Kualanamu: the Best Airport in Indonesia

Menyusuri bandara Kualanamu menjadi satu keindahan sendiri. Bandara baru, bersih, sejuk, dan “canggih” menjadi satu pemandangan menakjubkan. Apalagi setelah sebelumnya saya masih terkagum-kagum dengan kereta bandara dari Medan menuju Kualanamu yang sangat “on time”, “on schedule”, dan “on serve”. Pas semuanya. Dari sisi harga, pelayanan, maupun waktu. Rasanya, kalau mau diacungi jempol, entah kepada siapa harus diberikan. Apakah ini program transformasinya Pak Jonan, atau “best practice” agar nantinya semua bandara di Indonesia menjadi standar seperti ini.

Bayangkan, berkali-kali bepergian dan berkali-kali pula menginjakkan kaki di Bandara Soetta menjadi satu kelelahan tak terperi. Dari Depok, minimal 1,5 jam. Itu pun setelah ada tol baru JORR Barat. Sebelumnya, hanya sebuah helaan nafas manakala tiba-tiba melihat tol Jagorawi sejak dari Cibubur sudah berhenti dan berjalan merayap sampai arah Cawang, untuk kemudian bingung menghadapi pilihan, ambil arah dalam kota ataukah Priok. Mendarat di Kualanamu menjadi satu hiburan dan pengharapan akan perbaikan pelayanan bandara di Indonesia. Mau tahu apa yang ada di pikirian saya saat menulis tulisan ini dalam perjalanan melintasi langit menuju Soetta… Akankah segera Soetta terwujud menyenangkan? Mengapa baru sekarang? Kemana saja pemerintah saat pajak yang kita bayar tetap dipungut dan semakin besar? Intinya, terlalu lama pembiaran dilakukan. Tapi sudahlah… toh, maksud saya menulis di sini, bukan untuk menyudutkan pihak tertentu sehingga saya akan terkena pasal pencemaran nama baik melalui UU ITE.

Kembali saya mengingat saat berjalan sendiri menenteng sebuah tas kecil yang berisi laptop, tablet, hape, dan kumpulan kartu-kartu penting saya menuju musholla di ruang tunggu bandara. Tiba-tiba, mini car di dalam bandara berhenti. Dua orang petugasnya menyapa saya “Silakan bu, untuk naik ke atas kendaraan ini?” Saya masih terbengong-bengong sangat tidak menyangka “Why me?” dalam hati saya. “Ibu tidak usah ragu. Ini adalah pelayanan bandara?”ucap petugas di samping pengemudi saat melihat wajah saya yang masih takjub. Mereka mempersilakan saya naik. “Saya dekat saja kok ke musholla”, ucap saya. “Tidak apa-apa, Bu.” Akhirnya saya memutuskan untuk naik ke atas kendaraan kecil tersebut sambil saya bertanya “Mengapa Bapak-Bapak memilih saya? Apa kriterianya? Harusnya kan yang diajak orang yang membawa barang banyak, atau orang yang sakit. Apa saya terlihat sakit?” Banyak sekali ya, pertanyaan saya. Kedua Bapak tersebut hanya tersenyum. “Atau karena saya terlihat loyo?” Sekali lagi kedua Bapak hanya tertawa.Tidak lama sampai di depan musholla. “Alhamdulillah sudah sampai. Selamat jalan, Bu.” ucap mereka.

Ya Rabb, terima kasih karena telah Engkau bantu hamba dengan segala macam kemudahan, kenikmatan, dan kebahagiaan. Apalagi yang bisa hamba sampaikan kecuali ucap syukur tiada henti. Fabiayyi alaai rabbikumaa tukadzdzibaan.

Dari Depok untuk Indonesia Lebih Baik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s