Tes kecerdasan ala Lombok

Pernah lihat rokok? Tahu gak isinya rokok itu dari daun tembakau? Pernah lihat langsung pohon tembakau? Tenang saja gak usah malu mengakui kalau memang gak tahu. Salah seorang rekan peneliti saya yang umurnya udah lewat separoh abad juga gak tahu kok. Padahal sepanjang jalan antara Lombok Tengah hingga Lombok Barat banyak dijumpai pohon tembakau, mulai dari yang masih baby sampai yang sudah siap panen.

Tahu gak kalau tempe yang kita makan dari kedele? Nah pasti gak asing dong bentuk pohon kedele, soalnya banyak juga dijual di abang-abang penjual jagung rebus? Nah, ketika saya menunjuk pohon yang dijual di pinggir jalan (ditanya lagi kepada rekan yang sama, loh) dia bilang itu ketela? Loh, setahu saya, yang namanya ketela tuh ada kaitannya dengan singkong. Kalau kedele kan semacam kacang-kacangan.

Ngobrol ngalor-ngilur tentang Lombok akhirnya sampai juga pertanyaan tentang oleh-oleh. Saat saya bertanya kepada sang sopir sewaan kami tentang oleh-oleh apa yang khas yang bisa saya peroleh dari Lombok, sang sopir bilang gerabah dan mutiara? Saya bilang, kalau gerabah itu banyak di Kasongan (salah satu daerah di DI Yogyakarta). Mau tahu apa yang diketahui rekan saya (masih orang yang sama) tentang gerabah? Gerabah itu besar terbuat dari kayu seperti tikar. Lah, itu kan lampit kalau orang Kalimantan bilang. Padahal, dulu kami pernah sama-sama penelitian di Plered Purwakarta. Mau tahu yang diteliti? Ya keramik alias gerabah.

Terakhir saat setelah makan malam di warung soto ayam bu Yugisah di Selaparang. Saya mau menguji kecerdasan rekan ini. “Mungkin kalau sudah kenyang, dia bisa menjawab dengan lebih tepat,” begitu pikir saya, walaupun tetap saja saya curiga dia gak akan bisa jawab. “Ayo, pohon apa namanya?” Dia jawab “Kopi, kan?” Benar saja kecurigaan saya terjawab. Jelas-jelas itu pohon Coklat atau Kakao. Sudah begitu, dia kasih alasan “Kan mirip…” Ayo, mirip apanya? Daunnya memang sama. Sama-sama berwarna hijau. Ha ha ha.

Sekali lagi, saya curiga. Ngakunya asli Pramuka atau Pramuka asli. Mana yang benar ya? Terakhir akhirnya diguyonin sama rekan peneliti yang lain. “Mba, gak pernah ngisi TTS ya?” Hanya si ukhti yang bisa menjawab sambil senyum-senyum malu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s