai atas kemampuannya….tanpa hrs meninggalkan prinsipnya….so jgn kalah hanya karena media eksploitasi semata…

  2. Wah… mungkin karena rambut indahnya dia bisa jadi Putri Indonesia… Cari tahu, mba niken… Berapa biaya yang dikeluarkan untuk perawatan rambutnya itu…

  3. kasihan tuh si Qori, masalah jilbab bukan urusan dengan PAk Gubernur tetapi dengan ALLAH. Qori baru saja menjual ayat-ayat alquran dengan harga yang sedikit. Bertaubatlah Qori sebelum terlambat. Ingat Allah Maha Kuasa.
    Salam buat mbak Lina, semangatnya luar bisa!

  4. Akhirat dikalahkan dengan kepentingan dunia. Memang ada tiga hal yang musti diwaspadai, yakni Harta, Tahta, dan Wanita. Baik buruknya suatu negeri ditentukan dari kaum hawanya. Maka sudah tak lazim lagi Indonesia memakai gelar negara muslim terbesar di dunia karena sudah dinodai dengan hal-hal yang demikian. Hemat kata, sudah banyak umat muslim di Indonesia yang sudah tidak mengenal jati diri seorang muslim itu sendiri, tidak mengenal kemusliman yang ada di dalam dirinya dan bagimana seharusnya bertindak sebagai seorang muslim. Citra muslim pun akan menjadi rendah. Maka demikian adanya bahwa bumi sudah tua, dan hari kiamat semakin dekat.
    Manteb bener dah bahasa saya, hehehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s