Ujian Nasional: Antara Percaya Tuhan, Percaya Diri, atau Percaya “Setan”

Ujian Nasional SMA hari ini dimulai. Sejak beberapa bulan yang lalu siswa SMA sudah digenjot luar biasa. Bukan hanya di sekolah, tetapi juga di pusat-pusat bimbingan belajar. Siswa berharap memiliki penguasaan atas materi pelajaran. Percaya Diri. Bahkan sebulan terakhir, diadakan doa bersama (Sabtu/Minggu), zikir, atau bentuk-bentuk sejenis, dengan tujuan agar diberikan kelulusan. Siswa pun biasanya akan terlihat lebih agamis, sholat 5 waktu tidak ditinggalkan. Mengaji dan berzikir pun dilakoni. Yang tadinya gak pernah ke gereja, jadi semangat luar biasa. Yang Hindu, Budha, dan Konghucu pun tidak ketinggalan. Ketakutan mereka bukan karena api neraka, tetapi karena neraka Ujian Nasional.

Ikhtiar atau usaha apapun dijalani siswa. Tawaran untuk membeli jawaban Ujian Nasional membuat siswa menahan air liurnya. Contekan di bawah rok, di dalam tempat pensil, atau kode-kode khusus dari guru, termasuk ikhtiar lainnya. Sayang sekali. Kejujuran tidak lagi menjadi tujuan akhir pendidikan. Generasi instan didukung pula oleh sistem pendidikan nasional. Guru ditekan kepala sekolah, karena kepala sekolah takut dimutasi bila muridnya banyak yang tidak lulus. Guru pun “rela” melakukan banyak hal terutama trik memberikan bocoran kepada siswa. Kepala Sekolah ditekan Suku Dinas (Sudin) Pendidikan karena mereka punya target lulus 100%. Sudin ditekan Dinas Pendidikan karena malu kalau daerahnya memiliki tingkat kelulusan rendah, Dinas Pendidikan ditekan siapa ya? Jadi setannya siapa?

Pak Menteri yang terhormat, bisakah sistem pendidikan ini diubah? Jangan lagi pakai target kognisi semata yang malah membuat generasi ini semakin hancur. Pendidikan harusnya menjadi proses dari tahu menjadi tidak tahu, dari bisa menjadi tidak bisa. PROSES! Bukan hanya HASIL. Nah, kalau proses tidak dilihat, ya bilang saja, bahwa ini adalah pabrikasi pelajar. Menghasilkan sebanyak-banyaknya lulusan tanpa melihat kualitasnya.Pelajar hanya menjadi robot yang bisa berlari, punya perasaan, dan jatuh cinta. Tapi otaknya gak terisi penuh.

Advertisements

“Aku Ingin”, Sapardi…

aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan kata yang tak sempat, diucapkan kayu kepada api, yang menjadikannya debu, aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan isyarat yang tak sempat, disampaikan awan kepada hujan, yang menjadikannya tiada

Penggalan syair Sapardi Djoko Damono di atas mengingatkan saya pada masa 19 tahun yang lalu saat saya baru mengenal kampus UI sebagai mahasiswanya. Teman saya meminjamkan buku dan juga kaset (dulu belum dikenal adanya cakram padat) Hujan Bulan Juni. Komentar saya hanya satu. Saya harus punya buku dan kasetnya. Too inspired me. Masa-masa puber, masa-masa kenal dan kemudian naksir dengan seorang atau lebih pria menjadi alasannya. Tapi ternyata, puisi Sapardi lebih dari itu. Sapardi menyusun kata yang berarti menjadi kalimat yang sangat berarti dan penuh makna.

Pencarian saya, sehari, seminggu, sebulan, setahun, dan hingga kini tak membuahkan hasil. Thanks for 4shared.com. Walaupun saya tahu bahwa ini berarti melanggar hak cipta, tapi akhirnya saya dapat menikmati kembali masa-masa 19 tahun yang lalu. Akankah muncul Hujan di Bulan yang Lain?

Dari Bambang ke Bambang …

Sore ini, iseng-iseng mencari di google “how famous I am”.  Sebenarnya dulu karena tantangan teman, bahwa kalau namanya sudah ada di lima halaman google. Lagipula ternyata ini salah satu indikator Key Performance Indicator juga katanya. Hasilnya adalah: ternyata sudah lebih dari 10 halaman google. Yang terbanyak adalah karena buku yang ditulis Bambang Prasetyo dan saya.

Ternyata dari keisengan ini, saya menemukan dua hal yang lucu. Dari lontar.ui.ac.id (berarti ini skripsi, tesis, atau karya ilmiah lainnya di UI) saya temukan hal yang aneh… Masak Bambang Prasetyo ditulis menjadi Bambang Pamungkas. Setahu saya, Bambang Pamungkas tuh pemain bola. Memang sih… Bambang Prasetyo juga bisa kok main bola.

Ada lagi yang menulisnya dengan Bambang Prasetya (dari situsnya fkip.uns.ac.id). Padahal jelas-jelas Bambang Prasetyo alias Papas ini orang Jawa asli. Nah kalau diganti Prasetya kan menjadi Sunda pisan euy.