Salah kaprah: Antara FGD dan Diskusi

Menghadiri beberapa acara yang diadakan oleh pemerintah menjadi geli sendiri. Hari ini, misalnya. Saya datang mewakili kampus UI dalam Focus Group Discussion (FGD) tentang gerakan diversifikasi pangan dan dewan ketahanan pangan. Mau tahu apa yang menggelikan? Lihat daftar yang undangan saja, saya berpikir, penyelenggara tahu gak sih apa yang dimaksud dengan FGD? Atau mereka hanya sekedar menggunakannya tanpa tahu tujuan diselenggarakannya FGD. Nah lihat format acara, saya lebih geli lagi. Loh kok kayak seminar atau lokakarya? Eh, terakhir, lihat tata letak ruangannya, akhirnya geli saya jadi hilang. Yang tinggal hanya miris dan sedih. Sebagai orang yang berkutat dengan kegiatan penelitian sehari-hari hati saya tergerak unuk membagi sedikit pengetahuan yang saya miliki.

Mengapa tidak? Coba kita lihat apa yang dimaksud dengan FGD. FGD adalah suatu metode pengumpulan data kualitatif. Tujuannya agar dapat dihimpun penyelesaian masalah dari semua peserta diskusi. Jadi, peserta diskusi adalah narasumber. Siapa sih peserta dan berapa sih jumlahnya? Peserta harus memiliki syarat seperti halnya syarat informan di dalam penelitian kualitatif. Dengan kata lain, mereka adalah orang yang mafhum terhadap masalah yang diangkat.

Berikutnya, sangat dianjurkan agar peserta adalah  homogen (dapat dikelompokkan ke dalam karakteristik yang sejenis). Mengapa harus homogen, agar tidak ada ketimpangan ketika mereka mengutarakan pendapat, tidak ada yang dianggap lebih rendah sehingga tidak percaya diri atau dianggap lebih berkualitas sehingga bisa menguasai jalannya diskusi. Perlu hanya 8-12 peserta saja agar diskusi berjalan dengan lebih intens.

Untuk memandu jalannya FGD ini diperlukan seorang moderator yang biasanya adalah peneliti sendiri. Moderator hanya perlu menjadi pihak yang mengajukan stimulan masalah tanpa ikut di dalam “substansi diskusi” seperti halnya menjadi pewawawancara. Di sini diperlukan moderator yang kreatif untuk membangun suasana agar diskusi menjadi lebih hidup.

Terkait dengan setting ruangan, agar memudahkan jalannya diskusi, dibuat format O shape bukan model kelas atau studio.

image

Nah, apa yang saya alami hari ini? Acara yang disedianya dimulai pukul 8 (sesuai dengan undangan) sampai pukul 9.45 belum juga ada tanda-tanda akan dimulai. Malah lihat agendanya lebih lucu.  Justru ada acara pembukaan, acara pemakalah atau pemateri, dan gak jelas kapan fgd nya sendiri.

Acara akhirnya dimulai pukul 9.55. Dibuka dengan lagu kebangsaan Indonesia Raya, disusul dengan pemaparan oleh ketua panitia, pembacaan doa, bau deh para pemateri.

Di tengah paparan pemateri 1, eh bu sekda depok datang. Kepotong lagi.

Huh. Saya coba tanya kepada ketua panitia, kenapa namanya FGD padahal kegiatannya seminar. Dijawab olehnya, soalnya sesuaidengan rencana anggaran kegiatan yang sudah dibuat sebelumnya.

Lagi-lagi alasan yang gak penting mengalahkan subtansi. Kalau sudah begini, jadinya gimana dong?

3 thoughts on “Salah kaprah: Antara FGD dan Diskusi”

  1. Itulah hebatnya negara ini. Kalau orang Batak bilang “Hepeng do na mangatur negara on”. Bukannya mementingkan substansi tetapi lebih kepada uang… lagi lagi uang… (katanya Nicky Astria dan Pretty Sister dalam “Uang”). Pantaslah korupsi merajalela.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s