LOST IN “HEAVEN”

Tulisan ini diperuntukkan bagi 2 rekan yang benar-benar hilang di “Heaven”.

Salah satu obyek wisata yang dituju saat di Beijing adalah Temple of Heaven. Saat menjelaskan sejarah temple ini, Jeni, sang guide menjelaskan bahwa biasanya kalau pasangan berdoa di kuil ini, maka akan menjadi langgeng.

Nah… setelah melewati pintu utara sebagai pintu masuk, Sang guide bilang bahwa kita akan keluar melalui pintu timur. Yang namanya peserta wisata, pasti cari momen untuk mengabadikan kenangan.

Duh, cuaca Beijing ternyata tidak seramah yang diharapkan. Panas menyengat menjadikan kami tidak begitu menikmati suasana kuil ini. Akhirnya, saya dan suami memutuskan tidak berkeliling dan hanya duduk-duduk saja di pelataran. Sampai akhirnya, waktu berwisata di kuil ini habis karena berikutnya kami akan menonton kungfu shaolin. Dengan berjalan agak cepat menuju pelataran parkir bus, saya sempat mengabadikan beberapa aktivitas yang dilakukan penduduk Beijing di sekitar temple. Menghitung dan menunggu anggota rombongan lain yang melakukan kegiatan rutin berupa panggilan alam sudah menjadi kebiasaan anggota rombongan yang ontime ada di bus.

Sampai akhirnya ternyata kami kehilangan 2 orang anggota, Mba Feb dan Mas Jati… Kok bisa?

Akhirnya, kami putuskan untuk meninggalkan mereka dan berangkat menuju tempat pertunjukkan Kung Fu. Kemana ya Mba Feb dan Mas Jati? Jangan-jangan…? Tapi kan…? Wah banyak pertanyaan-pertanyaan yang timbul yang akhirnya menjadi bercandaan Bus B. Mulai dari menebak apa sebabnya, kemana mereka, apakah memang ada hubungan istimewa, menjadi bahan tertawaan. Pasangan beda generasi ini memang menimbulkan tanda tanya besar. Pasalnya, sebelum kejadian ini, Mba Feb baru saja dijadikan bahan gurauan tentang hubungannya dengan Mas Ekos. Dibilang Mba Feb suka dengan daun muda lah… Padahal sekali lagi, ini cuma candaan saja. Gak lebih loh.

Sesaat sebelum pertunjukan Kung Fu dimulai, akhirnya mereka muncul. Sorak sorai membahana di daerah rombongan kami. Sampai semua orang yang berasal dari rombongan lain pun menoleh ke arah kami. Selesai pertunjukan akhirnya confirmatory Mba Feb dan Mas Jati menjadi tertawaan yang tiada henti. Mereka tidak tahu harus berkumpul di pintu timur sehingga ketika panik malah menuju pintu Barat. Katanya, mereka naik taxi sekitar 10 yuan.

Apakah hubungan mereka akan seperti legenda pasangan seperti yang disampaikan Jeni? Langgeng dan selamanya? Atau mungkin hanya sekedar bumbu semata? Seperti sejumput vetsin yang ditambahkan pada masakan agar lebih gurih?

Advertisements

“Peneliti atau Kurang Kerjaan sih?”: Catatan perjalanan ke Halmahera Selatan Kedua Kalinya

Waktu menunjukkan pukul 22.30 ketika saya berangkat ke rumah Azis pada 31 Mei kemarin. Diantar ‘Mas Bang’ (Yang ini panggilan iseng untuk suami saya. Soalnya kalau di teman-temannya kadang dipanggil dengan Mas Yasin. Padahal, jelas banget asalny si Abang ini dari tanah Batak sana. Akhirnya saya gabungkan saja dengan Mas Bang) pakai motor. Sampai di sana, langsung cabut ke halte UI karena Desy sudah menunggu. Go….
 
Sampai di Bandara 23.50. Brrr. Dingin. Pesawat masih lama. Niatnya mau tidur, tapi… ternyata Bapak-Bapak dari Halmahera Selatan juga pulang dengan pesawat yang sama. Akhirnya, ngobrol ngalor ngidul. Masuk pesawat Batavia on schedule 01.25. Tunggu sebentar gak lama saya udah tertidur. Pokoknya gak tahu jam berapa pesawat take-off. Tiba-tiba Azis menyenggol saya sambil menyerahkan panganan yang masih hangat dan saya akhirnya membangunkan Desy juga. Nasi? Jam segini. Ah, tidur lagi…
 
Pukul 03.30 berarti sudah di atas Makassar nih. Ada perbedaan waktu satu jam, ya sholat dulu deh dengan cara darurat. Pakai kapucon windbreaker. Untung udah pakai kaos kaki. Abis sholat, makan ah… lumayan juga rasanya. Pukul 05.30 mendarat di Ternate, nah ini berarti di Ternate sudah jam 07.30. Ada perbedaan 2 jam. Tunggu jemputan, terus diantar ke Bella International Hotel, mandi, sarapan pagi. Siap deh berangkat. Sekarang sudah 09.00 WIT, sesuai dengan permintaan. Kok gak ada yang jemput juga sih? Bukannya kami harus ke Kayoa? Akhirnya dijemput pukul 10, terus ke Pelabuhan, dan masih menunggu panitia yang katanya harus beli makanan dulu buat di speedboat. Uh, kebiasaan ngaretnya orang Halmahera belum sembuh juga.
 
Katanya panitia, dari Ternate menuju Kayoa hanya 1,5 jam. Berangkat pukul 10.30. 1 jam kemudian “Loh, kok ke Pulau Makian dulu, bukannya kami harus ke Kayoa?” Sekitar 15 menit setelah terombang-ambing di pinggir dermaga, akhirnya speedboat berangkat lagi menuju Kayoa. Merapat di Kayoa baru pukul 13.30. Gila…1,5 jam? Yang benar 3 jam, Pak! Gak sangka gak menduga, disambut luar biasa. Pakai tarian adat sampai 3 kali. Remaja, anak-anak, dan orangtua. Spanduk nya silakan lihat sendiri deh di foto. Mereka minta mekar atau minta jadi ibukota kabupaten sih?
saya dan spanduk “penuh semangat” di Kayoa”
 
Yang aneh, masak trotoar dicat warna pink? Masak rumah dikasih plang kantor kabupaten? Ternyata mereka hanya mengerjakan itu semua hanya dalam satu malam. Setelah itu, kami digiring ke rumah Pak Camat. Wah ada papeda (sagu yang makannya ikan berkuah), sate Bia (sate kerang laut pakai bumbu kacang), tumis jantung pisang dicampur daun pepaya dan bunga pepaya, gado-gado, telur mata sapi, telur balado, mie goreng, ikan goreng, dan ikan dabu-dabu. Muantapp. Apalagi sate bianya. Masak kerang diameternya 3 cm? Gede banget kan?
 
Acara resmi dimulai pukul 14.00. Uh, dari sambutan ke sambutan. Akhirnya FGD baru mulai 15.00. selesai FGD pukul 16.30. Sholat, pukul 17.00 kembali naik speedboat. Pukul 18.00 merapat lagi di Makian, ngobrol gak jelas gara-gara para politisi.
spanduk yang aneh
 
Pukul 19.45 akhirnya kembali naik speedboat menuju Ternate. Udah 1 jam kok gak nyampe-nyampe ya? Akhirnya saya dan Desy jadi gila sendiri dengan menyanyi-nyanyi. Padahal suara kami berdua bersaing dengan suara motor speedboat. Mulai dari mendengar di HP saya, nyalain laptop, sampai kemudian akhirnya sang nakhoda sadar dan mutarin lagu yang oke. Nyanyi lagi.
 
Merapat di dermaga Ternate pukul 22.15. Langsung menuju Restoran Stadion. Chinese food tapi gak terlalu istimewa. Saya pesan bihun ayam. Ya, Lumayan lah, hanya menghangatkan saja. Soal rasa sih, jangan ditanya.
 
Balik ke hotel pukul 23. Mandi, sholat, nonton Kuch Kuch Hota Hai sebentar, dan blas… nyenyak. Saya baru sadar tidur gak pakai selimut saat alarm Desy berbunyi pukul 05.00 WIT (di Depok baru pukul 03 pagi loh).
 
Bayangkan hampir 12 jam kerja penelitian. Pada saat orang di kampus UI libur karena sedang SNMPTN. Betul gak sih, kami bertiga peneliti sejati? Atau hanya orang-orang nekat yang merasa gak punya kerjaan sampai akhirnya sudi bertugas ke nun jauh di sana.