Ode tentang Hari ini

Tuhan, hari ini saya mendapat pelajaran sederhana

tentang sebuah kata, tentang sebuah rasa, tentang sebuah suara

tentang sebuah definisi, tentang sebuah pemaknaan akan sesuatu

 

Tuhan, kalau saja bisa,

Ku ingin mengakhiri semua kecarutmarutan yang ada

Mengakhiri kebisingan dan emosi tak ternyana

Dengan sebuah kebisuan yang bermakna luar biasa

 

Tuhan, dalam isak tertahan di hati

Ku ingin berdiam dalam keheningan

Berdamai dalam suasana temaram jiwa

Dengan sebuah kepasrahan yang kugali dari tanah kemarau nan gersang

 

Tuhan, bolehkah aku menghindari

kegalauan demi kegalauan yang sedang kau titipkan pada hatiku

Untuk tetap menempatkanku bertahan di dalamnya

Untuk tetap menempaku berada di dalamnya?

Ataukah harus tetap ku jalani hari demi hari

dengan penuh tatih dan perih?

Depok, 28 Januari 2011

Advertisements

di-FOX-kan

Beberapa malam ini, suamiku senang sekali mengulang-ulang kata di-fox-kan. Tentu saja ini bukan kata yang tepat menurut bahasa Indonesia, karena tidak ada kata dasar “fox”. Namun, bagi beberapa jurnalis, istilah seperti ini biasanya muncul karena terkait dengan satu peristiwa. Misalnya, istilah di-munir-kan, muncul untuk mengganti kata kerja menghilangkan nyawa orang seperti cara Munir tewas dengan asenik di tubuhnya, atau mungkin sebentar lagi akan muncul di-gayus-kan. Kata kerja yang terakhir ini bagi semua pencari keadilan tentu akan bermakna cukup menyenangkan. Plesiran ke luar negeri dengan paspor aspal, hanya dihukum 7 tahun (potong masa tahanan, hanya 2/3 di dalam masa tahanan, dapat remisi pula) plus denda 300 juta saja, pasti seperti memperoleh hadiah dari santa claus di malam natal.

Nah, istilah di-fox-kan ini muncul karena suami saya mungkin sedikit jengkel dengan hobi saya menonton film seputar kriminalitas yang diputar di televisi berbayar. Mulai dari CSI (Crime Scene Investigation) Miami, Las Vegas, New York, atau CSI tanpa embel-embel kota, Criminal Minds, Lie to Me, NCIS (Naval Criminal Investigative Service) akan saya tonton tanpa henti dan saya akan pesan jika saya tahu pada jam tertentu akan diputar.

Tokoh seperti Detective Grissom, Detective Horatio, Detective Taylor, si ahli komputer Penelope Garcia, Agent Jethro Gibbs, Abby si forensik gotik, dan Dr. Lightman adalah tokoh yang saya kenal betul dengan sifat yang berbeda. Horatio yang hampir selalu menundukkan kepala, Jethro Gibbs yang sering dikesali oleh anak buahnya, atau Lightman yang ternyata sayang sekali dengan keluarga. Memecah teka-teki kejahatan melalui hal-hal yang detail yang ditemui di TKP, termasuk mempelajari dari lingkungan sekitar, atau melakukan wawancara dengan memandangi mimik wajah para tersangka pun menjadi hobi saya, manakala remote tivi sudah ada di tangan saya. Nah, FOX Crime, AXN, dan AXN Beyond, tentunya menjadi stasiun favorit saya. Itulah makanya suami saya menyebut sebagai di-FOX-kan, karena mungkin saya terlihat sering memutar stasiun FOX Crime.

Bagi saya yang senang dengan behavioral analysis, menonton film-film semacam ini menambah wawasan terutama untuk memberi contoh waktu mengajar. Sesekali berandai-andai, “ah, seandainya di Indonesia ada lembaga sejenis yang memiliki komitmen luar biasa memecahkan kejahatan, mungkin kasus Robot Gedhek, Babeh, atau terakhir oleh Sartono yang mengaku telah menyodomi 96 anak, tidak akan terjadi. Saya ingin orang seperti tokoh Dr. Lightman bisa hadir dan mewawancarai Antasari Azhar, Susno Duadji, dan Gayus Tambunan, sehingga kebohongan demi kebohongan akan terbongkar karena mereka tidak bisa berbohong.”

Tapi itu semua kan hanya pengandaian. Jadi maafkan saya ya, seandainya saya terpaksa menguasai remote dan terus memutar film-film seperti ini. Yah, namanya hobi. Selain diajak untuk menyenangi olahraga sejak kecil (sejak 5 tahun di bawa nonton sepakbola di senayan, SMP gabung tim basket, SMA gabung tim volley, di rumah sering main tenis meja, bulutangkis sih gak usah di tanya, sejak SD renang gaya punggung), orangtua juga senang membelikan buku cerita. Sejak saya mulai memiliki kartu perpustakaan umum Jakarta Selatan, membaca cerita fiksi seperti lima sekawan Enid Blyton, trio detektif Alfred Hitchcock, sampai kemudian saat dewasa mengenal Agatha Christie dengan tokoh Hercule Poirot, menjadi bacaan yang tidak pernah membosankan. Walaupun akhirnya “jagoan pasti menang”, bagaimana merangkai bukti dan pernyataan menjadi sesuatu yang menyenangkan. Bagi saya, “ketelitian dan ketekunan” adalah dua kata yang akhirnya mewujudkan saya untuk menyukai “statistik, matematika, dan penelitian”. Sama seperti seorang agen membuka tabir kejahatan.

Selamat Ulang Tahun, Bung…

Tertawa… setiap waktu dengan lagak dan lagu yang tidak pernah terekam dalam kaset atau cakram padat, engkau membuat hariku berwarna. Sungguh, pencipta lagu dan penata gerak pun akan terkagum melihat banyak tercipta dalam satu hari. Tanpa syair dan melodi yang tidak bernada, kau lantunkan suara laksana penyanyi sesungguhnya. Seraya bercermin sambil bergaya model masa kini. Kadang plesetan menjadi kamus canda yang melebihi lucu dari seorang pelawak.

Sabar… begitu selalu kau ucapkan. Tapi sejak aku mengenal dirimu, tak pernah engkah lupakan kesabaran. Semakin hari semakin kau pupuk tanaman kesabaran. Sambil berharap suatu saat kau akan panen buah kebahagian. Tapi, bukankah sabar ada batasnya?

Pena … kalau saja masa lalu digambarkan, engkau  akan menggoreskan kehidupan ini dengan hitam, biru, dan merah.  Tapi sekarang, pena telah kau gantikan dengan tombol pada papan komputer. Yang seringkali membuat engkau pusing tujuh keliling, karena bingung harus menekan tombol yang mana. Belajar…bung. Jangan menyerah. Semakin larut, semakin kudengar merdu seperti jangkrik mengisi sepinya malam. Kalau saja aku bisa menolong untuk menemani seperti bulan yang kadang malu mendampingi gelap.

Jujur… sekali, dua kali dusta mendera dirimu. Bukan karena engkau senang didustai, bukan juga karena engkau mau didustai, atau berharap untuk didustai. Tetapi karena engkau terlalu baik, terlalu kasih. Sehingga orang senang hati mendustaimu. Dia tidak sadar, kebaikanmu adalah untuk kebaikannya nanti. Dia belum sadar, kasihmu adalah untuk membahagiakannya. Dia tak pernah sadar, bahwa semua yang dilakukan bukan untuk menyakitinya.

Kini… 39 tahun sudah kau tapaki hidup, hampir 12 tahun meniti jalan kebersamaan. Seandainya kita diberi kesempatan, kuingin mengulangi satu catatan yang pernah kau berikan padaku.

“Pelukis tidak akan pernah merusak lukisannya manakala lukisan itu terlalu buruk untuk dilihat. Tapi dia akan memperbaiki lukisan itu, dengan titik, garis, dan warna, sehingga lukisan itu menjadi sesuatu yang indah.”

5 Januari 1972 – 5 Januari 2011