Segala keunikan ada di Bandara Internasional Lombok

Satu pemandangan yang cukup mengherankan akan kita bisa rasakan saat kita sampai di Bandara Internasional Lombok (BIL). Bandara yang baru saja diresmikan oleh SBY pada 19 Oktober 2011 lalu memang jauh lebih bagus dibanding bandara lama di Selaparang. Namun, apa daya. Belum lagi satu bulan bandara ini beroperasi (1 Oktober 2011 dibuka) ternyata toilet tidak semuanya berfungsi. Baik toilet di lantai 1 maupun di lantai 2 ada saja yang rusak. Menurut petugas kebersihannya, soalnya dipakai setiap hari. “What?” memangnya kalau dipakai setiap hari bisa rusak apa? Jangan-jangan karena kualitas barang yang dipakainya memang gak baik.

photo by Muhammad Yasin
photo by Muhammad Yasin

Kalau bagasi sih, kayaknya memang terjadi diskriminasi. Pesawat kami yang tiba lebih dulu bagasi belakangan dibandingkan dengan bagasi pesawat lain yang isinya para pelancong asing. Sudah begitu, ternyata bagasi kedua pesawat digabung jadi satu. Padahal, di BIL ini disediakan dua tempat pengambilan bagasi. Itu saat di dalam.

Belum lagi kejadian, saat kami tiba 19 Oktober pagi, petugas masih sibuk memoles lantai luar (mungkin supaya terlihat lebih kinclong saat Presiden meresmikan. Di bagian luar bandara, ternyata ada toko pakaian branded loh. Wah, hebat. Tapi, siapa yah yang mau beli karena harga pakaian di tempat ini kan lumayan mahal walaupun ditulis besar-besar diskon 30%. Di tempat parkir mobil malah ada tukang parkir liar yang pakai ID card “guess”. Ketika kami tidak mau memberikan uang yang diminta, dia tetap memaksa. Padahal, saat keluar pintu gerbang bandara, juga diminta parkir resmi. Uh, inilah bangsaku. Mana nih pak polisi? We need you. Maksudnya untuk mengamankan bandara. Masak di bandara baru belum bebas pungli?

Keluar dari BIL, tontonan yang unik terlihat. Bergerombol orang di luar bandara. Ada yang merapat ke pagar bandara sambil memperhatikan pesawat, ada yang hanya melihat-lihat, tidak jelas apa yang dilihat, ada yang jajan (karena memang pedagang ikut mencari keuntungan di sela-sela keriuhan yang ada). Kata supir yang mengantar kami sih, ini juga disebabkan mereka mengantar haji para kerabatnya. Belum lagi, memang mereka pengen melihat pesawat. Liburan gratis, Sis/Bro. Atau, mungkin mereka ingin menyaksikan presiden datang ke daerah mereka? Wallahualam bissawab.

antusiasme masyarakat di BIL photo by Lina Miftahul Jannah
antusiasme masyarakat di BIL photo by Lina Miftahul Jannah

 

Kembali dari penelitian di Lombok, saya kira kerumunan masyarakat di bandara sudah usai. Ternyata, malah lebih banyak dari sebelumnya dan bahkan sampai masuk dekat sekali di samping gedung bandara. Kalau ini sih, memang terlihat mereka mengantar kerabat yang pergi haji.

kerumunan warga di pagar bandara photo by Lina Miftahul Jannah
kerumunan warga di pagar bandara photo by Lina Miftahul Jannah

Cari souvenir ah… Naik ke lantai dua, wah…. Sudah banyak toko yang buka di sini. Mulai dari batik (yang juga bermerek), oleh-oleh makanan, resto, hingga mutiara. “Mau….“ teriak salah satu rekan yang merasa oleh-oleh mutiara yang dibelinya belum cukup menghabiskan uang sakunya. Tapi, akhirnya kami gigit jari. Harga perhiasan mutiara di bandara 3 kali lipat dibandingkan dengan harga yang kami beli di Mataram dan Lombok Barat. Akhirnya, tinggallah lagu dengan judul “Mutiara yang Kurang” (coba menyanyikan lagu ini dengan nada lagu lawas “Mutiara yang Hilang”

               Lama sudah aku menanti
                Ketenangan di dalam hati
                Mutiara yang kurang ini
                Memang harus dibeli
                                 Mutiara yang kurang
                                Yang sedang kucari
                                Tak kunjung berjumpa
 Mutiara yang kurang
Bukanlah kiasan
Karena memang tak ada

Kata rekanku kepada suamiku yang ikut mendampingi kami di Lombok: “Bang, kalau Abang dikasih tugas ke Lombok, jangan lupa ya, aku titip mutiara yang kurang,” Ha ha ha…

2 thoughts on “Segala keunikan ada di Bandara Internasional Lombok”

  1. Pak…. itulah BIL, sekelumit kisah kami hidup di proyek BIL 2 tahun “berperang dg waktu & masyarakat..” kami rasa sudah tidak perlu kami jabarkan lagi, anda akan tahu kehidupan disini jika anda tinggal di desa ketara….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s