Hidup Di atas dan Di bawah, hanya menunggu waktu…

Subhanallah. Maha Suci Allah yang telah menciptakan makhluk dengan segala kesempurnaan.

Tiada hari akan sama. Hari kemarin mungkin kita memperoleh keberuntungan. Hari ini mendapatkan kesialan. Dan kita tidak tahu apakah hari esok kita akan di atas atau di bawah, di kanan atau di kiri, di depan atau di belakang.

Hari ini saya mulai dengan kejadian mengganti ban motor karena bocor. Bukan saya sih yang menggantinya tetapi seorang perempuan muda dengan satu anak, yang suamiku sebut sebagai “itulah hebatnya inang-inang”. Saya hanya memandangi perempuan ini karena kagum. Beberapa saat sebelum ban bocor, ada beberapa kali jantung ini berdegup kaget karena bunyi rantai motor yang sudah tidak berfungsi baik. Saya selalu tanya kepada Abang, “gak apa-apa kan?” Hari ini terpaksa saya lakukan. Tapi apa boleh buat. Pak Jono, supir kami, isterinya sedang sakit. Akhirnya, karena tidak ada satupun dari kami yang bisa mengendarai mobil, pilihan kami hanya satu, “numpak” motor. Bocornya sih gak parah, tapi ada beberapa titik. Jadinya… terpaksa tidak ditambal tetapi ganti ban dalam baru. Tiga puluh ribu keluar dari tas saya.

Saya juga baru sadar kalau handphone saya tertinggal dekat telepon rumah saat menghubungi Pak Jono untuk menanyakan kabar isterinya. Tapi ya sudahlah, toh gak pake hape sehari kan gak masalah.

Sampai di kantor jam 10 kurang 10. Beli makan pagi (sekaligus siang) di kantin FKG. Seporsi Lontong Cap Gomeh seharga 9 ribu. Sampai di ruangan jam 10. Gak lama (belum lagi makanan dibuka) sudah ada telepon masuk. Uuhhh, mengapa sih pagi-pagi udah ketemu kasus seperti ini. Pengen teriak rasanya.

Sampai sore hari semua lancar. Saya pikir semua baik-baik saja, sampai kemudian atasan saya memanggil. “Saya bisa dikenai sanksi.” Begitu kata-kata yang mengalir dari bibir atasan saya. Akhirnya dia menjelaskan latar belakangnya. Hari ini hampir saya akhiri dengan sesuatu yang menyedihkan. “Apakah Tuhan sedang memberikan ujian bagi saya agar saya naik kelas lagi? Mengapa tidak orang lain saja,ya Allah?” Di kepala saya hanya satu. “Berhenti saja!” toh sebenarnya saya tidak bersalah. “Berhenti dari semua kegiatan saya selama ini.”

Tapi coba bandingkan dengan kemarin. Kemarin saya mengajar di kelas MPS, bertemu mahasiswa yang menyenangkan. Pukul 16 (walaupun tidak tepat pukul 16) saya memperoleh penghargaan. Diberikan ucapan selamat dari Dekan. Diberikan hadiah dan sertifikat. Walaupun saya selalu bilang, kalau yang saya peroleh prestasi biasa saja. Bagi saya IPK 4 atau berapapun, yang penting saya sudah tunjukkan kalau saya selalu serius melakukan apapun. Saya tidak pernah berharap memperoleh sanjungan dari siapapun. Saya pun tidak pernah berharap mendapatkan anugerah dalam bentuk apapun. Semua selalu saya syukuri. Berarti Tuhan selalu berada di sisi saya dan dekat dengan saya.

Malam ini, saat saya tuliskan perasaan saya ini, saya hanya ingin memastikan. Biarlah orang mengambil posisi mencari aman dan berusaha mengorbankan saya. Saya akan tunjukkan, bahwa tidak ada niatan buruk sedikitpun yang saya lakukan terhadap institusi tempat bekerja saya. Bahkan kalau mereka tahu, saya baru tiba pukul 20.40 di rumah setelah menembus hujan dan dalam deraian air mata. Terus terang, saya gak enak hati sama Abang, suami saya, karena sudah berbasah-basah demi menjemput isterinya. Yang diperoleh malah tangisan sang isteri karena masalah yang dihadapinya hari ini. Saya mencoba untuk menahan lapar (setelah makan lontong cap gomeh, saya tidak sempat makan lagi) dan kantuk. Beberapa kali mata terpejam di atas motor. Saya tahu ini berbahaya. Pasti gula darah ini sudah sangat drop. Sampai akhirnya istirahat dulu makan soto di Lenteng Agung, Alhamdulillah. Sampai di rumah, menemukan bahwa ada 7 sms masuk, ada panggilan tak terjawab dari 6 nomor telepon yang berbeda. Astaghfirullah… “apakah seserius ini kondisinya?”

Kepala ini berat sekali. Seperti baal (tidak merasa apapun) pada orang yang kena stroke. Saya coba berjalan berputar-putar dari satu ruangan ke ruangan lain. Ada masa di mana saya akan ingat betul. Saat saya berulang tahun 27 Januari, saat saya menikah 27 Februari 11 tahun yang lalu, saat suami saya berulang tahun 5 Januari, 2 Mei 2007 saat harga diri saya sebagai akademisi diinjak-injak oleh seorang doktor “sok internasional”, 13 Desember 2007 saat saya harus presentasi di depan menteri dan jajaran pimpinan Departemen Keuangan, 2 Mei 2008 saat saya hampir pasrah karena matakuliah yang dosennya tidak mau dikritik, dan hari ini 3 Februari 2010!!!!

Ya Allah,ya Rabb…. Ampuni hambamu. Yang hari ini masih belum bisa bersujud karena belum suci. Yang hari ini masih belum bisa melaksanakan semua kewajibannya. Yang hari ini hanya bisa berserah kepada-Mu. Hanya kepada-Mu hamba memohon pertolongan. Lindungilah mata, hati, telinga, dan perasaan hamba dari hal-hal buruk.

 Depok, 3 Februari 2010, pukul 23.55

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s