Harapan

Sekedar berbagai, hadiah dari suami pada waktu saya ulang tahun… Terus terang… buat saya, tulisan-tulisan dari Abang, membuat saya selalu senyum-senyum sendiri membacanya.
Dan saya baru sadar sekarang… mengapa, hampir setiap menjelang perayaan hari kelahiran, saat itu juga saya sedang berada di luar rumah. Yang saya ingat, hanya pada usia saya 6 tahun, mami menjahitkan pakaian bak puteri berwarna putih dan mengundang teman-teman saya untuk datang ke rumah. Selebihnya? Saya kok tidak pernah ingat ya…

Assalamu alaikum Wr wb.

Sakit bukanlah suatu kebiasaan bagi saya saat Anda
tidak ada. tetapi selalu ada yang menyebabkan saya
kurang merasa fit kalau terkena hujan. Hari Selasa
kemarin memang saya bekerja dari pagi sampai malam,
plus menghabiskan biaya yang tidak sedikit. Sehari
kemudian saya terkena hujan saat pulang ke rumah.

Saya hanya bisa berharap agar Anda bisa menyelesaikan
tugas di lapangan sebaik mungkin. Mudah-mudahan apa
yang Anda rencanakan dari awal terlaksana semua.

Tentu saja, saya tidak lupa pesan yang harus Anda bawa
ke Jakarta. Sebab saya telah membuat janji dengan
teman-teman untuk menikmati bersama apa yang akan Anda
bawa kelak.

Sementara itu, saya sedang berpikir dan bersiap-siap
untuk membungkus sesuatu menjelang pergantian tanggal
26 dan 27 januari 2001.

Advertisements

Perjalanan

Baru saja saya mengumpulkan kembali, beberapa catatan yang tercerai dari email lama. Salah satunya surat ini, yang dikirim pada 22 Januari 2002 oleh mantan pacar saya…

Selasa. 22 Januari 2002.

Sebuah surat terbuka. Kutulis lewat mail ini. Sebab,
tadi siang, komunikasi lewat telepon tak berjawab.
Entah, dimatikan atau sedang dalam perjalanan. Tapi,
bagiku, tak ada prasangka. Doa keselamatan dalam
perjalanan tetap aku tengadahkan. Tak luput dalam
sekejap pun.

Hari ini. Aku baru saja ke kantor kas berwarna biru di
Arteri. Kucek angka-angka yang tertera di selembar
kertas putih yang baru keluar. Angka dua belas
tertulis di sana. Ya, tinggal 12 ribu.

Tapi aku bukan orang miskin. Aku orang yang kaya. Kaya
akan angan-angan dan keinginan. Siapa tahu suatu saat
angka 12 itu menjadi berlipat-lipat. Dan aku akan
membawamu bepergian jauh dari yang engkau lalui kini.
Dan saat itu kita akan bisa menikmati keindahan alam
Bali, Lombok atau Brastagi.

Angan itu memang belum kesampaian. Toh, tak ada yang
bisa memastikan kapan itu terjadi : kecuali Sang
Pencipta.

Aku berharap saat ini. Engkau bisa menikmati keindahan
perjalanan dari satu pulau ke pulau lain di pinggiran
Pulau Sumatera. Ah, betapa ramainya ombak menyapa
engkau. Sebanyak kerinduan yang selalu melintas di
benak seseorang yang sedang menunggu. Di rumah.

Your dearest,