Pengalaman penelitian Timbel di Bandung dan Makassar

Saya teringat dengan sebuah penelitian yang saya lakukan di Bandung pada September dan di Makassar pada November 2005. Saya diminta membantu Indonesia LIC (Lead Information Center ) atau yang dikenal dengan KPBB (Komite Penghapusan Bensin Bertimbel). Bersama SPBU (Sri Paramita Budhi Utami) aka Pammy, saya sempat ngekost 1 bulan di Bandung di Kawasan Dago Atas. Sempat merasakan bagaimana banjir di Dago. Keliling dari satu SD ke SD lain, mengambil sampel darah dengan alat khusus, merayu anak-anak SD ini agar mau diambil darahnya, dan mencoba menghentikan tangis mereka karena saat darah diambil ternyata berceceran. Luar biasa karena saya baru pertama kali bekerjasama dengan ilmuan non sosial. Sampai pada akhirnya saya belajar dari dr. Budi dari Dinkes Bandung bagaimana menggunakan alat yang ada. Di Makassar lain lagi ceritanya. Saya berpindah dari satu spot ke spot lain di pinggiran jalan. Yang diambil darahnya lebih banyak anak jalanan. Ternyata anak jalanan jauh lebih berani dan bahkan menyodorkan jarinya untuk diambil darahnya.

Hasilnya cukup menakjubkan. Mereka yang sehari-hari mengendarai motor selama 30 menit, kadar timbelnya lebih besar dibanding mereka yang naik kendaraan umum. Mungkin karena lebih tertutup. Tapi jangan salah. Mereka yang naik mobil pribadi juga memiliki kadar timbel yang cukup juga kok, karena timbel ini sangat kecil butirannya. Mereka masuk lewat mesin dan saluran AC. Yang pasti belum ada obatnya. Mau tahu apa akibat jangka panjang jika terkena timbel? Otak jadi lambat bekerjanya dan menurun fungsinya, otomatis IQ jadi jeblok. Untuk orang dewasa pencemaran timbel dapat menyebabkan tekanan darah tinggi, serangan jantung, kemandulan, dan pada level yang sangat tinggi dapat menyebabkan kematian. Serem kan?

Berikut presentasi hasil penelitian di Bandung.

hasil penelitian di bandung sumber: http://www.kpbb.org/makalah_ind/PenelitianTimbelKotaBandung.pdf

Jadi, gimana cara mengurangi kadar timbel ini ya? Berikut hasil omong-omong saya dengan dr. Budi.

1. Cari lokasi sekolah atau kerja gak usah jauh dari rumah.

2. Kalau terpaksa jauh, carilah tempat tinggal yang ”greeny” sehingga kita bisa “refresh” kembali karena menghirup udara yang bersih.

3. Gunakan selalu masker kalau di jalan raya. Ini bukan untuk mencegah, tetapi mengurangi timbel yang bisa terhirup.

4. Gunakan bensin biru yang ramah lingkungan.

5. Lebih baik naik kendaraan umum ketimbang motor. Yah, hitung-hitung juga mengurangi kemacetan.

6. Terakhir, kalau gak penting, mendingan di rumah aja. Dengan catatan, rumahnya juga sejuk ya. Banyak tanam pohon, bukan hanya di rumah kita tapi di sekelilingnya.

“UNTUK HIDUP YANG LEBIH SEHAT”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s