Pada suatu Senin: antara Takdir dan Tetangga adalah Keluarga Terdekat

Pagi-pagi dalam samar mimpi, tiba-tiba terdengar ketukan di pintu rumah. Siapa ya? Sambil aku bangun dan memandang ke luar jendela yang memang kusengaja tidak diberikan tirai. Masih gelap. “Bang…?” panggil aku, ketika kedua kalinya ketukan terdengar. Sekitar jam 2 dini hari, kebiasaan suamiku untuk pindah tidur ke depan televisi, walaupun kemudian televisi lah yang menonton dia pulas bermimpi. Ketukan ketiga akhirnya kubukakan pintu, masih dengan pakaian tidurku. “Oh, Pak RT. Ada apa ya?” tanya saya. Pak RT menjelaskan bahwa ada tetangga kami yang meninggal. Sambil aku nyalakan laptop, akhirnya saya paksa suami saya untuk bangun dengan menyalakan lampu. Kalau sudah begini, sebagai sekretarisnya Sekretaris RT (maklum, yang biasa mengetikkan surat keterangan warga adalah aku, jadi aku angkat diriku menjadi sekretarisnya Sekretaris RT karena suamiku lah yang jadi Sekretaris RT).

Cerita tentang tetanggaku yang meninggal, seperti de ja vu. Malam hari sebelum dia meninggal, tiba-tiba sang Kakak datang ke rumah meminta surat keterangan. Sudah jadi kesepakatan di tempat kami tinggal, ada biaya keamanan dan kebersihan yang harus dibayarkan setiap rumah tangga. Atas alasan ketidakmampuan lah sang Kakak dan juga adiknya (almarhum) menolak untuk membayar. Buat saya pribadi, alasan tidak mampu agak tidak wajar. Anak-anaknya  sekolah di sekolah mahal. Motor pun punya merek terbaru. Isteri si adik pun juga bekerja. Jadi, sedikit membesarkan masalah ketidakmampuan-lah. Ketika suami ku mempertanyakan masalah iuran, malah sang Kakak menceramahi suamiku tentang hak untuk memperoleh pelayanan yang tidak ada kaitannya.

Akhirnya, karena kesal, saya sempat komentar “Coba, bayar kewajibannya gak mau, bergaul dengan tetangga juga gak mau, kalau meninggal siapa yang mau ngurus?” Ucap saya sambil menyebutkan nama almarhum. Tiba-tiba mendengar nama yang saya sebutkan semalam meninggal, merinding jadinya. “Kok jadi kenyataan?” Moga-moga bukan karena intuisi saya ya… Yang pasti karena takdir yang Maha Kuasa.

Ketemu si isteri, terus terang saya katakan gak mengenal. Padahal saya itu katanya eksis di mana-mana, ha ha ha… Selesai melayat, pukul 08 kembali pulang, Beres-beres tas, siap berangkat ke kampus. Ternyata, gubrak, kaki terpeleset di tangga ke luar, keki kanan terkilir,  tangan dan lutut memar karena harus menahan badan dan wajah agar tidak terbentur lantai carport. Aku hanya berteriak “Pak Jono….” Karena hanya supirku yang ada dan aku pikir bisa membantu. Akhirnya memutuskan untuk pergi ke tukang urut dekat rumah dan membatalkan pergi ke kampus karena memang tidak bisa jalan. Sekali lagi takdir yang Maha Kuasa.

Seharian, tetangga ku bolak-balik ke rumah ngajak ngobrol dan ngerumpi tentang Majlis Ta’lim yang sudah lama aku tinggalkan karena gak bisa bolos kerja. Alhamdulillah, mudah-mudahan tetanggaku bisa menjadi keluarga terdekat ku, terutama jika terjadi apa-apa dengan keluarga ku. Amin.

 

Dari Depok untuk Indonesia yang Lebih Baik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s