D.I.S.I.P.L.I.N itu indah

Saya mengingat kembali sebuah rangkaian perjalanan hidup yang membekas dari Kenanga 11. Teet… teet… teet. Ya, itulah panggilan tiga kali yang biasa dilakukan mami pagi hari sebelum berangkat mengajar agar anak-anaknya tidak kesiangan. Bunyi bel yang nyaring pada awalnya dianggap mengganggu. Pemasangan bel adalah hasil diskusi keluarga. Rumah kami yang seperti kereta dan berlantai dua membuat agak capek kalau harus membangunkan satu per satu anak di masing-masing kamar. Aku dan kakakku tidur di lantai dua. Adikku yang lainnya tidur di lantai 1. Kasihan mami kalau harus naik turun tangga hanya untuk membangunkan aku dan kakakku. Bel yang dipasang dekat dapur ini mau tidak mau akan membangunkan siapapun yang mendengarnya. Bel ini mirip dengan bel yang dipasang di sekolah SD. Di pagi hari ini pula, semua anak dibiasakan untuk sarapan pagi dengan menu yang lengkap. Jadi jangan pernah berharap hanya akan ada nasi goreng dengan telur mata sapi saja. Di meja makan pasti juga sudah tersedia nasi, lauk, dan sayur, plus susu (sangat segar karena dipesan dari tukang susu langganan yang mengantarnya setiap hari). Kalau Pak Bondan bilang sih, mak nyuss…
 
Disiplin ini pula yang mengantarkan aku sekolah dasar di dua tempat sekaligus. Pagi di SD Negeri dan siang hari di SD Islam. Aneh… buat apa sekolah dua kali sehari? Begitu banyak tanya orang kepadaku. Saat kelas 1 dan 2, setelah sekolah di SD Negeri, aku pergi ke madrasah diniyah. Setelah itu, Bapak yang lebih banyak mengajarkan membaca al-Quran di rumah. Yang pasti, setiap pagi, selain sarapan fisik, aku juga selalu sarapan otak karena pasti berebutan baca koran Merdeka dengan Bapak.
 
Orang bilang aku ini terlalu aktif, gak ada habisnya. Mungkin karena kedua orang tuaku selalu mengajarkan aku untuk seperti ini. Berani bertanya di mana saja. Oh ya, Mami adalah guru di Tsanawiyah (setingkat SMP), sedangkan Bapak (saat aku kecil) menjadi Pramugara di Maskapai Garuda, walaupun kemudian akhirnya menjadi dosen.
 
Sejak kecil, Bapak selalu mengajak belajar dengan bermain. Biasanya biji korek yang dijadikan alatnya. Majalah Kuncung, menjadi majalah pertamaku. Membaca, menulis, dan berhitung sudah dilakukan sebelum masuk SD. Sebelum kelas 1, aku sudah tamat pelajaran kelas 1. Saat kelas 1, aku sudah tamat pelajaran kelas 2. Jadi saat kelas 2, aku sudah tamat pelajaran kelas 3. Model sekolah rumah (sekarang dikenal dengan istilah homeschooling) sudah dilakukan Bapak. Belajar menjadi menyenangkan. Apa yang terjadi? Di sekolah, nilai 10 sih sudah biasa. Aku kesal kalau ada murid yang nilainya di atas aku. Ketika aku naik kelas tiga di SD Negeri, Bapak melihat potensi lebih pada diriku. Akhirnya dengan bantuan seorang sepupu aku yang jadi guru di SD Islam ini, aku pun sekolah siang dan mencoba langsung masuk di kelas empat. Kalau istilah sekarang dikenal sebagai akselerasi.
 
Mau tahu apa yang terjadi? Pembagian rapor di SD Islam kuartal 1, langsung ranking 3. Aku menjalani sekolah dua kali ini hingga ijazah sudah aku terima dari SD Islam, padahal di SD Negeri aku baru saja naik kelas enam. Aneh kan… masak siang sekolah di SMP Negeri dan paginya masih SD? Ngomong-ngomong SMP Negeri, aku juga lulus dari SD Islam ini terbaik loh… dan nilai-nilai ku sangat memuaskan. Tapi apa hubungannya dengan disiplin? Nah, pulang sekolah dari SD Negeri, aku harus cepat kembali ke rumah, makan siang, ganti baju (seragam SD Negeri rok biru, sedangkan SD Islam rok hijau), mengganti isi tas, dan naik oplet (sejenis angkot, pernah tenar waktu film si Doel Anak Sekolahan disiarin di salah satu stasiun TV swasta).  Biasanya akan sampai di SD Islam sangat mepet dengan bel sekolah, dan bahkan lebih sering terlambat. Akhirnya dihukum sebentar di ruang kepala sekolah untuk membaca ikrar sebelum masuk sekolah. Sesuatu yang tidak pernah aku terima saat sekolah di SD Negeri. Tapi ada sesuatu yang lucu. Saat testing (ujian catur wulan), teman sebangku saat di SD Islam adalah murid kelas di bawah. Jadi aku kelas 4, teman sebangku kelas 3. Padahal pagi harinya, aku sudah mengerjakan soal kelas 3. Jadi saat ujian, aku kasih bocoran saja pada teman sebangku soal yang akan keluar. Ternyata, soalnya memang sama. Untunglah, guruku gak melihat, atau pura-pura gak lihat ya? Ha ha ha…
 
Toh kedisiplinan lah yang membuat aku bisa menghadapi pekerjaan yang rumit. Jangan tanya bagaimana harus mengerjakan pekerjaan rumah tugas sekolah. Aku jalani dengan senang di sela-sela membaca buku cerita dan nonton tv kesukaan aku (Saat itu, masih jarang orang yang punya tv. Rumah menjadi tempat orang untuk nonton bareng. Televisi masih hitam putih, ukuran 14 inch). Saat sekolah di SD Islam ini pula aku pernah ikut lomba cerdas cermat di TVRI, bersama Zaenal Arifin dan Kurniadi. Aku dong yang jadi juru bicara. Grup A dari SD Islam Miftahul Falah Tanah Kusir, dengan juru bicara Lina Miftahul Jannah, sebelah kanan saya Kurniadi dan sebelah kiri saya Zaenal Arifin. Saat ini SD Islam ini sudah berganti nama menjadi SD Islam Al-Azhar IV. Bapak tidak pernah memaksa saya untuk belajar karena semua sudah berjalan sesuai relnya. Bahkan, Bapak selalu mengajarkan, jangan belajar menjelang ujian. Mendingan main, nonton tivi, dan bahkan jalan-jalan. Jadilah, mami sering mengajak jalan ke Blok M untuk beli ayam panggang (bukan ayam bakar loh, tapi dipanggang berputar di oven) atau otak sapi di rumah makan padang Beringin. Nyam nyam… Kalau ayam panggang, pasti di makan di rumah. Soalnya nenekku juga suka sama ayam panggang ini. Foto-foto di taman Martha Christina Tiahahu sudah biasa kami lakukan. Aku senang main di sana karena ada gajah dan dinosaurus yang bisa dijadikan perosotan.
 
Main setiap hari luar biasa… mulai dari main sepeda di lapangan dekat rumah, main hujan dengan tetangga, atau main bekel. Wah, yang ini aku jagoannya. Boneka? Ah, itu sih mainan anak perempuan. Gak ada kamusnya aku mainan boneka. Naik pohon rambutan, pohon belimbing, atau jambu, atau main ayunan di depan rumah, itu hobi lainnya.
 
Jadi saya bingung, ketika anak sekarang bilang stres menjelang ujian. Perasaan, saya tidak pernah mengalaminya sedikitpun deh. Mungkin karena saya selalu belajar dan mendengar dengan baik apa yang dijelaskan guru, mengulangnya sedikit di rumah dengan mengetik atau mencatat kembali materi. Selebihnya… c’est la vie… Amazing deh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s