Dewi Fortuna, selalu jadi kambing hitam kekalahan Timnas Indonesia

Di negara asalnya sana, Yunani Kuno, keberadaan unsur supranatural diwakili oleh sosok dewa dan dewi. Unsur supranatural ditandai dengan bentuknya menyerupai manusia, namun memiliki kemahakuasaan untuk mengatur kehidupan manusia. Dewa diperuntukan bagi laki-laki sedangkan dewi penamaan untuk perempuan. Sosok ini beragam jenis dan menguasai jagat raya dari berbagai unsur. Biasanya berujud manusia, hewan, atau perpaduan keduanya. Di Yunani Kuno ini ada 12 dewa/dewi yang sangat dihormati. Hal yang sama juga ada di Romawi Kuno. Perbedaannya hanya pada penamaan dewa/dewi tersebut. Salah satu dewa yang terkenal dalam mitologi Romawi adalah Fortuna karena menyebarkan keberuntungan bagi yang bernasib baik. Berhubung Fortuna berjenis kelamin perempuan, maka disebutlah Dewi. Maka lahirlah Dewi Fortuna. Saya sendiri tidak tahu pasti apakah di Yunani Kuno dikenal juga Dewi Fortuna, karena dari beberapa literatur yang saya baca, Dewi Fortuna dikenalnya di Romawi Kuno.

Tapi cukuplah kita membicarakan sejarah Sang Dewi, karena bukan itu yang saya ingin bahas dalam tulisan ini.

Menonton pertandingan sepakbola Indonesia melawan Malaysia dalam final Sea Games ke-26 Senin 21 November 2011 menyisakan sedikit pilu. Pada akhir pertandingan yang kemudian dimenangkan Malaysia lewat adu pinalti, sang komentator televisi sempat menyatakan “Mungkin Dewi Fortuna belum bersama Indonesia saat ini”. Memang tidak tepat sekali kutipan saya ini, tetapi intinya seperti itu, menyayangkan Sang Dewi yang tidak berpihak ke Indonesia di malam selasa. Akhirnya terlintas di benak saya. Berarti, Dewi Fortuna tidak pernah berniat ada di pihak Indonesia sejak lama, terutama kalau bertanding melawan Malaysia.

Mungkin pembaca masih ingat saat final piala AFF yang lalu saat Indonesia juga bertekuk lutut di negara “truly asia” ini, atau saat penentuan juara grup, masih dalam SEA Games 2011 ini, yang juga “belum menang” melawan negara jiran ini. Apakah Sang Dewi memang enggan berkunjung ke timnas? Atau kesalahan Fortuna yang tidak mau memberikan sebagian sayap keberuntungan kepada tim Garuda?

Saya hanya menyesalkan ketika akhirnya Fortuna disalahkan. Bukannya, kita memang tetap harus mengacungkan jempol, menyampaikan selamat kepada tim lawan, karena mereka memang main baik. Itulah sportivitas. Bukan menyalahkan bos RD sang pelatih, bukan menyalahkan Gunawan atau Ferdinand karena gak berhasil dalam pinalti, menyalahkan Octo karena maunya main sendiri gak membagi bola sama rekan, atau menyalahkan Meiga yang dianggap teledor karena lupa bahwa bola itu bundar dan menggelinding masuk ke gawang walaupun sudah ditepis. Yang harus dilakukan adalah pembenahan, instrospeksi, atau evaluasi 360 derajat. Bukan hanya evaluasi mengapa mental pemain gak pernah menjadi siap, mengapa seorang Irfan Bachdim atau Kim Kurniawan bertingkah seperti selebritas, atau mengapa calo tiket gak bisa juga diberantas, tetapi evaluasi menyeluruh. Semua pemangku kepentingan atau istilah kerennya stakeholders. Pemerintah yang gak pernah dewasa dengan PSSI. Media massa yang gak pernah puas bergosip. Pengusaha yang gak pernah berpikir sosial. Penonton yang gak pernah mau timnya kalah. Pemain yang merasa harus dia yang menggolkan karena agar lebih terkenal. Pelatih yang gak mau mencari bibit unggul jauh-jauh hari. Atau, mungkin saya sendiri yang gak pernah mau membela timnas.

Marilah bebenah diri. Sepakbola bukan permainan individu, tetapi permainan tim. Harus ada sebelas raga dengan satu hati. Perlu ada pembagian kerja (work division), perlu ada deskripsi kerja (job description) yang jelas, perlu ada rentang kendali (span of control), dan perlu juga patok banding (benchmark). Perlu ada saling mengerti, bukan ingin menang sendiri. Beda dengan perlombaan balap karung saat 17 agustusan yang siapa saja bisa bermain tanpa perlu dukungan orang lain.

Jadi, jangan mengkambinghitamkan Dewi Fortuna karena membuat Indonesia tidak pernah menang. Cobalah untuk memanggil Dewi Fortuna dengan menyatakan, kami sudah siap menjadi negara kuat di persepakbolaan. Jadi akan kami jamu, jika engkau mau hadir di negara kami. Selamat datang di Indonesia.

Dari Depok untuk Indonesia yang Lebih Baik.

4 thoughts on “Dewi Fortuna, selalu jadi kambing hitam kekalahan Timnas Indonesia”

  1. Sepakbola Indonesia butuh kompetisi yang stabil untuk membangun timnas yang tangguh, baik junior ataupun senior, termasuk dalam hal adu penalti. Mental anak muda Jiran lbh siap menghadapinya, padahal di hadapan ratusan ribu suporter lawan.

    Salam

    1. Setuju. Masalahnya di Indonesia lebih senang orang berkompetisi mendapatkan jabatan dibandingkan menunjukkan prestasi. Karena jabatan dianggap sebagai prestasi dan bukan amanah. Karena jabatan erat dengan kekuasaan (power). Dan power tends to corrupt. Ternyata orang Indonesia senang dengan korupsi. Terbukti jumlah korupsi gak pernah turun.

  2. Tulisan yang baik. Saya kira Dewi Fortuna lebih menaungi Malaysia, karena Malaysia membangun Sepakbolanya lebih baik dari Indonesia. Info lengkapnya sila mampir ke blog saya, tentang kemenangan proses. Senang bisa berkunjung ke blog ini. Salam Kenal

    1. Salam kenal juga. Saya setuju, bahwa segala kesuksesan dimulai dengan proses. Sebuah proses berarti bukan tanpa kerja keras. Indonesia lebih mementingkan hasil ketimbang proses. Kesuksesan model instan seperti ini tidak akan bertahan lama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s