Menangis dan Tertawa: Kapan, Di mana, dan Untuk Siapa

Apa sih yang menghubungkan kata menangis dan tertawa? Pada satu malam di jalan Wijilan Yogyakarta, sayup-sayup terdengar melodi indah pengamen jalanan

            Pulang ke kotamu
           Ada setangkup haru dalam rindu
           Masih seperti dulu
           Tiap sudut menyapaku bersahaja
           Penuh selaksa makna
           Terhanyut aku akan nostalgia

           …

Ya, lagu Yogyakarta memang lagu melankolis yang banyak membuat perempuan (tapi kadang juga laki-laki loh), menjadi sosok yang sok romantis saat mengingat masa-masa pacaran, mungkin bisa dengan cinta pertamanya, cinta terakhirnya, atau mungkin juga dengan selingkuhannya. Mengapa tidak?

Nah, mungkin  ada perempuan yang ketika mendengar lagu ini merenung atau bahkan menjadi sedikit histeris, kok bisa ya ada cowok romantis macam Katon Bagaskara. Merangkai kalimat puitis bernada sehingga meluluhlantakkan tulang hingga ke sum-sumnya. Atau, ada juga perempuan yang akhirnya meneteskan air mata sedih karena mengingat mengapa cinta pertamanya tidak berakhir di pelaminan dan bahkan mungkin menyesal seumur hidup karena cinta pertamanya dulu, saat ini menjadi pejabat atau selebritis yang setiap hari muncul di televisi. Tapi, kalau saya disuruh memilih, saya bukan kedua tipe di atas. Saya akan bilang, Katon sebagai musisi memang luar biasa, tapi toh pada akhirnya dia hanya manusia biasa yang tidak bisa mempertahankan dua kali mahligai perkawinannya . Saya juga bukan orang yang dengan mudah akan meresapi setiap syair lagu itu sehingga meneteskan air mata sedih karena bagi saya suami saya adalah sosok yang memang saya pilih untuk menjadi pendamping saya jadi tidak akan ada air mata kesedihan.

Malam ini, di dalam hati saya hanya akan menertawakan perempuan (dan laki-laki) yang begitu hanyut dalam khayalan masa lalunya. Seperti saya menonton Opera Van Java saat wayang-wayang itu membuat lawakan yang tiada habisnya. Dunia ini panggung sandiwara.

Tidak salah memang. Karena, melupakan sejarah akan menjadi bahaya karena kita melupakan bagaimana diri ini dapat tercipta seperti sekarang. Yang terpenting adalah dunia kita saat ini, bukan masa lalu. Dunia yang harus kita hadapi dengan segala konsekuensi dan bukan menghindarinya atau menyalahkan orang lain akan keberadaan kita saat ini. Dunia kita sekarang adalah dunia masa depan yang harus kita rencanakan dengan matang sehingga kita siap dengan segala macam rintangan.

Kembali lagi kepada menangis dan tertawa, bagi saya, kedua kata ini sangat tipis perbedaannya, setipis koin mata uang seribu rupiah yang ada di negara ini. Kadang, kita tidak akan pernah tahu kapan kita menangis dan kapan kita harus tertawa. Buktinya, banyak koruptor yang seharusnya menangis karena ketahuan belang kelakuannya yang mengakibatkan tangis anak dan keluarganya, toh malah tertawa dan menertawakan orang lain. Di sisi lain, banyak orang yang tertawa karena melihat pemimpin kita, dan calon pemimpin kita berbicara tanpa dasar padahal banyak orang kelaparan, kesakitan, dan tidak mampu berjuang untuk hidup. Artinya, bagi saya, tertawa dan menangis adalah perasaan yang wajar dan manusiawi, tetapi harus tahu kapan digunakan, di mana tempatnya, dan untuk siapa.

UC UGM Yogyakarta, 22 Mei 2013

Dari Depok untuk Indonesia yang Lebih Baik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s