SEA Games ke-26, Betulkah Jargon Jakarta-Palembang?

Membaca brosur, iklan, spanduk, atau apapun media massa yang meletakkan logo SEA Games ke 26  sedikit menyesakkan hati. Coba lihat logo Sea Games di samping.

logo SEA games ke 26
logo SEA games ke 26

Sebenarnya tidak ada yang salah kalau kita tidak mencermati dengan detail.  Tapi, perhatikan tulisan Jakarta-Palembang.

Saya sempat merenung seandainya dalam ujian SD ditanyakan kepada siswa “Di manakah SEA Games ke 26 dilaksanakan?” Ada seorang siswa SD yang sekolah di Jatiluhur, akan bingung manakala pilihan jawaban yang diajukan adalah A. Jakarta-Palembang, B. Bogor-Palembang, C. Purwakarta-Palembang, D. Depok-Palembang.  Padahal semua jawabannya betul.

Mengapa? Karena SEA Games ke-26 ini dilaksanakan bukan hanya di Jakarta-Palembang, tetapi Bogor, Purwakarta, dan Depok juga. 44 cabang olahraga yang dipertandingakan tidak semuanya dilaksanakan di Jakarta-Palembang. Di Bogor, misalnya pertandingan down hill atau cross-country yang merupakan cabang olahraga sepeda akan dilaksanakan di Gunung Pancar dan Sentul City. Anggar juga bukan dilaksanakan di Jakarta, tetapi di Kota Depok, tepatnya di Kampus Universitas Indonesia. Berkuda dilaksanakan di Cinere, bagian dari kota Depok. Terakhir, Jatiluhur di Purwakarta dijadikan ajang tempat perlombaan dayung.

Bagi pemerintah Indonesia, mungkin 4 jenis pertandingan/perlombaan ini adalah hanya bagian kecil. Tapi, bagaimana dengan ketepatan informasi? Ingat loh. Indonesia kan negara dengan 33 provinsi dan 497 kabupaten/kota (data KPPOD, Juni 2009). Jangan sampai di kemudian hari banyak orang menganggap Purwakarta, Bogor, dan Depok adalah bagian dari Jakarta, seperti halnya selalu saya dengar kalau baru landing di Bandara Soekarno-Hatta(Bandara Soetta). Pramugari akan menyampaikan ucapan selamat datang kepada penumpang “Selamat datang di Bandara Soekarno-Hatta di Jakarta. Waktu sekarang menunjukkan… bla bla bla.” Padahal jelas-jelas kalau Bandara Soetta letaknya di Provinsi Banten. Kalau untuk alasan karena masalah registrasi internasional, okelah saya bisa maklum, karena berarti harus menyurati semua maskapai, harus mengganti semua papan petunjuk.

Hanya saja, jangan sampai terjadi kerancuan yang di kemudian hari merugikan anak cucu kita.  Di manakah Bandara Soekarno-Hatta berada. A. Jakarta, B. Banten, C. Bandung, D. Bogor. Anak-anak yang terbiasa naik pesawat akan menjawab Jakarta, sedangkan anak-anak yang tinggal di Banten (dekat Bandara Soetta) akan menjawab Banten.

Kalau sudah begini, siapa yang salah? Soalnya, penyakit seperti ini jadi menular. Seorang kawan yang rumahnya di Bintaro mengaku tinggal di Jakarta, padahal Bintaro masuk Kota Tangerang Selatan. Atau, warga yang tinggal di Bekasi akan pamer kalau dia tinggal di Jakarta saat pulang kampung. Padahal Bekasi yang mana? Kota Bekasi atau Kabupaten Bekasi?

Kalau saya sih tetap setia dengan sebuah pengakuan. Saya lahir, besar, dan menikah di Jakarta, orangtua saya menetap dan memiliki rumah di Jakarta, tepatnya di Jakarta Selatan, tetapi saat ini saya telah menjadi warga Kota Depok, Provinsi Jawa Barat.

Dari Depok untuk Indonesia yang Lebih Baik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s