UI Teliti Implementasi UU KIP di Lombok

Ini Tulisan Wartawan Antara. Saya gak tahu yang mana orangnya yang menulis. Karena ada tiga orang yang jadi narasumber kami saat itu dan tidak ada satupun yang mengaku dari media Antara. Biasa sih. Wartawan kan memang kan sering jual berita juga.

Ada beberapa salah kutip misalnya. Yang diucapkan oleh saya misalnya dibilang diucapkan Desy. Tapi gak apa-apa. Selama penulisan nama gak salah (soalnya memang kami semua memberikan kartu nama. Jadi gak mungkin salah dong).

Antara- Kam, 20 Okt 2011

Lombok Barat, NTB (ANTARA) – Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia, melakukan penelitian terhadap implementasi Undang-Undang Nomor 14 tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik, di Kabupaten Lombok Barat.

Eko Sakapurnama, salah seorang peneliti dari Universitas Indonesia (UI) di Gerung, Kamis, mengatakan, riset itu dilakukan karena implementasi undang-undang Informasi Publik (KIP) tersebut di daerah ini masih relatif kurang.

“Kami menghimpun informasi dari kalangan birokrasi hingga insan pers di Lombok Barat. Kami ingin tahu apa kendalanya, sehingga implementasi UU KIP relatif kurang di daerah ini,” ujarnya.

Ia bersama dua peneliti lainnya sengaja memilih Kabupaten Lombok Barat menjadi lokasi riset kedua, selain di Kota Solo, Jawa Tengah, karena di daerah ini belum ada Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID).

Berbeda dengan di Kota Solo, kata dia, Pemerintah Kota Solo telah memiliki PPID sebagai implementasi UU KIP.

“Kedua wilayah itu dipilih sebagai bahan perbandingan antara daerah yang telah memiliki PPID dengan yang belum,” ujar Eko didampingi dua penieliti lainnya Nurul Safitri dan Lina Miftahul Jannah.

Menurut dia, hasil riset akan dijadikan sebagai bahan rekomendasi kepada pemerintah pusat dan daerah. Sementara dari sisi akademis, akan digunakan untuk menggembangkan keilmuan khususnya di Departemen Ilmu Administrasi UI.

“Penelitian ini tidak hanya dilakukan di Jakarta, tetapi kami juga ingin melihat dari sudut pandang di daerah bagaimana dalam mengimplementasikan UU KIP,” ujarnya.

Desy Hariyati, dosen dan juga peneliti UI lainnya mengatakan, hasil penelitian bukan sekedar disusun menjadi laporan tetapi juga akan dirangkum dalam jurnal yang nantinya dibawa ke konferensi untuk dibahas lebih mendalam.

Menurut dia, lahirnya UU KIP pada 2008 seharusnya memberikan manfaat terhadap kebebasan penyebaran informasi, namun faktanya implementasi di daerah belum sesuai harapan.

Salah satu contohnya, PPID harusnya sudah ada di daerah, tetapi buktinya belum semua daerah membentuk PPID,” ujarnya.

Berdasarkan hasil penelitian, kata Desy, dipandang perlu untuk melakukan sosialisasi tentang UU KIP kepada masyarakat serta pejabat publik di Kabupaten Lombok Barat.

“Masyarakat belum banyak tahu tentang UU KIP, padahal internet mudah diakses semua orang tanpa terkecuali,” ujarnya.

Advertisements

Tes kecerdasan ala Lombok

Pernah lihat rokok? Tahu gak isinya rokok itu dari daun tembakau? Pernah lihat langsung pohon tembakau? Tenang saja gak usah malu mengakui kalau memang gak tahu. Salah seorang rekan peneliti saya yang umurnya udah lewat separoh abad juga gak tahu kok. Padahal sepanjang jalan antara Lombok Tengah hingga Lombok Barat banyak dijumpai pohon tembakau, mulai dari yang masih baby sampai yang sudah siap panen.

Tahu gak kalau tempe yang kita makan dari kedele? Nah pasti gak asing dong bentuk pohon kedele, soalnya banyak juga dijual di abang-abang penjual jagung rebus? Nah, ketika saya menunjuk pohon yang dijual di pinggir jalan (ditanya lagi kepada rekan yang sama, loh) dia bilang itu ketela? Loh, setahu saya, yang namanya ketela tuh ada kaitannya dengan singkong. Kalau kedele kan semacam kacang-kacangan.

Ngobrol ngalor-ngilur tentang Lombok akhirnya sampai juga pertanyaan tentang oleh-oleh. Saat saya bertanya kepada sang sopir sewaan kami tentang oleh-oleh apa yang khas yang bisa saya peroleh dari Lombok, sang sopir bilang gerabah dan mutiara? Saya bilang, kalau gerabah itu banyak di Kasongan (salah satu daerah di DI Yogyakarta). Mau tahu apa yang diketahui rekan saya (masih orang yang sama) tentang gerabah? Gerabah itu besar terbuat dari kayu seperti tikar. Lah, itu kan lampit kalau orang Kalimantan bilang. Padahal, dulu kami pernah sama-sama penelitian di Plered Purwakarta. Mau tahu yang diteliti? Ya keramik alias gerabah.

Terakhir saat setelah makan malam di warung soto ayam bu Yugisah di Selaparang. Saya mau menguji kecerdasan rekan ini. “Mungkin kalau sudah kenyang, dia bisa menjawab dengan lebih tepat,” begitu pikir saya, walaupun tetap saja saya curiga dia gak akan bisa jawab. “Ayo, pohon apa namanya?” Dia jawab “Kopi, kan?” Benar saja kecurigaan saya terjawab. Jelas-jelas itu pohon Coklat atau Kakao. Sudah begitu, dia kasih alasan “Kan mirip…” Ayo, mirip apanya? Daunnya memang sama. Sama-sama berwarna hijau. Ha ha ha.

Sekali lagi, saya curiga. Ngakunya asli Pramuka atau Pramuka asli. Mana yang benar ya? Terakhir akhirnya diguyonin sama rekan peneliti yang lain. “Mba, gak pernah ngisi TTS ya?” Hanya si ukhti yang bisa menjawab sambil senyum-senyum malu.

Segala keunikan ada di Bandara Internasional Lombok

Satu pemandangan yang cukup mengherankan akan kita bisa rasakan saat kita sampai di Bandara Internasional Lombok (BIL). Bandara yang baru saja diresmikan oleh SBY pada 19 Oktober 2011 lalu memang jauh lebih bagus dibanding bandara lama di Selaparang. Namun, apa daya. Belum lagi satu bulan bandara ini beroperasi (1 Oktober 2011 dibuka) ternyata toilet tidak semuanya berfungsi. Baik toilet di lantai 1 maupun di lantai 2 ada saja yang rusak. Menurut petugas kebersihannya, soalnya dipakai setiap hari. “What?” memangnya kalau dipakai setiap hari bisa rusak apa? Jangan-jangan karena kualitas barang yang dipakainya memang gak baik.

photo by Muhammad Yasin
photo by Muhammad Yasin

Kalau bagasi sih, kayaknya memang terjadi diskriminasi. Pesawat kami yang tiba lebih dulu bagasi belakangan dibandingkan dengan bagasi pesawat lain yang isinya para pelancong asing. Sudah begitu, ternyata bagasi kedua pesawat digabung jadi satu. Padahal, di BIL ini disediakan dua tempat pengambilan bagasi. Itu saat di dalam.

Belum lagi kejadian, saat kami tiba 19 Oktober pagi, petugas masih sibuk memoles lantai luar (mungkin supaya terlihat lebih kinclong saat Presiden meresmikan. Di bagian luar bandara, ternyata ada toko pakaian branded loh. Wah, hebat. Tapi, siapa yah yang mau beli karena harga pakaian di tempat ini kan lumayan mahal walaupun ditulis besar-besar diskon 30%. Di tempat parkir mobil malah ada tukang parkir liar yang pakai ID card “guess”. Ketika kami tidak mau memberikan uang yang diminta, dia tetap memaksa. Padahal, saat keluar pintu gerbang bandara, juga diminta parkir resmi. Uh, inilah bangsaku. Mana nih pak polisi? We need you. Maksudnya untuk mengamankan bandara. Masak di bandara baru belum bebas pungli?

Keluar dari BIL, tontonan yang unik terlihat. Bergerombol orang di luar bandara. Ada yang merapat ke pagar bandara sambil memperhatikan pesawat, ada yang hanya melihat-lihat, tidak jelas apa yang dilihat, ada yang jajan (karena memang pedagang ikut mencari keuntungan di sela-sela keriuhan yang ada). Kata supir yang mengantar kami sih, ini juga disebabkan mereka mengantar haji para kerabatnya. Belum lagi, memang mereka pengen melihat pesawat. Liburan gratis, Sis/Bro. Atau, mungkin mereka ingin menyaksikan presiden datang ke daerah mereka? Wallahualam bissawab.

antusiasme masyarakat di BIL photo by Lina Miftahul Jannah
antusiasme masyarakat di BIL photo by Lina Miftahul Jannah

 

Kembali dari penelitian di Lombok, saya kira kerumunan masyarakat di bandara sudah usai. Ternyata, malah lebih banyak dari sebelumnya dan bahkan sampai masuk dekat sekali di samping gedung bandara. Kalau ini sih, memang terlihat mereka mengantar kerabat yang pergi haji.

kerumunan warga di pagar bandara photo by Lina Miftahul Jannah
kerumunan warga di pagar bandara photo by Lina Miftahul Jannah

Cari souvenir ah… Naik ke lantai dua, wah…. Sudah banyak toko yang buka di sini. Mulai dari batik (yang juga bermerek), oleh-oleh makanan, resto, hingga mutiara. “Mau….“ teriak salah satu rekan yang merasa oleh-oleh mutiara yang dibelinya belum cukup menghabiskan uang sakunya. Tapi, akhirnya kami gigit jari. Harga perhiasan mutiara di bandara 3 kali lipat dibandingkan dengan harga yang kami beli di Mataram dan Lombok Barat. Akhirnya, tinggallah lagu dengan judul “Mutiara yang Kurang” (coba menyanyikan lagu ini dengan nada lagu lawas “Mutiara yang Hilang”

               Lama sudah aku menanti
                Ketenangan di dalam hati
                Mutiara yang kurang ini
                Memang harus dibeli
                                 Mutiara yang kurang
                                Yang sedang kucari
                                Tak kunjung berjumpa
 Mutiara yang kurang
Bukanlah kiasan
Karena memang tak ada

Kata rekanku kepada suamiku yang ikut mendampingi kami di Lombok: “Bang, kalau Abang dikasih tugas ke Lombok, jangan lupa ya, aku titip mutiara yang kurang,” Ha ha ha…

Kiamat di Senggigi, mungkinkah?

Perdebatan tentang kapan kiamat akan terjadi mungkin menjadi perdebatan Ada yang bilang tahun 2011 ini, tahun 2012 (bahkan dibuat film dengan judul yang sama ‘2012’), ada yang bilang masih lama karena dihitung secara ilmiah, umur bumi masih ada beberapa ratus tahun lagi. Dan ini tentu saja menjadi perdebatan yang tidak akan pernah habis.

Banyak tanda kapan kiamat akan hadir. Mulai dari es di kutub yang mencair secara perlahan, tingkah laku manusia yang berubah 180 derajat, laki-laki senang berdandan seperti perempuan, dan sebaliknya, muncul penyakit aneh-aneh yang belum ada obatnya, dan kalau matahari terbit di barat dan terbenam di timur.

Nah, saat kami penelitian ke Lombok Barat kemarin, salah satu kegiatan yang kami lakukan saat waktu senggang adalah berjalan-jalan di pantai. Maklum, belum ke Lombok rasanya kalau belum ke Senggigi. Nah, saking padatnya jadual kegiatan penelitian, akhirnya kami hanya sempat ke pantai kala senja datang menjelang matahari terbenam. Maklum, matahari terbenam memang hanya indah jika dilihat saat tenggelam menyatu dengan laut. Dua hari berturut-turut melihat matahari tenggelam yah lumayan lah. Soalnya, di belakang hotel kami kan memang langsung pantai. Jadi, gak susah untuk melihat. Salah satu foto yang sempat saya abadikan di hari pertama seperti tergambar dalam tulisan ini. Indah kan?

"Sunset in Senggigi", Photo by Lina Miftahul Jannah
"Sunset in Senggigi", Photo by Lina Miftahul Jannah

Tapi, kapan nih lihat matahari terbitnya?

Seorang rekan peneliti – saya gak perlu menyebutkan namanya ya, khawatir kena pasal pencemaran nama baik – dengan santainya mengatakan “Besok pagi aja kita lihat sunrise di pantai belakang.” “What?” ujar saya dan rekan yang lain sambil terkaget dan kemudian kami semua ketawa tergelak. “Mana bisa?” ungkap kami lagi. “Yah,kan bangun tidur bisa langsung lihat ke belakang.”ucap rekanita ini. “Mana ada matahari terbenam dan terbit di satu tempat? Yang ada kalau kita mau lihat matahari terbit, harusnya kita pergi ke pantai Kuta di Lombok Tengah sana. Kalau pantainya di Lombok Barat atau sepanjang Senggigi, yang kita dapat hanya matahari terbenam.” ujar saya.

Akhirnya saya bilang, kalau itu terjadi, namanya kiamat. Ah, Ukhti yang satu itu memang kadang agak aneh. Tulisan berikutnya juga akan terkait dengan semua keluguan dia. Saya jadi ragu tentang kenyataan bahwa dia pernah jadi anggota pramuka. “Salam pramuka. Peace, Ukhti.”

Keterangan: Foto diambil dengan menggunakan kamera digital merek Kodak seri EasyShare C1013.