hallo… sekolah untuk apa?

Mau dibawa kemana pendidikan ini? Saat angka-angka hanya dijadikan dasar untuk mengambil kebijakan pendidikan. Sekolah dianggap berhasil kalau semua siswa lulus uan. Guru dianggap berhasil kalau nilai-nilai anak didiknya melebihi rata-rata. Orangtua akan bangga kalau anaknya bisa masuk sekolah unggulan atau RSBI.

Akhirnya semua berlomba bahu-membahu untuk mengejar angka-angka ini, tanpa pernah peduli akan tujuan pendidikan. Membuat orang menjadi terdidik, mampu membedakan yang benar dari yang salah, mampu mendewasakan orang, mampu membangun karakter manusia, memanusiakan manusia.

Pada akhirnya semua orang berlomba-lomba menjadi instan. Mengejar kekurangan hanya melalui lembaga bimbingan belajar dan privat. Orangtua banting tulang yang penting anaknya bisa lulus dengan angka membanggakan, tidak penting cara-cara yang dilakukannya. Instan menjadi pilihan saat ini, karena memang tidak ada pilihan lainnya saat ini..

Angka akhirnya menistakan proses bagaimana pendidikan seharusnya dilakukan. Ketika ada seorang guru yang mencoba menegakkan nilai-nilai pendidikan, dianggap oleh banyak pihak sebagai suatu kesalahan. Istilahnya “guru killer”.

Rasanya peran dan fungsi guru pun berubah. Guru yang pendidik jadi manusia langka. Guru hanya sekedar profesi untuk mencari uang semata. Salahkah ini? Tentu tidak semua bisa disalahkan kepada guru.

Sekali lagi, makna pendidikan harus dilihat kembali. Kurikulum harus diurai kembali. Apa tujuan pendidikan? Ataukah pendidikan hanya jadi komoditas semata yang pada akhirnya merebut hak anak-anak untuk menikmatinya?

Cikarang, Hotel Citra Inn, 28 November 2011 (Walaupun ditulis di Cikarang, namun penulis adalah warga Depok, jadi tetap diakhiri dengan kalimat di bawah ini):

Dari Depok untuk Indonesia yang Lebih Baik

Selamat Hari Guru

Hari ini katanya Hari Guru. Saya juga baru tahu dan tahunya dari radio yang dari pagi memutar siaran tentang siapa guru yang paling diingat, paling berjasa.

Bagi saya, guru saya yang paling saya ingat dan paling saya hafal adalah orangtua saya. Bapak saya yang mengenalkan saya membaca dan berhitung dengan cara yang sangat sederhana saat saya belum memulai sekolah. Mami saya mengajarkan saya banyak hal tentang segala hal kehidupan. Saya lupa siapa yang pertama kali mengajarkan saya membaca Al-Quran. Yang pasti bukan orang lain, pasti keduanya.

Guru saat di sekolah SD Negeri yang saya ingat ketika kelas satu adalah Ibu Watiyah. Rambutnya yang keriting, badannya yang kurus. Saat sekolah di SD Islam, yang cukup saya ingat  adalah kepala sekolah yang sering menghukum saya karena keterlambatan saya hadir di sekolah, tetapi sering juga memuji saya karena mungkin saya pintar. Ha ha ha. Namanya Pak Rusmadi Saad.

Saat SMP, ada beberapa guru yang saya ingat, Ibu Neneng yang mengajar matematika (kalau teman-teman saya bilang, Bu Neneng adalah guru yang paling galak) dan Pak Fauzun yang mengajar PMP (biasanya kalau ke sekolah naik vespa biru), dan Pak Radi yang mengajar sejarah dan PSPB. Yang terakhir ini pernah tanya kepada saya, apa mata pelajaran yang paling saya tidak suka. Saya jawab sejarah dan PSPB. Saya yakin, Pak Radi pasti terkaget-kaget. Kan itu mata pelajaran yang dia asuh. Saya bilang “Soalnya gak penting, Pak. Hanya menghafal tahun-tahun tapi gak jelas tujuannya untuk apa.” Nah loh. Kaget kan ada anak SMP berani sama gurunya.

Saat SMA, ada dua orang guru yang begitu melekat. Pertama guru Matematika, yang kedua guru PMP. Dua-duanya orang Batak. Pak Polin Sinaga adalah guru matematika sedangkan Ibu Emmy Ambarita adalah guru PMP. Alhamdulillah, di kedua pelajaran tersebut nilai saya 9.

Pak Polin, saya memanggilnya Opung, sangat kecewa ketika saya berkunjung ke SMA 70 dan bilang kalau saya kuliah di jurusan PMP-KN IKIP Jakarta. Soalnya dia berharap, saya bisa kuliah di jurusan matematika. “Gak bisa lah, Pung. Saya kan dari IPS,” ucap saya membela diri ketika ditanya mengapa tidak mengambil matematika. Waktu dia mengajar saya, mungkin umurnya sudah di atas 60 tahun. Sedangkan Ibu Emmy, akhirnya yang membuat saya senang dengan pelajaran PMP yang orang lain mungkin membencinya. Ada sebenarnya satu lagi guru yang akhirnya membuat saya senang matematika. Sepupu saya, Kang Uding (almarhum).

Nah, itulah guru-guru saya. Apakah pembaca masih ingat siapa saja guru-guru yang telah berjasa?

Di balik itu semua. Saya mengucapkan terima kasih tiada hingga kepada orang-orang yang berjasa menjadikan saya seperti ini. Duh rindunya saya kepada mereka. Kapan ya saya bisa bertemu mereka lagi?

Selamat hari Guru, Bapak/Ibu. Semoga orang-orang yang mau menjadi guru bukan karena tidak mendapatkan pekerjaan lainnya, bukan karena hanya untuk mengejar materi semata, tetapi punya tujuan mulia. Semoga semua jasa Bapak/Ibu diberikan balasan yang setimpal dari Allah SWT, karena Bukhari pernah meriwayatkan: Sampaikanlah ilmu walau satu ayat.

Lupa berbahasa Inggris di Korea, akhirnya….?

Namanya orang Indonesia, sehari-hari pasti memakai bahasa Indonesia, walaupun belum tentu menggunakan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).

Perjalanan ke Korea beberapa waktu lalu untuk menghadiri konferensi internasional membawa sedikit kelucuan. Konferensi yang harus saya hadiri adalah konferensi mahasiswa doktor se Asia. Jadi, para peserta pun menginap digabung dengan peserta konferensi dari negara lain. Kebetulan, teman satu kamar saya adalah Be, orang Thailand. Nama lengkapnya saya lupa. Soalnya, ejaannya agak susah. Kalau dari wajah, gak beda jauh lah dengan orang Indonesia, secara masih satu rumpun.

Tiba di Korea siang hari. Ngobrol-ngobrol sedikit dengan Be, biasalah saling bertanya tentang kebiasaan masing-masing. Soalnya kami akan satu kamar paling tidak 4 malam. Ngomong gak banyak bukan masalah kendala bahasa, tetapi kendala suara. Maklum, suara saya lagi habis sejak dari Jakarta.

Malam pertama, akhirnya saya tidur dengan nyenyak.  Sampai pada jam2 malam saya terbangun. Ini salah satu kebiasaan buruk saya. Saya lihat, roommate saya masih asik berinternet menggunakan fasilitas kabel yang ada di kamar hotel.  Loh kok dia gak tidur-tidur ya? Akhirnya di luar kesadaran karena masih terkaget-kaget bangun tidur, saya sapa Be dengan sapaan “kok belum tidur juga?” Mau tahu komentar Be mendengar pertanyaan saya? “What? I don’t understand.”

Untungnya saya cepat tersadar. “Sorry, Be. I think I’m still in Indonesia. And your face is not different with Indonesian face. so, I’m forgot. You are not Indonesian.” Akhirnya, ngomong ceplas-ceplos lagi dalam bahasa Inggris lagi.

Begini, nih. Kalau lahir, besar, dan setiap hari cas cis cus pakai bahasa Indonesia. Eh, di negara orang saja sampai lupa dan tetap berbahasa Indonesia. Sumpah Pemuda. … Berbahasa satu, bahasa Indonesia.

Dari Depok untuk Indonesia yang Lebih Baik.

SEA Games ke-26, Betulkah Jargon Jakarta-Palembang?

Membaca brosur, iklan, spanduk, atau apapun media massa yang meletakkan logo SEA Games ke 26  sedikit menyesakkan hati. Coba lihat logo Sea Games di samping.

logo SEA games ke 26
logo SEA games ke 26

Sebenarnya tidak ada yang salah kalau kita tidak mencermati dengan detail.  Tapi, perhatikan tulisan Jakarta-Palembang.

Saya sempat merenung seandainya dalam ujian SD ditanyakan kepada siswa “Di manakah SEA Games ke 26 dilaksanakan?” Ada seorang siswa SD yang sekolah di Jatiluhur, akan bingung manakala pilihan jawaban yang diajukan adalah A. Jakarta-Palembang, B. Bogor-Palembang, C. Purwakarta-Palembang, D. Depok-Palembang.  Padahal semua jawabannya betul.

Mengapa? Karena SEA Games ke-26 ini dilaksanakan bukan hanya di Jakarta-Palembang, tetapi Bogor, Purwakarta, dan Depok juga. 44 cabang olahraga yang dipertandingakan tidak semuanya dilaksanakan di Jakarta-Palembang. Di Bogor, misalnya pertandingan down hill atau cross-country yang merupakan cabang olahraga sepeda akan dilaksanakan di Gunung Pancar dan Sentul City. Anggar juga bukan dilaksanakan di Jakarta, tetapi di Kota Depok, tepatnya di Kampus Universitas Indonesia. Berkuda dilaksanakan di Cinere, bagian dari kota Depok. Terakhir, Jatiluhur di Purwakarta dijadikan ajang tempat perlombaan dayung.

Bagi pemerintah Indonesia, mungkin 4 jenis pertandingan/perlombaan ini adalah hanya bagian kecil. Tapi, bagaimana dengan ketepatan informasi? Ingat loh. Indonesia kan negara dengan 33 provinsi dan 497 kabupaten/kota (data KPPOD, Juni 2009). Jangan sampai di kemudian hari banyak orang menganggap Purwakarta, Bogor, dan Depok adalah bagian dari Jakarta, seperti halnya selalu saya dengar kalau baru landing di Bandara Soekarno-Hatta(Bandara Soetta). Pramugari akan menyampaikan ucapan selamat datang kepada penumpang “Selamat datang di Bandara Soekarno-Hatta di Jakarta. Waktu sekarang menunjukkan… bla bla bla.” Padahal jelas-jelas kalau Bandara Soetta letaknya di Provinsi Banten. Kalau untuk alasan karena masalah registrasi internasional, okelah saya bisa maklum, karena berarti harus menyurati semua maskapai, harus mengganti semua papan petunjuk.

Hanya saja, jangan sampai terjadi kerancuan yang di kemudian hari merugikan anak cucu kita.  Di manakah Bandara Soekarno-Hatta berada. A. Jakarta, B. Banten, C. Bandung, D. Bogor. Anak-anak yang terbiasa naik pesawat akan menjawab Jakarta, sedangkan anak-anak yang tinggal di Banten (dekat Bandara Soetta) akan menjawab Banten.

Kalau sudah begini, siapa yang salah? Soalnya, penyakit seperti ini jadi menular. Seorang kawan yang rumahnya di Bintaro mengaku tinggal di Jakarta, padahal Bintaro masuk Kota Tangerang Selatan. Atau, warga yang tinggal di Bekasi akan pamer kalau dia tinggal di Jakarta saat pulang kampung. Padahal Bekasi yang mana? Kota Bekasi atau Kabupaten Bekasi?

Kalau saya sih tetap setia dengan sebuah pengakuan. Saya lahir, besar, dan menikah di Jakarta, orangtua saya menetap dan memiliki rumah di Jakarta, tepatnya di Jakarta Selatan, tetapi saat ini saya telah menjadi warga Kota Depok, Provinsi Jawa Barat.

Dari Depok untuk Indonesia yang Lebih Baik

Dewi Fortuna, selalu jadi kambing hitam kekalahan Timnas Indonesia

Di negara asalnya sana, Yunani Kuno, keberadaan unsur supranatural diwakili oleh sosok dewa dan dewi. Unsur supranatural ditandai dengan bentuknya menyerupai manusia, namun memiliki kemahakuasaan untuk mengatur kehidupan manusia. Dewa diperuntukan bagi laki-laki sedangkan dewi penamaan untuk perempuan. Sosok ini beragam jenis dan menguasai jagat raya dari berbagai unsur. Biasanya berujud manusia, hewan, atau perpaduan keduanya. Di Yunani Kuno ini ada 12 dewa/dewi yang sangat dihormati. Hal yang sama juga ada di Romawi Kuno. Perbedaannya hanya pada penamaan dewa/dewi tersebut. Salah satu dewa yang terkenal dalam mitologi Romawi adalah Fortuna karena menyebarkan keberuntungan bagi yang bernasib baik. Berhubung Fortuna berjenis kelamin perempuan, maka disebutlah Dewi. Maka lahirlah Dewi Fortuna. Saya sendiri tidak tahu pasti apakah di Yunani Kuno dikenal juga Dewi Fortuna, karena dari beberapa literatur yang saya baca, Dewi Fortuna dikenalnya di Romawi Kuno.

Tapi cukuplah kita membicarakan sejarah Sang Dewi, karena bukan itu yang saya ingin bahas dalam tulisan ini.

Menonton pertandingan sepakbola Indonesia melawan Malaysia dalam final Sea Games ke-26 Senin 21 November 2011 menyisakan sedikit pilu. Pada akhir pertandingan yang kemudian dimenangkan Malaysia lewat adu pinalti, sang komentator televisi sempat menyatakan “Mungkin Dewi Fortuna belum bersama Indonesia saat ini”. Memang tidak tepat sekali kutipan saya ini, tetapi intinya seperti itu, menyayangkan Sang Dewi yang tidak berpihak ke Indonesia di malam selasa. Akhirnya terlintas di benak saya. Berarti, Dewi Fortuna tidak pernah berniat ada di pihak Indonesia sejak lama, terutama kalau bertanding melawan Malaysia.

Mungkin pembaca masih ingat saat final piala AFF yang lalu saat Indonesia juga bertekuk lutut di negara “truly asia” ini, atau saat penentuan juara grup, masih dalam SEA Games 2011 ini, yang juga “belum menang” melawan negara jiran ini. Apakah Sang Dewi memang enggan berkunjung ke timnas? Atau kesalahan Fortuna yang tidak mau memberikan sebagian sayap keberuntungan kepada tim Garuda?

Saya hanya menyesalkan ketika akhirnya Fortuna disalahkan. Bukannya, kita memang tetap harus mengacungkan jempol, menyampaikan selamat kepada tim lawan, karena mereka memang main baik. Itulah sportivitas. Bukan menyalahkan bos RD sang pelatih, bukan menyalahkan Gunawan atau Ferdinand karena gak berhasil dalam pinalti, menyalahkan Octo karena maunya main sendiri gak membagi bola sama rekan, atau menyalahkan Meiga yang dianggap teledor karena lupa bahwa bola itu bundar dan menggelinding masuk ke gawang walaupun sudah ditepis. Yang harus dilakukan adalah pembenahan, instrospeksi, atau evaluasi 360 derajat. Bukan hanya evaluasi mengapa mental pemain gak pernah menjadi siap, mengapa seorang Irfan Bachdim atau Kim Kurniawan bertingkah seperti selebritas, atau mengapa calo tiket gak bisa juga diberantas, tetapi evaluasi menyeluruh. Semua pemangku kepentingan atau istilah kerennya stakeholders. Pemerintah yang gak pernah dewasa dengan PSSI. Media massa yang gak pernah puas bergosip. Pengusaha yang gak pernah berpikir sosial. Penonton yang gak pernah mau timnya kalah. Pemain yang merasa harus dia yang menggolkan karena agar lebih terkenal. Pelatih yang gak mau mencari bibit unggul jauh-jauh hari. Atau, mungkin saya sendiri yang gak pernah mau membela timnas.

Marilah bebenah diri. Sepakbola bukan permainan individu, tetapi permainan tim. Harus ada sebelas raga dengan satu hati. Perlu ada pembagian kerja (work division), perlu ada deskripsi kerja (job description) yang jelas, perlu ada rentang kendali (span of control), dan perlu juga patok banding (benchmark). Perlu ada saling mengerti, bukan ingin menang sendiri. Beda dengan perlombaan balap karung saat 17 agustusan yang siapa saja bisa bermain tanpa perlu dukungan orang lain.

Jadi, jangan mengkambinghitamkan Dewi Fortuna karena membuat Indonesia tidak pernah menang. Cobalah untuk memanggil Dewi Fortuna dengan menyatakan, kami sudah siap menjadi negara kuat di persepakbolaan. Jadi akan kami jamu, jika engkau mau hadir di negara kami. Selamat datang di Indonesia.

Dari Depok untuk Indonesia yang Lebih Baik.