Bad Information: Kalau gak tahu, gak usah sok tahu [part 1]

Pagi-pagi… brrrr, dingin banget nih pagi. Alarm di hapeku bunyi pukul 4.30. Sholat dulu, biar gak terlalu dingin, ah… Terus mandi deh. Ada kerjaan ke Kepulauan Seribu, nih… Yok, semangat
 
Tas ransel sudah aku rapikan tadi malam. Bawa tiga kaos, dan dua set pakaian dalam, mukena, sajadah, sandal jepit, topi, jaket, roti, coklat 2 batang, obat-obatan, dan alat mandi. Saat pukul 05.00, SMS di hape berbunyi. Dari Yogo.  “Selamat pagi saya sudah di gedung a. Hujan disini.” Loh, di rumah ku belum hujan. Wah kacau nih kalau hujan. Semoga di kapal gak hujan ya. Takut juga kalau hujan di laut. Berangkat dari rumah pukul 5.15. Baru dua menit di jalan, tik, tik, tik… hujan mulai turun, dan byur sederas-derasnya hujan. Sampai di kampus 05.30. Portal di pintu masuk kampus FISIP belum di buka. Harus buku tali dulu, nih. Sudah lengkap tim kami, Mba Uci, saya, Yogo, dan Mr X. Yang terakhir ini orang yang katanya dipaksa panitia karena sudah tahu jalan dan akan jadi guide kami menuju Pulau Pramuka.
 
Pukul 05.35 jalan menuju Muara Angke. Ternyata Mr X gak tahu jalan kalau pakai kendaraan pribadi. Dia biasanya naik kereta sampai kota, terus naik bajaj. Akhirnya dia nelepon Mr Y. Mr Y bilang keluar aja di Pluit. Mr X gak pernah menginfokan bahwa kita lewat tol dalam kota dan bukan tol Priok. Mr Y bilang, setelah keluar tol terus ada u turn terus belok kiri, terus lurus aja. Nanti ada mall pluit. Ikutin aja. Nah kami ke luar tol Pluit, cari u turn, setelah itu loh kalo terus kan menjauh dari laut. Logika saya, namanya pelabuhan kan pasti dekat laut. Akhirnya setelah saya yang bicara, saya bilang kalau kami lewat tol cawang, terus ke luar di pluit. Pantes lah gak nyambung.
 
Akhirnya ketemu Pluit Village (kok beda dengan informasinya Mr Y yang Mall Pluit, ya?) lurus, dan bingung lagi. Mr X beneran udah pernah ke Muara Angke belum sih? Kok gak tahu jalan ya? Akhirnya, saya bilang tanya aja sama ibu-ibu penyapu jalan. Akhirnya ibu tadi memberikan informasi terus aja, nanti belokan kedua belok kanan, terus masuk pasar deh.
 
Sampai di Muara Angke sampe salah belok dua kali. Malah tepatnya tiga kali. Yang pertama, Mr X bilang bukan di depannya. Yang kedua malah sempat masuk ke gudang dan akhirnya mutar keluar lagi. Yang ketiga masuk ke Tempat Pelelangan Ikan. Loh? Bukannya maunya ke pelabuhan? Akhirnya turun dari mobil, jalan kembali ke tempat pertama. Lumayan… sekitar 75 -100 meter lah… Gak jauh. Tapi, masalahnya becek. Gak masalah, hanya saja keamanan gak terjamin. Hampir saja mungkin akan muncul liputan tentang dosen UI yang tercebur ke laut karena ternyata ini salah jalan paling parah. Sampai di ujung jalan, ternyata jalan buntu. Ada pagar yang cukup tinggi. Kalau mutar lagi… please deh. Gak  ada di kamus saya. Dengan penuh keyakinan, Mr X mencoba bertanya kepada tukang rokok “Pak, ada gak yah kayu yang bisa digunakan untuk menyebrang?” Buat saya pertanyaan terkonyol pagi ini.
 
Akhirnya, mau tahu apa yang kami lakukan? Lompat ke arah laut karena pagarnya lebih pendek. Pagi yang membahayakan jiwa. Woi… gak berasuransi nih… Kayaknya Kampus harusnya  memberikan kami penghargaan karena perjuangan yang penuh perjuangan.
 
Maaf Mr. X. Saya ingin semua sadar, agar jangan terulang lagi. Saya tahu kok Mr. X tidak seharusnya menjadi guide kami. Bagi saya cuma satu, intinya sesuai judul tulisan ini: Kalau gak tahu, gak usah sok tahu.
 
Kepulauan Seribu, 5 Maret 2011
Advertisements

D.I.S.I.P.L.I.N itu indah

Saya mengingat kembali sebuah rangkaian perjalanan hidup yang membekas dari Kenanga 11. Teet… teet… teet. Ya, itulah panggilan tiga kali yang biasa dilakukan mami pagi hari sebelum berangkat mengajar agar anak-anaknya tidak kesiangan. Bunyi bel yang nyaring pada awalnya dianggap mengganggu. Pemasangan bel adalah hasil diskusi keluarga. Rumah kami yang seperti kereta dan berlantai dua membuat agak capek kalau harus membangunkan satu per satu anak di masing-masing kamar. Aku dan kakakku tidur di lantai dua. Adikku yang lainnya tidur di lantai 1. Kasihan mami kalau harus naik turun tangga hanya untuk membangunkan aku dan kakakku. Bel yang dipasang dekat dapur ini mau tidak mau akan membangunkan siapapun yang mendengarnya. Bel ini mirip dengan bel yang dipasang di sekolah SD. Di pagi hari ini pula, semua anak dibiasakan untuk sarapan pagi dengan menu yang lengkap. Jadi jangan pernah berharap hanya akan ada nasi goreng dengan telur mata sapi saja. Di meja makan pasti juga sudah tersedia nasi, lauk, dan sayur, plus susu (sangat segar karena dipesan dari tukang susu langganan yang mengantarnya setiap hari). Kalau Pak Bondan bilang sih, mak nyuss…
 
Disiplin ini pula yang mengantarkan aku sekolah dasar di dua tempat sekaligus. Pagi di SD Negeri dan siang hari di SD Islam. Aneh… buat apa sekolah dua kali sehari? Begitu banyak tanya orang kepadaku. Saat kelas 1 dan 2, setelah sekolah di SD Negeri, aku pergi ke madrasah diniyah. Setelah itu, Bapak yang lebih banyak mengajarkan membaca al-Quran di rumah. Yang pasti, setiap pagi, selain sarapan fisik, aku juga selalu sarapan otak karena pasti berebutan baca koran Merdeka dengan Bapak.
 
Orang bilang aku ini terlalu aktif, gak ada habisnya. Mungkin karena kedua orang tuaku selalu mengajarkan aku untuk seperti ini. Berani bertanya di mana saja. Oh ya, Mami adalah guru di Tsanawiyah (setingkat SMP), sedangkan Bapak (saat aku kecil) menjadi Pramugara di Maskapai Garuda, walaupun kemudian akhirnya menjadi dosen.
 
Sejak kecil, Bapak selalu mengajak belajar dengan bermain. Biasanya biji korek yang dijadikan alatnya. Majalah Kuncung, menjadi majalah pertamaku. Membaca, menulis, dan berhitung sudah dilakukan sebelum masuk SD. Sebelum kelas 1, aku sudah tamat pelajaran kelas 1. Saat kelas 1, aku sudah tamat pelajaran kelas 2. Jadi saat kelas 2, aku sudah tamat pelajaran kelas 3. Model sekolah rumah (sekarang dikenal dengan istilah homeschooling) sudah dilakukan Bapak. Belajar menjadi menyenangkan. Apa yang terjadi? Di sekolah, nilai 10 sih sudah biasa. Aku kesal kalau ada murid yang nilainya di atas aku. Ketika aku naik kelas tiga di SD Negeri, Bapak melihat potensi lebih pada diriku. Akhirnya dengan bantuan seorang sepupu aku yang jadi guru di SD Islam ini, aku pun sekolah siang dan mencoba langsung masuk di kelas empat. Kalau istilah sekarang dikenal sebagai akselerasi.
 
Mau tahu apa yang terjadi? Pembagian rapor di SD Islam kuartal 1, langsung ranking 3. Aku menjalani sekolah dua kali ini hingga ijazah sudah aku terima dari SD Islam, padahal di SD Negeri aku baru saja naik kelas enam. Aneh kan… masak siang sekolah di SMP Negeri dan paginya masih SD? Ngomong-ngomong SMP Negeri, aku juga lulus dari SD Islam ini terbaik loh… dan nilai-nilai ku sangat memuaskan. Tapi apa hubungannya dengan disiplin? Nah, pulang sekolah dari SD Negeri, aku harus cepat kembali ke rumah, makan siang, ganti baju (seragam SD Negeri rok biru, sedangkan SD Islam rok hijau), mengganti isi tas, dan naik oplet (sejenis angkot, pernah tenar waktu film si Doel Anak Sekolahan disiarin di salah satu stasiun TV swasta).  Biasanya akan sampai di SD Islam sangat mepet dengan bel sekolah, dan bahkan lebih sering terlambat. Akhirnya dihukum sebentar di ruang kepala sekolah untuk membaca ikrar sebelum masuk sekolah. Sesuatu yang tidak pernah aku terima saat sekolah di SD Negeri. Tapi ada sesuatu yang lucu. Saat testing (ujian catur wulan), teman sebangku saat di SD Islam adalah murid kelas di bawah. Jadi aku kelas 4, teman sebangku kelas 3. Padahal pagi harinya, aku sudah mengerjakan soal kelas 3. Jadi saat ujian, aku kasih bocoran saja pada teman sebangku soal yang akan keluar. Ternyata, soalnya memang sama. Untunglah, guruku gak melihat, atau pura-pura gak lihat ya? Ha ha ha…
 
Toh kedisiplinan lah yang membuat aku bisa menghadapi pekerjaan yang rumit. Jangan tanya bagaimana harus mengerjakan pekerjaan rumah tugas sekolah. Aku jalani dengan senang di sela-sela membaca buku cerita dan nonton tv kesukaan aku (Saat itu, masih jarang orang yang punya tv. Rumah menjadi tempat orang untuk nonton bareng. Televisi masih hitam putih, ukuran 14 inch). Saat sekolah di SD Islam ini pula aku pernah ikut lomba cerdas cermat di TVRI, bersama Zaenal Arifin dan Kurniadi. Aku dong yang jadi juru bicara. Grup A dari SD Islam Miftahul Falah Tanah Kusir, dengan juru bicara Lina Miftahul Jannah, sebelah kanan saya Kurniadi dan sebelah kiri saya Zaenal Arifin. Saat ini SD Islam ini sudah berganti nama menjadi SD Islam Al-Azhar IV. Bapak tidak pernah memaksa saya untuk belajar karena semua sudah berjalan sesuai relnya. Bahkan, Bapak selalu mengajarkan, jangan belajar menjelang ujian. Mendingan main, nonton tivi, dan bahkan jalan-jalan. Jadilah, mami sering mengajak jalan ke Blok M untuk beli ayam panggang (bukan ayam bakar loh, tapi dipanggang berputar di oven) atau otak sapi di rumah makan padang Beringin. Nyam nyam… Kalau ayam panggang, pasti di makan di rumah. Soalnya nenekku juga suka sama ayam panggang ini. Foto-foto di taman Martha Christina Tiahahu sudah biasa kami lakukan. Aku senang main di sana karena ada gajah dan dinosaurus yang bisa dijadikan perosotan.
 
Main setiap hari luar biasa… mulai dari main sepeda di lapangan dekat rumah, main hujan dengan tetangga, atau main bekel. Wah, yang ini aku jagoannya. Boneka? Ah, itu sih mainan anak perempuan. Gak ada kamusnya aku mainan boneka. Naik pohon rambutan, pohon belimbing, atau jambu, atau main ayunan di depan rumah, itu hobi lainnya.
 
Jadi saya bingung, ketika anak sekarang bilang stres menjelang ujian. Perasaan, saya tidak pernah mengalaminya sedikitpun deh. Mungkin karena saya selalu belajar dan mendengar dengan baik apa yang dijelaskan guru, mengulangnya sedikit di rumah dengan mengetik atau mencatat kembali materi. Selebihnya… c’est la vie… Amazing deh.

Yang Mulia, Pimpinan Sidang

Yang mulia, Pimpinan Sidang
Rasanya aneh saja ketika pimpinan sidang hanya mendengar sebagian informasi
Rasanya tak adil saja ketika pimpinan sidang bersikap masa bodoh
Rasanya tak pantas saja ketika pimpinan sidang memandang kami berbeda
 
Yang mulia, Pimpinan Sidang
Saya tidak akan meminta kepada rekan saya
Saya juga tidak akan meminta kepada bawahan saya
Saya hanya minta pimpinan sidang menempatkan diri
 
Yang mulia, Pimpinan Sidang
Cobalah melihat dengan mata terbuka,
Mendengar dengan telinga lebar,
Merasakan dengan hati ikhlas
Kami ini sama, bukan untuk dibeda-bedakan
 
Yang mulia, Pimpinan Sidang
Berlakulah seharusnya
Berlakulah semestinya
Berlakulah sepantasnya
Karena engkau Pimpinan Sidang
 
                                                           Depok, 19 April 2011, 17.38

(Lagi-lagi tentang) Ujian Nasional, Guru, dan Pensil

Dua hari lewat, suami saya menceritakan tentang sesuatu hal. Akhirnya saya ketawa ngakak. Ini ada kaitannya dengan Ujian Nasional.

Saya punya tetangga yang punya anak kelas 3 SMA di salah satu SMA Negeri di Depok. Si anak bercerita pada ibunya bahwa guru di sekolahnya bilang kalau sekarang banyak pensil 2B palsu. Pensil 2B ini adalah pensil yang harus digunakan untuk mengisi lembar jawaban agar terbaca oleh pemindai komputer. Yang aneh adalah pernyataan sang guru bahwa kalau pensil 2B yang asli hanya dijual di tokobuku XXX (silakan tebak sendiri karena khawatir jadi iklan nantinya J).

sumber: zoutendamc.wonecks.net

Bagi saya, bolehlah mewanti-wanti siswa untuk tidak dirugikan karena pensil 2B nya palsu. Tapi, jangan sampai berbicara di depan kelas dan menyatakan bahwa yang asli hanya dijual di toko tertentu. Memangnya toko buku hanya toko XXX? Toko buku lainnya bagaimana? Atau toko alat tulis yang ada di pinggir jalan bagaimana? Duh… kalau kayak begini, boleh gak saya bilang “yang bodoh siapa sih?”

Hati-hati Bapak/Ibu Guru yang terhormat. Guru = digugu  dan ditiru. Nah kalau Bapak/Ibu guru saja sudah beriklan di depan kelas, bagaimana siswa akan bersikap netral. Apakah karena Bapak/Ibu guru mendapat komisi dari tokobuku tersebut? Maaf, saya tidak bermaksud menuduh. Cukuplah Bapak/Ibu kerjasama dengan penerbit untuk menjual buku dan mendapat komisi hingga 40%. Tapi masak harus merambah ke alat tulis juga?

Lev Yashin dan Chef Yasin

Bagi orang yang tidak suka olahraga sepakbola mungkin tidak kenal dengan Lev Yashin. Nama lengkap sang kiper legendaries kesebelasan Rusia ini adalah Lev Ivanovich Yashin. Kehandalannya menjaga gawang menjadi satu keindahan. Terus, apa hubungan sang goal keeper ini dengan Chef Yasin?

Coba lihat kedua foto di bawah ini.

 

Nah yang sebelah kiri ini foto Lev Yashin. Ganteng kan…?

 

 

 

 

 

 

Untuk foto Chef Yasin, saya akan cari dulu ya. Chef yang ini punya nama lengkap Muhammad Yasin. Berhubung ada tawaran untuk menambah nama belakangnya di paspor, akhirnya menjadi Muhammad Yasin Sipahutar. Selain hobi makan dan jago main kartu domino (gaple) di pos satpam pojokan perumahan, ia juga punya hobi lain mendengarkan lagu-lagu india. Jadi kalau Briptu Norman baru dikenal sekarang dengan Gaya Chaiyya Chaiyya Sahrukh Khan, Dia sudah lebih dulu hafal menyanyikan lagu-lagu dan bahkan sudah menonton film-film India sejak lama. Nah, salah satu pakaian bola yang dimiliknya pun bertuliskan Lev Yasin.

Tapi, bukan itu yang saya ingin membagi dalam catatan ini. Pada suatu minggu di akhir bulan Maret yang lalu, saat saya baru saja bangun tidur siang, saya lihat dia sedang sibuk di dapur. Suamiku memasak. Malunya hati ini. Masak, isteri enak-enak tidur, suami malah menguasai dapur. Akhirnya, setelah sholat Magrib, saya makan masakannya. This is it simple lodeh ala chef Yasin (sambil meniru Farah Quinn). Waw… enak  banget. Sayur lodeh tapi bumbunya ringan. Kalo mau meminjam istilahnya Pak Bondan Mak Nyusss, Top Markotop! Langsung habis…. tak bersisa. Thanks Chef! Ternyata, Abang gak hanya jago menulis berita, tapi juga jago memasak. Nyam…nyam…