Berharap jadi semut

“Pernyataan bodoh,” begitu ungkap Rien, teman sekerja saya, saat saya mengungkapkan “gua pengen deh jadi semut.”

“Apa maksud loe?” tanya Rien sambil mengernyitkan alisnya.

“Bosen banget nih. Setiap saat ketemu babeh, gua pasti kena semprot. Mentang-mentang dia kelasnya gajah, menganggap gua yang seumuran anaknya adalah semut. Asal injak, asal omong, gak pernah mau tahu bagaimana perasaan anak buahnya,” sungut saya. Babeh adalah panggilan saya untuk orang yang selalu sok tua, merasa dirinya masih jadi pejabat. Padahal, dia sudah tidak lagi menjabat. Seumuran mertua saya yang seringkali lebih cepat tersinggung ketimbang menggunakan nalarnya.“Loe emang kagak mikir, Ceu. Masak loe mau jadi semut. Gampang diinjek, gampang mati, gampang dipites. Gak punya harapan hidup lebih lama.”rentet Rien seperti petasan renteng yang dipasang orang Betawi saat ada pernikahan sebagai ungkapan pengumuman. Biar semua orang dengar.

“Buka begitu, Rien.” Ungkap saya membela diri.

“Loe bayangin. Bosen gak sih? Babeh kita itu selalu salah paham. Dan ketika salah paham terjadi, dianya bukan mencoba meluruskan. Yang ada malah membuat benang kusut gak pernah jadi lurus, semakin kusut. Ketika kita mencoba meluruskan, dia gak pernah bisa terima. Orang macam apa dia? Makanya, gua pengen jadi semut, yang bisa masuk ke telinga dia, untuk kemudian gua teriakkan sesuatu. Sadar diri, dong…. Dan loe tahu gak gimana rasanya ketika binatang kecil masuk ke dalam telinga loe? Sakiiiiiit banget.“ ujar saya berusaha menjelaskan seenaknya.

Tapi, Ceu. Kalau gua saranin, loe mending milih yang lebih gede aja. Misalnya dinosaurus kek,” Rien mencoba memberikan solusi.

“Loe harunya ngerasain kayak gua. Gua nih udah pernah ngerasain saat semut masuk telinga gua. Budeg tahu. Kayaknya gua denger ada pengeras suara di kuping gua. Jadi gak usahlah jadi binatang yang lebih besar, yang hanya bisa menyakitkan orang dari luar doang. Dari dalam, pasti lebih mantabbb.” Sambil saya acungkan jempol terbalik dan meninggalkan Rien yang kembali mengernyitkan alisnya.

Semut yang mana ya? Semut api, semut hitam, semut merah, semut rangrang, atau semut gula?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s