Antara Garuda Indonesia dan Batik Air: pengalaman game dan korek gas

Berpergian dengan pesawat sebenarnya menyenangkan, apalagi karena sekarang saya sedang mengejar agar GFF (Garuda Frequent Flyer) saya menjadi gold. Makanya, salah satu alasan saya untuk menerima undangan ke Papua adalah untuk mempercepat peralihan GFF tersebut. Perjalanan dengan GA 650 ternyata sangat melelahkan. Setelah take-off agak tertunda sedikit (kurang lebih 20 menit) karena padatnya Bandara Soetta, dua jam kemudian akhirnya mendarat di Makassar pukul 12.30 (WITA).  Pengumuman menyebutkan transit 30 menit  (yang pada akhirnya juga tidak pas 30 menit) dan tidak boleh turun dari pesawat. Sambil meluruskan kaki dan sedikit olahraga, saya akhirnya ke toilet pesawat, sesuatu yang bisa dibilang jarang sekali saya lakukan.

Pesawat kembali mengudara dan tiga jam kemudian mendarat di Biak. Bandara Frans Kaisiepo ini masih belum berubah saat saya pertama kali mendarat tahun 2002. Yah, inilah salah satu bukti sejarah, betapa lambatnya pembangunan. Sama seperti di Makassar, penumpang hanya transit, yang sekali lagi tidak boleh turun dan katanya 30 menit (padahal 40 menit). Jam di tangan saya sudah saya pindah ke Waktu Indonesia Timur… sudah pukul 5.20 tapi masih gelap sekali. Saat transit ini, saya coba main game… eh saya ditegor oleh pramugaranya. Maaf, pak. Saya tidak tahu. Saya kira ini kan hanya game, bukan hape.

Akhirnya pesawat kembali mengudara menuju Sentani. Pukul 07.20 WIT akhirnya mendarat. Duh, ngantuk banget. Soalnya selama di atas pesawat hanya bisa tidur ayam sekitar 2 jam saja. Penyebabnya, baru tidur, udah dikasih makan malam. Bangun, tidur lagi eh makan lagi ketika menuju Biak. Menuju Sentani, baru aja tidur sebentar eh, udah dikasih sarapan. Jadilah, tidur, makan, tidur, makan, tidur, makan.

Langsung disambut Prof. Akbar, kami diminta menuju ruang VIP. Terus terang, saya sebenarnya enggan dengan pelayanan eksklusif seperti ini. Tapi, berhubung saya mendampingi Pak Wakil Menteri, terpaksalah harus mengikuti protokoler. Sekitar 30 menit, langsung menuju Hotel Grand Abe… mandi dulu ah… rasanya gimana gitu. Setelah itu, langsung menuju Universitas Cenderawasih tempat acara dilaksanakan. Duuhhh, gak ada snack ya? Lapeeeeer nih. Sudah lewat pukul 12.00 WIT acara belum juga selesai, pukul 13.00 WIT belum juga, sampai akhir… Alhamdulillah pukul 14.15 WIT akhirnya acara selesai, makan siang juga. Mata sudah gak sanggup lagi, saya minta waktu istirahat kembali ke hotel. Pasang alarm, Blasss tidur. “Hah? Sudah jam 18.10 WIT? kok saya gak dengar alarm?” Padahal belum mandi dan siap-siap untuk bertemu pak Rektor pukul 19.00.

Makan malam bersama rektor, menunya papeda. Ini kedua kali saya makan papeda. Pertama kali saya ke Papua dulu, agak ragu mencobanya. Pada akhirnya saya tidak tahan untuk mencoba ketika saya ke Ambon. Waktu di Halmahera sebenarnya saya punya kesempatan untuk menyantapnya, tapi berhubung belum siap lahir batin, terpaksa batal. Kalau di Halmahera namanya popeda. Beda-beda tipis lah. Sagu yang dimasak seperti lem, terus di kasih ikan kuah kuning dan bunga papaya. Enak loh, sensasional. Saya lebih suka ditambah sambal. Jadi gimana gitu… Kebetulan dalam acara makan malam ini, saya juga bersama dengan dosen dari Universiti Sains Malaya.

Pulang… mampir dulu di apotek, cari obat tetes mata. Khawatir aja, soalnya kok gatal, berair, dan berat banget mata sebelah kiri. Setelah itu, masuk kamar kembali. Lelaaaap.

Pagi, pukul 06.00 WIT saya turun untuk sarapan karena pukul 07.00 harus sudah jalan lagi kembali ke Bandara Sentani. Back to Jakarta. Ngajar di Uncen yang rencananya dilakukan, terpaksa dijadual kembali, soalnya jadualnya belum ketemu. Duh… di Jakarta baru pukul 4 pagi. Sarapan seadanya, soalnya tenggorokan sudah mulai sakit. Nunggu pak Wakil Menteri yang semalam sakit, jadi gak ikut makan malam dengan Pak Rektor. Akhirnya 06.30 beliau turun, hanya sarapan omelet dan segelas teh hangat, akhirnya kami melaju ke Sentani. Di jalan, mampir dulu ketemu Pak Deputi V UP4B yang harusnya kemarin ketemu tapi batal.

07.15 kembali masuk VIP, cek in, pukul 08.30 masuk pesawat. Sangat tepat waktu. 08.45 take-off. Luar biasa Batik Air. Flight number ID 6181-4 Maret 2014, saya dapat kursi nomor 10E. Sekretarisnya Pak Wakil Menteri di 10 C. Saya lihat kursi di sampingnya kosong. Tapi, ya sudahlah, saya tetap duduk sesuai dengan boarding pass ya. Baru kali ini saya naik Batik Air. Lelaki di sebelah kiri saya, masih asik dengan permainan dari hapenya dengan suara yang sangat mengganggu. Akhirnya saya tegor. Setahu saya, alat elektronik tidak boleh dinyalakan sampai lampu tanda sabuk dimatikan. Masalahnya, pramugari bolak-balik tapi gak juga menegor. Di depan saya, di kursi 9, seorang perempuan juga masih asik main Candy Crush Saga.

Sekitar 30 menit setelah mengudara, penumpang diberi makan. Yah… akhirnya dapat makanan sisa, karena menu daging sudah habis, tinggal ikan. Baru saja mulai memotong ikan (yang nasinya belum matang betul… tahu kan rasa nasi belum matang?) eh, pramugarinya sudah nanya “Sudah selesai makannya?” apa dia gak lihat ya? Agak jutek, males banget lihat pramugari kayak gini.

Kekurangan Batik Air dibandingkan Garuda adalah fasilitasnya. Walaupun sama-sama ada fasilitas video, musik, dan permainan, tapi di Batik Air tidak disediakan earphone nya, sehingga kalau mau dengar musik harus bawa earphone sendiri. Kalau di Garuda kan sudah disediakan. Sudah begitu, film dan musiknya didominasi oleh India… Gimana gitu… Gak ada bantal atau selimut juga, padahal perjalanan jauh. Di toiletnya pun tidak ada gelas untuk kumur-kumur. Memang harga menentukan kualitas kok.

Kurang lebih pukul 10, tiba-tiba saya dengar ledakan kecil dari sebelah kanan saya. Bunyinya seperti plastik kecil yang ditiup terus ditepuk oleh kedua tangan. Tapi kok, bisa ya? “Bunyi apa?” saya tanya sama laki-laki di samping kanan saya. Saya lihat dia juga panik, sambil merogoh saku celana sebelah kiri. Saya lihat di celana itu ada cairan keluar dan baunya…. Astaghfirullah…. Itu kan korek gas? “Hah????” kok bisa korek gas dibawa masuk ke kabin? Apa tidak ada pemeriksaan di pintu masuk terminal bandara?

Sambil saya beristighfar terus, saya sedikit panik. Di belakang saya juga sudah mulai berbisik tentang bau gas. Saya akhirnya bangun, pura-pura ke toilet. Deg-degan luar biasa. Soalnya, saat take-off, saya baru saja membaca majalah yang disedaikan dikantung kursi di depan saya tentang apa saja penyebab kecelakaan pesawat. Salah satunya adalah karena korek gas. Laa haula walaa quwwata illa billaah. Laki-laki di samping saya, mengeluarkan korek yang sudah pecah tersebut, dibungkus dengan tisu dari kotak roti yang baru saja disajikan dan kemudian dia masukkan ke dalam kotak roti tersebut. Gilaaa. Perlu gak ya saya laporka ke pramugari? Tapi saya kasihan sama laki-laki ini. Akhirnya saya putuskan untuk diam. Sembari terus beristighfar.

Tiba-tiba disampaikan oleh pilot bahwa akan mendarat pukul 11.15. Hah? Bukannya sesuai tiket pukul 12.15? Baru kali ini, bukannya delayed, tapi lebih awal. Wah… tidak ada informasi berapa kecepatan pesawatnya.

Saya menulis ini bukan bermaksud menjelek-jelekan Batik Air. Kalau ada CCTV, mungkin bisa dijadikan data untuk ditindaklanjuti. Tapi, ini lebih pada untuk instrospeksi soal keamanan bandara dan pesawat. Untung, pesawat yang saya tumpangi tidak meledak. Seringkali, penumpang suka seenaknya sendiri. Tidak tahu etika bagaimana menjadi penumpang. Pramugari juga seharusnya punya etika. Bukan hanya mementingkan dandanan dengan belahan paha yang tinggi dan belahan dada yang rendah. Bagaimana bisa menolong penumpang dalam keadaan darurat kalau dia sibuk untuk menjaga agar belahan kebayanya tidak turun.

Sejak kemarin saya berpikir, jangan-jangan pesawat Malaysia Airlines juga seperti itu. Bukannya penerbangan internasional lebih ketat?

Jadi pilih penerbangan mana? Itu kembali kepada kita masing-masing.

2 thoughts on “Antara Garuda Indonesia dan Batik Air: pengalaman game dan korek gas”

  1. Wah asiknya Ibu sudah beberapa kali ke Papua. Beberapa teman saya bilang makanan di Papua katanya unik sekali bu dan di Jakarta jarang yang jual. Saya setuju bu mengenai etika menjadi penumpang dan pramugari, karena menurut saya ketika memutuskan untuk naik transportasi massal (termasuk pesawat) seharusnya semua orang menyadari bahwa anda bersama orang lain dan harus menghargai orang lain, salah satunya lewat tidak mengganggu keamanan orang lain kan bu.

  2. Gak jadi naik Batik ah, mending naik Garuda. Kebetulan saya lagi cari info pengalaman naik Batik. Ternyata mirip saja dengan Lion yg cuma jual tampang dan belahan rok. Terimakasih infonya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s