Kopi? Yuk, mari…

Wah, kalau dingin-dingin seperti semalam, yang enak memang. minum kopi. Di Indonesia, seringkali kalau mau ngopi suka ditanya “Suka Robusta atau Arabica?” Terus terang, saya gak ngerti banyak. Yang saya tahu dua-dua nya berwarna hitam dan sedikit pahit. Akhirnya, saya coba browsing di internet perbedaan antara keduanya.

Kopi Arabica terkenal pahit walaupun rasanya lebih halus. Rasa kental dan asam terasa saat kita meminumnya. Aromanya wangi sedap mirip percampuran bunga dan buah. Untuk yang Robusta memiliki aroma yang lebih khas dan manis, warnanya  pun tergantung dari cara pengolahan, dan yang pasti teksturnya lebih kasar dari Arabica.  Nah, di Indonesia yang paling banyak itu Arabica. Kopi yang ada di daerahnya suami saya (Mandailing) adalah Arabica. Kop Aceh dan Toraja juga termasuk kelompok ini. Walaupun penghasil Arabica, namun orang Indonesia kebanyakan juga lebih suka Robusta karena lebih ringan rasanya.k
Saya sendiri sangat suka kopi pakai susu atau kopi pahit tanpa gula. Gimana gitu. Atau kopi ditambah coklat terus dicampur ke dalam adonan brownish. Yummy. Jadi deh, brownish rasa kopi.

Tapi, gak tahu juga ya, informasi itu betul atau tidak, enak arabica atau robusta.

Nah, kalau saya tanya kepada mahasiswa saya, mereka semua setuju kalau kopi yang satu ini paling mereka suka. Kopi jenis baru yaitu “copy paste”. Silakan terjemahkan sendiri maksudnya.

Dari Depok untuk Indonesia yang Lebih baik

Teknologi, Nilai Kemanusiaan, dan Etika

Pertama kali saya punya handphone tahun 1999. Handphone(HP) yang saya miliki saat itu sering disebut sebagai nokia pisang karena modelnya menyerupai pisang saat digeser ke bawah. Kalau gak salah keanu reeves pakai HP model ini waktu main di the matrix. Tapi saya gak akan bicara tentang bagaimana kelebihan HP ini dan apa hubungannya dengan mas keanu atau film the matrix.

Saya membeli HP ini pun bukan baru tetapi HP second yang harganya saat itu sudah 1,5 juta. Mahal, tapi karena lagi tren akhirnya terpaksa ikut tren. Abis, takut dibilang kuper. Hanya bertahan 3 bulan, HP ini akhirnya di bawa suamiku yang ditugaskan ke Medan. Akhirnya, karena ada teman jual HP nokia lain yang dia beli langsung di finlandia sana, ya saya beli lagi HP second. Serinya saya lupa. Harganya pun lebih mahal dari HP pertama saya.

Membawa HP pada tahun itu di jabodetabek aman2 saja sebab gak kena roaming. Masalah pertama terjadi waktu saya bawa HP tersebut ke Medan dengan nomor Jakarta. Walhasil, hanya terima telepon 5 menit aja pulsa 100 ribu langsung habis. Kejadian kedua waktu ke semarang. Hanya terima telepon 3 menit, ternyata pulsa hilang 30 ribu. Asal pembaca tahu, saat itu provider teleppn seluler hanya menyediakan telepon aja, belum ada sms. Harga simcard juga bukan seperti sekarang. Saya ingat, membeli ke grapari dan kemudian memilih nomor sekarang yang saya pakai seharga 525 ribu. Harga simcard 25 ribu plus pulsa 500 ribu. Wah, kok bisa ya saya begitu boros? Ya, namanya juga kebutuhan.

Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari, dan hari berganti tahun. Hingga saat ini, saya masih tetap setia dengan simcard yang saya beli di tahun 1999. Kebiasaan saya pun masih belum berubah. Saya masih senang menggunakan telepon untuk berkomunikasi lisan ketimbang via sms.

Bagi saya, teknologi tidak harus meninggalkan sisi kemanusiaan. Menyapa orang, mengucapkan selamat, atau meminta maaf tidak selayaknya dilakukan dengan sms. Bagi saya, sms, sesuai dengan kepanjangannya short message service, hanya pantas digunakan untuk hal-hal yang singkat. Meminta maaf? Itu hanya pantas dilakukan secara langsung apalagi kalau harus disertai argumentasi.

Wuh, tapi ternyata tidak dilakukan anak sekarang loh. Bahkan ada yang sering berpapasan tatap muka, tetapi gak berani bicara, karena satu atau banyak alasan, eh tiba-tiba kirim email. Gak bisa apa menyelesaikan segala sesuatu dengan mengedepankan unsur kemanusiaan? Takut? Gak jaman. Banyak kemungkinan salah persepsi terjadi manakala disampaikan secara tidak langsung.

Mungkin kalau dicontohkan pengumpulan data via kuesioner, face to face interview akan lebih baik dilakukan kalau kita ingin tahu bagaimana keberaksian responden kita dibandingkan self-administered atau mailed questionnaire.

Nah, kembali lagi kepada judul tulisan ini. Pertanyaan yang diajukan adalah, pantas gak sih teknologi meninggalkan nilai-nilai kemanusiaan? Boleh gak sih, hal-hal yang pribadi diumbar menjadi ranah publik hanya karena alasan group di BBM?

Berapa banyak orang komplain karena ketika urusan perceraian hanya melalui sms atau surat sedangkan urusan pernikahan menjadi urusan langsung yang tidak tergantikan dan rela harus mengarungi samudera dan juga menempuh banyak ujian?

Pantaskah? Jadi, kalau tiba-tiba ada orang yang memberikan.klarifikasi atau minta maaf pakai SMS atau email, jawaban yang akan saya berikan adalah “harus saya jawab dan saya balas ya? Ah, malas ah.¬† Saya masih manusia loh.”

I am me. Kalau mengutip boysband SM*ASH “You know me so well…”

Dari Depok untuk Indonesia yang Lebih Baik