“Aku Ingin”, Sapardi…

aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan kata yang tak sempat, diucapkan kayu kepada api, yang menjadikannya debu, aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan isyarat yang tak sempat, disampaikan awan kepada hujan, yang menjadikannya tiada

Penggalan syair Sapardi Djoko Damono di atas mengingatkan saya pada masa 19 tahun yang lalu saat saya baru mengenal kampus UI sebagai mahasiswanya. Teman saya meminjamkan buku dan juga kaset (dulu belum dikenal adanya cakram padat) Hujan Bulan Juni. Komentar saya hanya satu. Saya harus punya buku dan kasetnya. Too inspired me. Masa-masa puber, masa-masa kenal dan kemudian naksir dengan seorang atau lebih pria menjadi alasannya. Tapi ternyata, puisi Sapardi lebih dari itu. Sapardi menyusun kata yang berarti menjadi kalimat yang sangat berarti dan penuh makna.

Pencarian saya, sehari, seminggu, sebulan, setahun, dan hingga kini tak membuahkan hasil. Thanks for 4shared.com. Walaupun saya tahu bahwa ini berarti melanggar hak cipta, tapi akhirnya saya dapat menikmati kembali masa-masa 19 tahun yang lalu. Akankah muncul Hujan di Bulan yang Lain?

One thought on ““Aku Ingin”, Sapardi…”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s