BB – Mendekatkan yang Jauh, Menjauhkan yang Dekat

Kalau Anda mengatakan bahwa BB alias bau badan menjauhkan yang dekat, sudah pasti saya katakan ya. Apalagi yang hidungnya sensitif, pasti akan menjauh ketika ada orang yang berada dekat dengan kita memiliki aroma badan yang tidak sedap. Mungkin akan lain lagi persoalannya, manakala orang yang memiliki bau badan khas ini sudah jauh dari kita. Pasangan kita, misalnya. Kalau dia terpaksa harus meninggalkan kita atau pergi ke luar kota atau luar negeri untuk urusan dinas atau tugas dan jangka panjang, mungkin pakaian kotor dari pasangan akan kita simpan dan untuk mengingatnya seringkali BB tadi membuat kita merasa dekat dengan dia.

Nah, BB yang satu ini lain lagi ceritanya. Di suatu siang, rapat sedang dilaksanakan. Tiba-tiba orang yang duduk di samping saya tertawa geli. Saya akhirnya harus menoleh. Oh dia sedang memegang telepon genggamnya. Mungkin karena dia melihat saya terganggu, dia menunjukkan teleponnya itu kepada saya. Gambar seorang artis ibukota yang pernah menikah dengan “bule” dan kemudian saat ini sedang dekat dengan seorang pemain sepakbola. Gambar menunjukkan bagaimana si artis dengan gaya yang cukup “hot” terpampang di baliho pemilihan kepala daerah.

Buat saya, bukan gambar artis ini yang mengganggu, karena tidak lama kemudian, teman sebelah saya ini kembali tertawa geli. “Ini rapat, bung,” batin saya. “Hargai dong, orang yang lagi berbicara di dalam rapat ini.”

Tulisan ini hanya selintas gambaran bahwa BB alias Blackberry sudah merambah kemana saja. Orang kantoran, ibu rumah tangga, mahasiswa, dan beragam profesi lainnya mungkin tidak asing lagi menggunakan BB ini. BB banyak memberikan kemudahan termasuk dalam membuka jaringan dan informasi dengan banyak orang. Kita bahkan bisa tetap “memantau” orang dari jauh dengan menggunakan jaringan BB ini. Yang menjadi masalah adalah orang Indonesia harus diajari etika menggunakan telepon, termasuk kapan perlu menggunakan mode diam, kapan perlu memegang atau membuka telepon. Dalam situasi yang memang penting, penggunaan telepon mungkin bolehlah.

Jangan sampai, BB dan yang lainnya: Mendekatkan yang Jauh, Menjauhkan yang Dekat.

2 thoughts on “BB – Mendekatkan yang Jauh, Menjauhkan yang Dekat”

  1. ternyata saya sangat seide dengan Mbak Lina, bener bgt tuh mbak, saya sering bgt melihat pemandangan manusia autis gak lihat tempat, kejepit lift, sampai kepemandangan suami istri yang mau makan,trus sambil nunggu pesanan datang, keduanya sibuk main BB dan terlihat seperti tidak saling mengenal. Banyak orang dikuasai oleh BBnya, bukan sebaliknya..

    1. Betul Mba Maria… Autis adalah kata yang tepat menggambarkan semuanya.
      Harusnya kitalah yang menguasai teknologi, karena teknologi diciptakan untuk mempermudah manusia, dan bukan sebaliknya.
      Saya khawatir, rasa humanis kita lama kelamaan akan memudar sejalan dengan kehidupan yang asosial.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s