Terjebak di gedung h lantai 6

Banyak orang bercerita tentang gedung H FISIP UI dengah beragam cara. Ada cerita romantika hingga jenaka, dari misteri hingga menteri. Yang lebih banyak mungkin terkait dengan misteri, mulai dari toilet yang scary sampai lift yang terkunci.

Gedung ini punya kesan mendalam bagi saya. Selain pernah 2 tahun menjadi penguasa tertinggi di FISIP UI karena kebetulan kantor saya di lantai 6, lantai tertinggi, di gedung ini pula saya juga pernah terjebak di lift, sendirian pula, lowbatt, dan jam 9 malam. Masalahnya sedikit gak masuk di akal orang sehat.

Selesai mengajar, saya turun dari lantai 3 dengan menggunakan lift. Memencet angka 3, akhirnya lift meluncur turun. Tapi, loh kok pintunya gak terbuka ya? Akhirnya saya tekan tombol emergency, eh liftnya bergerak ke lantai 6 dengan begitu saja. Sampai di sana, pintunya juga gak terbuka. Saya coba telepon staf perkuliahan. Dengan sisa batere yang menipis saya hanya berhasil mendengar suara staf perkuliahan, Pak Zaenal, tanpa dia bisa mendengar suara saya. “Halo, mba Lina? Halo?” ucap dia berulang-ulang. Hape mati. Akhirnya saya coba nyalakan kembali. Alhamdulillah, saya bisa tulis sms ke teman saya, Mba Ida namanya, dan hanya menulis “tolong mba, aku kejebak di lift” dan terkirim. Horee sambil berharap Mba Ida akan membantu saya dengan masalah lift ini.

Masih dengan menekan tombol emergency berkalli, tapi negatif. Gak ada respon sama sekali.

Tiba-tiba, pintu terbuka pelan sekali. Yang saya lihat di luar membuat saya tercengang. Kondisi rusak parah, eternit runtuH di sana sini, gelap gulita, sarang laba-laba, dan ada beberapa kayu saling melintang. Tanpa ba bi bu, saya keluar dan lari menuruni tangga. Sampai di lantai 1 yang berhadapan dengan lift, tiba-tiba lift juga sampai di lantai 1 dan pintunya terbuka tanpa siapa-siapa. Astaghfirullah. Cuma itu yang bisa saya ucapkan.

Tergopoh-gopohlah saya, terkejut, kaget, ketakutan, semua jadi satu. Sampai di ruang sekretariat, Pak Zaenal menyapa saya sambil bertanya, “Mba Lina kenapa? Kok pucat?” Saya tarik nafas, lihat jam ternyata sudah 9.15. Berarti saya terjebak sekitar 10 menit di lift. Saya bilang, saya terjebak di lift.

Gak lama seorang staf bagian sarana prasarana datang dan bersiap pulang. Dia bilang “pulang duluan ya”.  Iseng saya tanya, “apakah lift difungsikan untuk ke lantai 6?” Dia bilang, “sudah lama Mba gak difungsikan lagi sampai lantai 6, hanya sampai lantai 5. Kan lantai 6 sedang rusak gara-gara badai beberapa minggu lalu. Emang kenapa, mba.?” tanya bapak itu kepada saya. “nggak, tadi saya sampai ke lantai 6.” sambil terus saya ceritakan kronologisnya. Dia hanya diam sambil mungkin berpikir “kok bisa ya?”

Saya bertanya-tanya dalam hati, apa iyalift dimatikan kok bisa sampai lantai 6? Gak lama kemudian kawan saya yang saya kirimi sms datang. “loh katanya loe kejebak di lift? Sms loe baru masuk nih.” Akhirnya sambil berjalan menuju parkir, saya ceritakan lagi kejadian yang aneh dan baru saya alami.

Serem? Gak sih hanya kaget aja. Kok bisa? Kenapa begitu?

Kejadian itu saya lupa tanggal pastinya. Yang pasti hari Rabu sekitar tahun 2003.

Pada bulan Mei 2011 ini, saya mengalami kejadian terjebak lagi. Bukan di lift sih, tepatnya di SSRC gedung h lantai 6. Saya dengan seorang dosen dari Kessos sedang serius membuat proposal penelitian. Gak mengira bahwa hari sudah sore dan waktu Maghrib sudah tiba. Ketika akan mengambil wudhu di toilet lantai 6, ternyata pintu SSRC sudah dikunci. Nah loh? Saya akhirnya kembali ke ruang rapat “Rif, kita dikunciin nih. OB udah pulang. Kita gak bisa keluar.” “Ah, yang bener loe?”tanya kawan saya ini sambil kemudian keluar dan memeriksa pintu.

“Nih OB gimana sih pulang gak bilang dan gak ngecek apakah masih ada orang yang kerja di dalam atau tidak?” ucap saya. “Loe punya no hapenya si OB kan. Soalnya gua gak punya?” tanya saya. Panik mulai melanda karena ternyata kami berdua gak punya nomor telepon OB. Coba telepon ruang satpam, gak diangkat juga. Telepon salah seorang pejabat di FISIP juga gak diangkat juga. Akhirnya berhasil telepon salah seorang OB di Kessos untuk minta tolong diinfokan ke OB lain dan satpam.

Alhamdulillah, akhirnya ada dua orang datang bawa kunci. Deng deng deng, tapi kok gak bisa dibuka ya? Ternyata ada kunci yang patah di dalam lubang kunci. O ow… Jadi? Dengan resah, pasrah, gak berdaya, saya sampaikan ide “Gimana kalo kita loncat lewat musholla aja? Jadi minta dibuka in pintu musholla?” kebetulan musholla lantai 6 tembok bagian dalamnya hanya sekitar 2 meter.

Orang-orang di luar masih sibuk mengutak-atik pintu. Sampai akhirnya, alhamdulillah. Saya gak tahu bagaimana caranya tuh kunci akhirnya bisa diputar walaupun di dalam lubang kunci tetap ada patahan dari anak kunci.

Ini hanya sepenggal kisah dari gedung H lantai 6. Cerita lainnya terlalu banyak kalau harus ditulis.

Intinya, jangan naik lift sendirian apalagi malam hari. Jangan bekerja terlalu serius sampai kesorean di luar jam kerja dan gak bilang sama OB atau penjaga ruangan.

 

Dari Depok untuk Indonesia yang lebih baik.

2 thoughts on “Terjebak di gedung h lantai 6”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s