Mengenang Prof. Retno Soetaryono

http://www.st-yohanesbosco.org/bosconian-detail.php?id=540&sub_id=214

Kemarin pagi (1/3/2011) saya terima sms dari seorang dosen yang mengabarkan berita duka. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un, telah berpulang Prof. Retno Soetaryono pada Selasa 1 Maret 2011 pukul 02.20 di RS Sari Asih.

“Duh… kenapa sih kita selalu menunda-nunda,” begitu gumam saya dalam hati. Seminggu yang lalu saya kembali mengajak Azis untuk ke rumah Bu Retno. Tapi karena masih banyak kerjaan di kampus, Azis bilang “Iya, nanti deh.” Ya… akhirnya, sesalku, kami gak sempat bertemu beliau terakhir kalinya.

Prof Retno, sosok yang sangat ramah, baik hati. Saya mengenalnya secara pribadi saat menjabat sebagai Sekretaris Departemen tahun 2003-an. Sebagai sekretaris, mau gak mau aku berhubungan dengan semua dosen. Membagikan uang buku, uang THR, mengundang pelatihan, dan macam-macam kerjaan yang semua dijalankan sendiri.

Saya ingat pada suatu hari, setelah berkali-kali saya telepon, akhirnya Prof Retno mau datang ke Depok. “Ada uang buku yang harus diambil, Bu.” ucap saya. Dia bilang ke saya, “Lina, Ibu sudah di parkiran FISIP. Kaki ibu gak kuat kalau naik ke lantai 2. Lina bisa datang ke mobil ibu?” saya katakan iya dan langsung saya ambil amplop berisi uang dan bukti tanda terima yang harus ditandatangani beliau. Sampai di parkiran, saya menuju mobilnya. Dia tandatangani bukti, saya serahkan amplopnya. Mau tahu apa yang dia lakukan kemudian? Dia bilang “Lina, duitnya buat Lina saja. Kan, Lina yang kerja.” Saya terharu. Sebagai seorang Sekretaris Departemen saat itu, gaji yang diperoleh memang tidak besar. Gaji ini lebih kecil dibandingkan saat saat menjabat sebagai Ketua Program Studi Ilmu Administrasi Negara di Program Ekstensi yang hanya diemban 3 bulan saja. “Terima kasih, Bu.”

Lain hari lagi, Dewi dan Febe (dua orang mahasiswa yang membantu saya mengarsipkan surat di Departemen) cerita kalau kuliah Administrasi Lingkungan hari itu diajarkan oleh Bu Retno. Tahu apa yang dibawa Bu Retno untuk seluruh mahasiswanya? Teh botol, lontong, dan risol.

Saya acungkan jempol buat Profesor yang satu ini. Kalau saja dia tidak sakit, saya yakin banyak dari kita yang akan mengenal sosoknya yang menyayangi orang lain. Saya memang tidak pernah merasakan langsung menjadi mahasiswanya. Rambutnya yang keriting dan murah senyum selalu terngiang di benak saya. Seandainya saya pun bisa seperti beliau…

Selamat jalan, Bunda. Selamat jalan Profesorku. Semoga ilmu yang telah ibu berikan akan mempermudah jalan ibu menghadap Sang Maha Pencipta. Amin…

2 thoughts on “Mengenang Prof. Retno Soetaryono”

  1. Amiiin..

    Sayangnya aku ga sempat mengenal sosok beliau mba,,,imagine what have you describe, must be a pleasure to know her…

    sepertinya dari kekagumanmu,,ada sedikitnya yg kau internalisasi ya mba hehehehe

  2. Prof retno…sosok yg sangat membekas dihati gw…dulu inget waktu kuliah adm. lingkungan, pasti klo beliau yg ngajar, selalu bawa makanan buat mahasiswa, mulai dari lontong, risol, gorengan, sampe coklat. bahkan ketertarikan gw di masalah lingkungan berawal dari mengikuti kuliah beliau, sampe2 waktu bikin karya tulis utk LKTM PIMNAS taun 2005, banyak bahan rujukan yg kita ambil dari tulisan beliau tentang masalah sampah…
    Selamat jalan Prof Retno…semoga smua kebaikan, amal dan ibadahnya diterima disisi 4JJI SWT….all of her kindness…will always be remember…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s