Max Weber Theory dan kehadiran pendamping saat pengucapan sumpah atau pelantikan pejabat?

Baru saja saya diminta hadir acara arisan bapak-bapak di samping rumah. “Maaf,” saya bilang. “Karena acara itu acara bapak-bapak saya tidak akan hadir.”

Saya ini perempuan, jadi bukan bapak-bapak. Suami saya yang hadir di acara tersebut.

“Tapi, bu, kita yang ibu-ibu diundang ke acara itu oleh tuan rumah.” Saya akhirnya bilang lagi.

“Saya hanya berusaha menempatkan diri sesuai dengan kapasitas dan peran saya. Kalau acara itu untuk bapak-bapak ya bapak-bapak yang datang, kalau untuk pengurus, ya pengurus yang datang. Saya tidak akan datang, karena saya bukan bapak-bapak dan bukan pengurus.”

Tetangga saya ini, yang juga salah seorang pengurus (dan perempuan) juga menambahkan “Ibu gak usah birokratis gitu deh.”

Loh saya jadi bingung. Justru saya menempatkan diri supaya merit system dan tidak personal.

MaxWeber dalam penelitiannya dulu melihat bahwa negara yang ditelitinya ini (kalau gak salah namanya Prusia) sangat tidak beres, personalitas, KKN, spoil system, tidak berdasarkan prosedur dan hukum. Weber akhirnya membuat teori tentang the ideal type of bureaucracy.  Nah, sebagai pengajar administrasi negara, saya yang berusaha untuk tidak mencampurkan urusan pribadi dengan urusan organisasi malah dibilang birokrat. Tapi sudahlah, memang kadang kita harus berjuang untuk sesuatu yang kita anggap benar.

Kalau organisasi dicampuri urusan pribadi karena gak enak dengan tetangga, akhirnya muncul juga nepotisme itu. Maaf, saya sejak kecil diajarkan untuk tidak seperti ini. Tetangga saya boleh bilang saya birokrat, tapi saya akan hadir dalam acara kalau memang untuk masyarakat umum. Ingat, saya bukan pejabat kalau di lingkungan warga, I am just only a citizen.

Saya jadi ingat saat pengucapan sumpah pimpinan KPK kemarin. Apa sih gunanya seorang isteri hadir dalam pengucapan sumpah (atau pelantikan) suaminya (atau mungkin suami hadir dalam pelantikan isterinya) ? Ya jelas, dong. Untuk mendukung pasangannya saat menjabat, sehingga tahu hak dan kewajibannya, tahu peran suami atau isterinya nya yang penting itu, tahu apa yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan, dan kejelasan status. Tapi, gak usah sampai ada di samping suami/isteri yang dilantik dan kemudian menerima ucapan selamat. Kecuali tujuannya, agar orang kenal siapa pasangannya dan pasangannya tersebut tahu siapa orang-orang di lingkungan kerja suami/isterinya. Yang penting kemudian, ini tidak dimanfaatkan untuk urusan suap-menyuap atau jadi selebriti dadakan karena jabatan pasangannya.

Jabatan itu amanah, bukan harus untuk diberi ucapan selamat. Lain halnya kalau ucapan selamat itu ditujukan kepada mempelai, di sebelah kanan dan kirinya mungkin memang pantas ada orang tua, atau wajar kalau suami/isteri datang dengan pasangannya saat resepsi pernikahan.

Jadi bagi para pasangan, gak perlu juga ikut kegiatan si pejabat manakala keluar kota dan bahkan minta dibayari kantor (dan kalau perlu minta per diem segala). Kalau mau ikut mendampingi, boleh-boleh saja, bahkan sangat penting untuk menjaga keharmonisan rumah tangga. Tapi bayar sendiri dong tiket dan kebutuhan lainnya.

Jadi kembali lagi ke persoalan undangan di atas. Saya akan tegas bilang sama ibu-ibu tetangga saya “Maafkan saya kalau menurut ibu-ibu saya terlalu birokratis. Saya hanya tidak mau mencampuri hal yang bukan wewenang saya. Bapak/Ibu yang telah dipilih warga biar dapat melaksanakan amanah dengan lancar tanpa intervensi dari pihak manapun. Sekali lagi maaf, kalau menurut ibu-ibu saya terlalu naif. Saya hanya ingin kita bisa menempatkan peran kita sesuai dengan yang seharusnya. Maaf ibu-ibu, kalau saya yang paling muda ini harus dianggap menggurui dan sok tahu. Saya hanya ingin saat nanti benar-benar jadi pejabat melihat pada deskripsi kerja dan tupoksi (tugas pokok dan fungsi) masing-masing.

Terima kasih Bu Yunita (disaksikan Ibu Laili dan Ibu Silvi), atas diskusi kita yang hangat di malam Minggu.

Dari Depok untuk Indonesia yang Lebih Baik

2 thoughts on “Max Weber Theory dan kehadiran pendamping saat pengucapan sumpah atau pelantikan pejabat?”

  1. Saya sangat setuju dengan ibu kita harus menempatkan sesuatu hal pada tempat dan peranya, tetapi apalah kita harus membuat peraturan yang memuat hal- hal yang tidak patut ( menurut saya ) dengan undang2 , tengoklah pada pejabat atau tokoh Indonesia yang tidak pernah melibatkan pasanganya pada kegiatan tugas yang memang tidak ada kaitanya, spti, Mahfud MD, Safei Ma’arif dan yang teranyar adalah mentri BUMN. Bahkan dalam harian yogya KR 24 Desember 2011. Safei Ma’arif baru – baru ini diundang ke India oleh koleganya yg rektor dan memiliki lebih36 ribu mahasiswa, dan Buya ( panggilan Safei Ma’arif) merasa malu denganya pasalnya, Ia tidak punya ruang kantor, tidak punya pasangan ( mungkin supaya tidak mengganggu tugasnya), intinya amat sangat sederhana, sangat kontras dengan almameter yang kita cintai ini , apakah ini yang dinamakan hasil yang melimpah dengan proses yang mungkin melimpah jua…………Aminn Buk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s