Penguasa

Penguasa, penguasa,
Berilah hambamu uang
Beri hamba uang
Beri hamba uang

Sebait syair Bang Iwan Fals berjudul “Pesawat Tempur” mengingatkan saya saat penelitian ke Papua sekitar 9 tahun yang lalu. Tetapi, bukan itu yang akan saya tuliskan hari ini.

Kemarin ada seorang dosen saya yang menyebut saya adalah penguasa gedung di mana saya bekerja. Saya terbelalak. Saya ini bukan siapa-siapa, hanya prajurit yang kebetulan diberi sedikit kewenangan yang tidak terkait dengan pembuatan kebijakan, kecuali atasan saya menugaskan hal tersebut. Ruangan kerja saya juga hanya 2×2,5 meter. Makanya saya sedikit emosi mendengar hal tersebut.

Untunglah saat itu atasan saya, walaupun tidak eksplisit, memberikan argumen bahwa yang menyatakan hal tersebut adalah orang gendeng. Saya sih cukup yakin, si bapak tidak akan peduli dengan argumentasi yang diberikan. Mengapa? Kalau senior, pastinya gak akan pernah salah. Kalau salah lihat poin di atas.

Bangga? Ya pasti dong. Saya selalu ambil hikmah atas semua kejadian. Kalau dibilang saya penguasa, berarti dia tahu, walaupun saya bukan siapa-siapa tapi mungkin oramg berpikir kok saya bisa memengaruhi kebijakan yang ada. Jadi, hati-hati ya, Pak. Seekor semut kecil pun bisa berontak dan akan menggigit kalau dia merasa tersudut.

Dari Depok untuk Indonesia yang Lebih Baik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s