Susahnya Belajar Konsonan

Apa sih konsonan? Itu loh huruf mati yang gak berbunyi kalau tidak diikutsertakan huruf vokal. Dengan kata lain, semua huruf dalam alfabetikal selai a, i, u, e, o. Misalnya “kt” walaupun kalau dieja dengan bahasa Indonesia akan menjadi “kate” tapi kalau kita baca sebagai suatu kata menjadi tidak bisa dan mungkin tidak bermakna. Akan tetapi, kalau huruf-huruf ini dirangkai dengan huruf vokal misalnya “a”, maka akan menjadi “kata”, atau jika dikombinasikan dengan huruf vokal “I” dan “a” menjadi “kita”, atau jika kita ganti huruf “I’ menjadi “o” akan menjadi “kota”. Tulisan ini bukan mengajarkan merangkai huruf menjadi kata, atau kata menjadi kalimat. Tulisan iniakan sedikit memberi contoh bagaimana sukarnya seorang anak usia 4 tahun menggunakan konsonan dalam satu kata. Misalnya Jakarta. Pada kata ini ada dua huruf konsonan yang berdekatan “r” dan “t”. Kata lainnya adalah kulkas. Di sini ada dua huruf konsonan lain yang letaknya berhimpitan yaitu “l” dan “k”.

Dyta, adalah seorang anak usia 4 tahun, baru akan masuk TK A bulan Juli tahun ini. Sejak dia bisa melafalkan “r” dengan baik, dia akan menyebut “Jakarta” dengan “Jakatra”, menyebut “Kulkas” dengan “Kuklas”, “Karpet” dengan “Kapret”, “Kerja” dengan “Kejra”, “Terbang” dengan “Tebrang”. Untunglah pagi ini Dyta sudah mulai bisa menyebut Kulkas dengan benar ketika kami bilang bahwa “susunya ketinggalan di kuklas”, Dyta bilang, “bukan kuklas tahu, tapi kulkas”. Alhamdulillah… mudah-mudahan satu persatu bisa diubah menjadi lebih benar.

Kotornya Tempat Wisata

Cari tempat makan yang murah dan kebersihannya gak dijamin? Datang aja ke lokasi wisata Candi Prambanan. Gambar di atas diambil tanggal 6 Juli 2009. Coba perhatikan tumpukan sampah di belakang tempat jualan si ibu berbaju biru. Biasanya kita bisa nikmati pecal dengan aroma daun jeruk. Wah sedap rasanya, apalagi dengan rasa pedas, manis, gurih, menggugah selera. Tapi di tempat ini, lain ceritanya. Pecal yang kita nikmati dengan aroma sampah. Apa yah rasanya….?

Mencari Kedamaian? Di sini tempatnya…

Mau tahu tempat terdamai di dunia? Inilah buktinya “PEACE PARK”.

Letaknya di sebelah Candi Prambanan. Foto ini diambil tanggal 6 Juli 2009. Diresmikan tanggal 11 November 2000 oleh Duta Besar Yordania, Gubernur DIY, Bupati Bantul, Walikota Yogyakarta, Bupati Gunung Kidul, Bupati Kulon Progo, dan Bupati Sleman. Saking damainya, gak ada orang yang duduk-duduk di taman ini. Sungkan mungkin. Harusnya memang disediakan fasilitas yang lebih baik, sehingga taman ini bisa lebih bermanfaat dibandingkan sekarang.

Yuk, Gunakan Bahasa dengan Tepat

Apa yang salah dengan tulisan di bawah ini?

Foto di atas diambil tanggal 6 Juli 2009 di daerah wisata Candi Prambanan. Kalau kita berwisata ke Candi Prambanan, saat kita menuju pintu ke luar, kita akan melewati satu lokasi tempat rusa dipelihara. Nah, di salah satu pagar pembatasnya terdapat tulisan di atas.

Bagi Anda yang tidak jeli, pasti menganggap, “iseng banget sih foto papan himbauan.” Masalahnya bukan itu. Candi Prambanan adalah tujuan wisata internasional. Bahasa Inggris harusnya memang sudah menjadi kebiasaan, baik bagi guide maupun petunjuk wisata. Tapi, apa yang terjadi kalau ternyata bahasa Inggris yang dipakai ternyata tidak tepat.

Coba lihat secara teliti, apa sih yang salah dalam himbauan di atas? Mudah-mudahan jadi pembelajaran bagi kita untuk menggunakan bahasa (Indonesia atau non Indonesia) secara baik dan benar.

Hidup Di atas dan Di bawah, hanya menunggu waktu…

Subhanallah. Maha Suci Allah yang telah menciptakan makhluk dengan segala kesempurnaan.

Tiada hari akan sama. Hari kemarin mungkin kita memperoleh keberuntungan. Hari ini mendapatkan kesialan. Dan kita tidak tahu apakah hari esok kita akan di atas atau di bawah, di kanan atau di kiri, di depan atau di belakang.

Hari ini saya mulai dengan kejadian mengganti ban motor karena bocor. Bukan saya sih yang menggantinya tetapi seorang perempuan muda dengan satu anak, yang suamiku sebut sebagai “itulah hebatnya inang-inang”. Saya hanya memandangi perempuan ini karena kagum. Beberapa saat sebelum ban bocor, ada beberapa kali jantung ini berdegup kaget karena bunyi rantai motor yang sudah tidak berfungsi baik. Saya selalu tanya kepada Abang, “gak apa-apa kan?” Hari ini terpaksa saya lakukan. Tapi apa boleh buat. Pak Jono, supir kami, isterinya sedang sakit. Akhirnya, karena tidak ada satupun dari kami yang bisa mengendarai mobil, pilihan kami hanya satu, “numpak” motor. Bocornya sih gak parah, tapi ada beberapa titik. Jadinya… terpaksa tidak ditambal tetapi ganti ban dalam baru. Tiga puluh ribu keluar dari tas saya.

Saya juga baru sadar kalau handphone saya tertinggal dekat telepon rumah saat menghubungi Pak Jono untuk menanyakan kabar isterinya. Tapi ya sudahlah, toh gak pake hape sehari kan gak masalah.

Sampai di kantor jam 10 kurang 10. Beli makan pagi (sekaligus siang) di kantin FKG. Seporsi Lontong Cap Gomeh seharga 9 ribu. Sampai di ruangan jam 10. Gak lama (belum lagi makanan dibuka) sudah ada telepon masuk. Uuhhh, mengapa sih pagi-pagi udah ketemu kasus seperti ini. Pengen teriak rasanya.

Sampai sore hari semua lancar. Saya pikir semua baik-baik saja, sampai kemudian atasan saya memanggil. “Saya bisa dikenai sanksi.” Begitu kata-kata yang mengalir dari bibir atasan saya. Akhirnya dia menjelaskan latar belakangnya. Hari ini hampir saya akhiri dengan sesuatu yang menyedihkan. “Apakah Tuhan sedang memberikan ujian bagi saya agar saya naik kelas lagi? Mengapa tidak orang lain saja,ya Allah?” Di kepala saya hanya satu. “Berhenti saja!” toh sebenarnya saya tidak bersalah. “Berhenti dari semua kegiatan saya selama ini.”

Tapi coba bandingkan dengan kemarin. Kemarin saya mengajar di kelas MPS, bertemu mahasiswa yang menyenangkan. Pukul 16 (walaupun tidak tepat pukul 16) saya memperoleh penghargaan. Diberikan ucapan selamat dari Dekan. Diberikan hadiah dan sertifikat. Walaupun saya selalu bilang, kalau yang saya peroleh prestasi biasa saja. Bagi saya IPK 4 atau berapapun, yang penting saya sudah tunjukkan kalau saya selalu serius melakukan apapun. Saya tidak pernah berharap memperoleh sanjungan dari siapapun. Saya pun tidak pernah berharap mendapatkan anugerah dalam bentuk apapun. Semua selalu saya syukuri. Berarti Tuhan selalu berada di sisi saya dan dekat dengan saya.

Malam ini, saat saya tuliskan perasaan saya ini, saya hanya ingin memastikan. Biarlah orang mengambil posisi mencari aman dan berusaha mengorbankan saya. Saya akan tunjukkan, bahwa tidak ada niatan buruk sedikitpun yang saya lakukan terhadap institusi tempat bekerja saya. Bahkan kalau mereka tahu, saya baru tiba pukul 20.40 di rumah setelah menembus hujan dan dalam deraian air mata. Terus terang, saya gak enak hati sama Abang, suami saya, karena sudah berbasah-basah demi menjemput isterinya. Yang diperoleh malah tangisan sang isteri karena masalah yang dihadapinya hari ini. Saya mencoba untuk menahan lapar (setelah makan lontong cap gomeh, saya tidak sempat makan lagi) dan kantuk. Beberapa kali mata terpejam di atas motor. Saya tahu ini berbahaya. Pasti gula darah ini sudah sangat drop. Sampai akhirnya istirahat dulu makan soto di Lenteng Agung, Alhamdulillah. Sampai di rumah, menemukan bahwa ada 7 sms masuk, ada panggilan tak terjawab dari 6 nomor telepon yang berbeda. Astaghfirullah… “apakah seserius ini kondisinya?”

Kepala ini berat sekali. Seperti baal (tidak merasa apapun) pada orang yang kena stroke. Saya coba berjalan berputar-putar dari satu ruangan ke ruangan lain. Ada masa di mana saya akan ingat betul. Saat saya berulang tahun 27 Januari, saat saya menikah 27 Februari 11 tahun yang lalu, saat suami saya berulang tahun 5 Januari, 2 Mei 2007 saat harga diri saya sebagai akademisi diinjak-injak oleh seorang doktor “sok internasional”, 13 Desember 2007 saat saya harus presentasi di depan menteri dan jajaran pimpinan Departemen Keuangan, 2 Mei 2008 saat saya hampir pasrah karena matakuliah yang dosennya tidak mau dikritik, dan hari ini 3 Februari 2010!!!!

Ya Allah,ya Rabb…. Ampuni hambamu. Yang hari ini masih belum bisa bersujud karena belum suci. Yang hari ini masih belum bisa melaksanakan semua kewajibannya. Yang hari ini hanya bisa berserah kepada-Mu. Hanya kepada-Mu hamba memohon pertolongan. Lindungilah mata, hati, telinga, dan perasaan hamba dari hal-hal buruk.

 Depok, 3 Februari 2010, pukul 23.55

Mudahnya membuat Makaroni Panggang alias Macaroni Schotel… Yummy

Sudah jadi hobi bagi saya untuk bisa masak makanan kesukaan. Makaroni Panggang atau orang juga suka menyebutnya dengan Macaroni Schotel (saya gak tau apakah penulisannya betul atau tidak, yang penting maksudnya sama kan?). Pernah mencoba beli makaroni panggang di Bogor. Tapi gak pas di lidah. Beli di tempat lain, sama saja, harga kemahalan lah, kejunya gak berasa lah, ukurannya terlalu kecil, pokoknya serba gak pas.

Nah, buat teman-teman yang hobi makan makaroni, gak salah kalau mencoba bikin sendiri. Dipastikan jadi deh. Camilan ini seperti brownies yang gak perlu takaran macam-macam dan harus mengembang. Yang dibutuhkan Cuma satu “memasaklah dengan cinta”. Begitu suami saya selalu bilang.

Bahan-bahan yang dibutuhkan:

  1. Makaroni (terserah mau bentuk yang mana, tapi kalau saya sih senang yang kecil-kecil aja yang standar) 500 gram.
  2. Daging cincang 250 gram. Bisa diganti dengan kornet, daging ayam, daging asap, sosis, atau sayuran dan jamur bagi yang vegetarian. Ukurannya juga tergantung kebutuhan kok. Bisa ditambah atau dikurangi.
  3. Keju cheddar 150 gram (kalau mau lebih banyak atau kurang gak masalah)
  4. Susu putih UHT (saya biasa pakai yang lowfat) 750 ml.
  5. Telur ayam 5 butir kocok lepas.
  6. Bawang bombay 1,5-2 siung yang besar.
  7. Bawang putih 4 siung.
  8. Merica secukupnya
  9. Garam 1 sendok teh (secukupnya)
  10. Gula 2 sendok teh
  11. Bubuk pala seperempat sendok teh (kalau tidak ada tidak jadi masalah)
  12. Oregano seperempat sendok teh (kalau tidak ada tidak jadi masalah)
  13. Mentega/margarine untuk menumis dan melapisi loyang.

Cara membuatnya:

  1. Makaroni direbus, jangan lupa tambahkan garam sedikit dan margarin. Biar lebih aldente.  Tiriskan.
  2. Bawang bombay dan bawang putih dicincang. Tumis dengan mentega/margarine sampai layu. Masukkan daging cincang, garam secukupnya, merica, pala dan gula secukupnya.
  3. Matikan kompor. Masukkan  makaroni yang telah direbus dan ditiriskan, keju yang telah diparut (sebagian saja, sebagiannya untuk diletakkan di atas), susu, telur yang sudah dikocok lepas,
  4. Masukkan dalam loyang/pinggan tahan panas/loyang alumnium siap pakai. Taburkan di atasnya keju parut. Kalau pakai pinggan tahan panas, oleskan dulu dengan margarin di dasar dan pinggirnya.
  5. Oven sebelumnya harus sudah dipanaskan dalam suhu 180 derajat. Masukkan loyang yang sudah terisi. Panggang dulu dengan api bawah sekitar 45 menit, baru kemudian dengan api atas dan bawah sekitar 15 menit.
  6. Angkat kalau sudah matang ya…
  7. Sajikan dengan saus sambal.

Sebagai informasi tambahan: Kudapan ini anti gagal. Tidak seperti kalau kita memasak bolu atau roti. Selain dipanggang, dikukus juga tidak jadi masalah. Kalau dikukus, jika ingin lebih garing (tidak terlalu basah) dapat dimasak di atas teflon.

Jadi… Selamat mencoba.