Selamat Hari Guru

Hari ini katanya Hari Guru. Saya juga baru tahu dan tahunya dari radio yang dari pagi memutar siaran tentang siapa guru yang paling diingat, paling berjasa.

Bagi saya, guru saya yang paling saya ingat dan paling saya hafal adalah orangtua saya. Bapak saya yang mengenalkan saya membaca dan berhitung dengan cara yang sangat sederhana saat saya belum memulai sekolah. Mami saya mengajarkan saya banyak hal tentang segala hal kehidupan. Saya lupa siapa yang pertama kali mengajarkan saya membaca Al-Quran. Yang pasti bukan orang lain, pasti keduanya.

Guru saat di sekolah SD Negeri yang saya ingat ketika kelas satu adalah Ibu Watiyah. Rambutnya yang keriting, badannya yang kurus. Saat sekolah di SD Islam, yang cukup saya ingat  adalah kepala sekolah yang sering menghukum saya karena keterlambatan saya hadir di sekolah, tetapi sering juga memuji saya karena mungkin saya pintar. Ha ha ha. Namanya Pak Rusmadi Saad.

Saat SMP, ada beberapa guru yang saya ingat, Ibu Neneng yang mengajar matematika (kalau teman-teman saya bilang, Bu Neneng adalah guru yang paling galak) dan Pak Fauzun yang mengajar PMP (biasanya kalau ke sekolah naik vespa biru), dan Pak Radi yang mengajar sejarah dan PSPB. Yang terakhir ini pernah tanya kepada saya, apa mata pelajaran yang paling saya tidak suka. Saya jawab sejarah dan PSPB. Saya yakin, Pak Radi pasti terkaget-kaget. Kan itu mata pelajaran yang dia asuh. Saya bilang “Soalnya gak penting, Pak. Hanya menghafal tahun-tahun tapi gak jelas tujuannya untuk apa.” Nah loh. Kaget kan ada anak SMP berani sama gurunya.

Saat SMA, ada dua orang guru yang begitu melekat. Pertama guru Matematika, yang kedua guru PMP. Dua-duanya orang Batak. Pak Polin Sinaga adalah guru matematika sedangkan Ibu Emmy Ambarita adalah guru PMP. Alhamdulillah, di kedua pelajaran tersebut nilai saya 9.

Pak Polin, saya memanggilnya Opung, sangat kecewa ketika saya berkunjung ke SMA 70 dan bilang kalau saya kuliah di jurusan PMP-KN IKIP Jakarta. Soalnya dia berharap, saya bisa kuliah di jurusan matematika. “Gak bisa lah, Pung. Saya kan dari IPS,” ucap saya membela diri ketika ditanya mengapa tidak mengambil matematika. Waktu dia mengajar saya, mungkin umurnya sudah di atas 60 tahun. Sedangkan Ibu Emmy, akhirnya yang membuat saya senang dengan pelajaran PMP yang orang lain mungkin membencinya. Ada sebenarnya satu lagi guru yang akhirnya membuat saya senang matematika. Sepupu saya, Kang Uding (almarhum).

Nah, itulah guru-guru saya. Apakah pembaca masih ingat siapa saja guru-guru yang telah berjasa?

Di balik itu semua. Saya mengucapkan terima kasih tiada hingga kepada orang-orang yang berjasa menjadikan saya seperti ini. Duh rindunya saya kepada mereka. Kapan ya saya bisa bertemu mereka lagi?

Selamat hari Guru, Bapak/Ibu. Semoga orang-orang yang mau menjadi guru bukan karena tidak mendapatkan pekerjaan lainnya, bukan karena hanya untuk mengejar materi semata, tetapi punya tujuan mulia. Semoga semua jasa Bapak/Ibu diberikan balasan yang setimpal dari Allah SWT, karena Bukhari pernah meriwayatkan: Sampaikanlah ilmu walau satu ayat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s