Pelajaran dari Kota Pasir [1]

Kota Pasir? Apaan sih? Sederhana saja, kota yang berpasir. Bukan… ini bukan gurun atau di Arab sana. Tapi inilah gambaran sebuah kota di Indonesia. Namanya Palangka Raya. Tanggal 3-8 Desember 2009 ini, saya melakukan penelitian mengenai Potret Kemiskinan di Kota Palangka Raya. Sebenarnya 5-7 April 2009 yang lalu, saya sudah berkunjung ke beberapa titik di kota ini dan melakukan wawancara kepada penduduk.

Jangan bayangkan kota ini seperti kota lain di Jawa atau Sumatera. Untuk mengunjungi semua daerah di kota ini, tidak dengan mudah bisa digunakan jalur darat (mobil). Ada wilayah yang harus dikunjungi hanya dengan menggunakan klotok, jukung, atau speedboat. Perjalanan tanggal 5-7 April saya gunakan speedboat Dinas Perhubungan Kota. Wah… pengalaman yang tidak terlupakan. Bayangkan, untuk mencapai dermaga agar saya bisa menggunakan boat, perlu waktu yang cukup lama, sekitar 1 jam (daerah Tengkiling). Jalannya pun beragam, dari mulai jalan aspal, jalan berbatu, hingga jalan tanah.

Sinyal telepon genggam tidak bisa dipastikan. Provider CDMA sih judulnya ke laut aja. Nah yang GSM (Kebetulan saya dengan teman-teman dari Universitas Indonesia menggunakan jenis provider yang berbeda-beda). Pertama-tama XL yang lenyap, kemudian diikuti dengan Mentari, dan terakhir yang bertahan adalah Simpati. Tapi, jangan senang dulu, keberadaan Simpati akhirnya lenyap juga setelah speedboat melaju menjauhi dermaga. Dan setelah sampai di dermaga yang dituju pun, sinyalnya naik turun. Hanya ada di beberapa titik, misalnya kalau dekat dengan pohon besar, atau di sekitaran dermaga yang ada batunya. Gak tahu kenapa bisa begitu.

Perjalanan menuju kelurahan terjauh sekitar 3-3,5 jam. Nah, karena sudah jam 12, kami makan siang di atas restoran terapung. Mau tahu menunya? Sayur rotan dan ikan berkuah (seperti gulai tapi tidak pedas) dan juga ikan goreng. Tak ada akar, rotan pun jadi. Begitu peribahasa yang dibalik.

Bulan Desember ini ketika saya kedua kalinya berangkat ke Palangka Raya, telah ada sedikit perubahan. Jalan menjadi licin. Kayaknya penyebabnya satu. Pak SBY sedang berkunjung di sana untuk membuka Mukernas seluruh Gubernur se Indonesia.

Kami berdelapan berangkat ke sana (saya-Lina Miftahul Jannah, Muh Azis Muslim, M. Imam Alfie Syarien, Umanto Eko, Heri Fathurahman, Desy Haryati, Neni Susilawati, dan Tedi Sukmarandani). Judulnya luar biasa. Capek berhadapan dengan aparat yang kerjanya lelet sampai akhirnya untuk urusan surat-menyurat dikerjakan sendiri. Mau marah sama lurah yang telah menelantarkan warganya karena lebih banyak di kota (rumahnya) ketimbang di tempat tugasnya. Bahkan ada kelurahan yang kantornya seperti kantor sarang laba-laba dan berdebu. Memang tidak semuanya seperti itu. Ada juga kok orang-orang yang komitmennya luar biasa. Beberapa staf di BPM misalnya patut diacungi jempol. Pak Albert (yang kalau dipanggil Pak Zul menjadi Alberts), pak Zul, pak Widigdo, Pak Khair, dan Pak Firdaus (dua yang terakhir ini supir setia kami).

Belum lagi harga kue yang selangit. Harganya 2 kali lipat dari Jakarta. Harga air mineral gelas Rp. 25.000 satu dusnya (di Jakarta merek yang seperti ini hanya Rp. 12.000). Sewa klotok juga mahal. Jarak dekat Rp. 200.000 sekali jalan. Dulu, waktu di Kalimantan Timur, saya hanya membayar Rp. 60.000 sekali jalan. Sewa speedboat bahkan sampai Rp. 2.000.000.

Kami menginap di hotel Melati Wisata, sempat ketemu kelabang 2 ekor (induk dan anaknya) dan seekor kodok yang cukup besar. Wah… aneh, hotel apa kebun binatang. Setiap pagi, dikasih sarapan nasi, sayur, dan ikan goreng. Malah pernah dikasih ikan asin. Sarapan apa makan siang?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s