Ikhlas tiada batas

Sebenanrnya capek menjadi orang yang ingin care tapi malah dibilang cerewet dan sok tahu.

Kalau salah untuk pertama kali, saya pikir pantas untuk menegor dengan kalimat yang sangat santun. Kesalahan kedua kali, saya kira harus dengan bahasa yang lebih lugas, langsung dan to the point. Nah, kalau sudah melakukan kesalahan yang sama ketiga kali dan berulang, saya lebih baik memilih untuk mendiamkan. Masak manusia harus melakukan kesalahan yang berulang seperti keledai. Apakah gak pernah bisa introspeksi?

Nah, begitu juga dengan sebuah institusi. Seorang pejabat dibayar bukan hanya untuk mengumpulkan harta kekayaan dari gaji dan fasilitas yang telah diperolehnya, melainkan harus bertanggungjawab menjaga keberhasilan prestasi institusinya.

Kalau di lingkungan pendidikan, apa ya? Tentu saja PIMNAS yang setiap tahun diusung Dikti bisa menjaga gambaran keberhasilannya. Hanya saja., kok saya semakin sedih kalau melihat mahasiswa sekarang yang ikut lomba Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), tapi gak membaca pedoman dengan baik. Lantas yang disalahkan adalah Dikti karena terlambat menginformasikan. Padahal, kalau dibaca dan dicermati dengan seksama, Dikti sudah membuat pedoman PKM dengan sangat rinci dan gamblang.

Mau menang? Ikuti aturannya. Serius melaksanakannya. Kalau hanya untuk sebagai penggembira karena ada jalan-jalannya, ya nikmatilah saja, bikin kegiatan asal ada dan bangga sampai tataran proposal. Untuk pertanggungjawaban? Jangan tanya. Soalnya masih bingung, uangnya belum cair, kok sudah diminta membuat laporan kemajuan.

Akhirnya? Jadilah laporan kemajuan dibuat sama dengan proposal. Salah siapa?

Terus, apa hubungannya dengan ikhlas? Setiap tahun, mulut ini selalu mengungkapkan pernyataan yang sama, tetapi setiap tahun berikutnya tidak pernah ada perubahan. Jadi, ikhlas saja. Toh, kalau berubah alhamdulillah, kalau tidak berubah dan berulang kembali sebut saja astaghfirullah. Ikhlas. Mudah-mudahan para pemimpin tidak seperti keledai yang terperosok di lubang yang sama.

Dari Depok untuk Indonesia yang lebih baik

Penguasa

Penguasa, penguasa,
Berilah hambamu uang
Beri hamba uang
Beri hamba uang

Sebait syair Bang Iwan Fals berjudul “Pesawat Tempur” mengingatkan saya saat penelitian ke Papua sekitar 9 tahun yang lalu. Tetapi, bukan itu yang akan saya tuliskan hari ini.

Kemarin ada seorang dosen saya yang menyebut saya adalah penguasa gedung di mana saya bekerja. Saya terbelalak. Saya ini bukan siapa-siapa, hanya prajurit yang kebetulan diberi sedikit kewenangan yang tidak terkait dengan pembuatan kebijakan, kecuali atasan saya menugaskan hal tersebut. Ruangan kerja saya juga hanya 2×2,5 meter. Makanya saya sedikit emosi mendengar hal tersebut.

Untunglah saat itu atasan saya, walaupun tidak eksplisit, memberikan argumen bahwa yang menyatakan hal tersebut adalah orang gendeng. Saya sih cukup yakin, si bapak tidak akan peduli dengan argumentasi yang diberikan. Mengapa? Kalau senior, pastinya gak akan pernah salah. Kalau salah lihat poin di atas.

Bangga? Ya pasti dong. Saya selalu ambil hikmah atas semua kejadian. Kalau dibilang saya penguasa, berarti dia tahu, walaupun saya bukan siapa-siapa tapi mungkin oramg berpikir kok saya bisa memengaruhi kebijakan yang ada. Jadi, hati-hati ya, Pak. Seekor semut kecil pun bisa berontak dan akan menggigit kalau dia merasa tersudut.

Dari Depok untuk Indonesia yang Lebih Baik