Perjalanan

Baru saja saya mengumpulkan kembali, beberapa catatan yang tercerai dari email lama. Salah satunya surat ini, yang dikirim pada 22 Januari 2002 oleh mantan pacar saya…

Selasa. 22 Januari 2002.

Sebuah surat terbuka. Kutulis lewat mail ini. Sebab,
tadi siang, komunikasi lewat telepon tak berjawab.
Entah, dimatikan atau sedang dalam perjalanan. Tapi,
bagiku, tak ada prasangka. Doa keselamatan dalam
perjalanan tetap aku tengadahkan. Tak luput dalam
sekejap pun.

Hari ini. Aku baru saja ke kantor kas berwarna biru di
Arteri. Kucek angka-angka yang tertera di selembar
kertas putih yang baru keluar. Angka dua belas
tertulis di sana. Ya, tinggal 12 ribu.

Tapi aku bukan orang miskin. Aku orang yang kaya. Kaya
akan angan-angan dan keinginan. Siapa tahu suatu saat
angka 12 itu menjadi berlipat-lipat. Dan aku akan
membawamu bepergian jauh dari yang engkau lalui kini.
Dan saat itu kita akan bisa menikmati keindahan alam
Bali, Lombok atau Brastagi.

Angan itu memang belum kesampaian. Toh, tak ada yang
bisa memastikan kapan itu terjadi : kecuali Sang
Pencipta.

Aku berharap saat ini. Engkau bisa menikmati keindahan
perjalanan dari satu pulau ke pulau lain di pinggiran
Pulau Sumatera. Ah, betapa ramainya ombak menyapa
engkau. Sebanyak kerinduan yang selalu melintas di
benak seseorang yang sedang menunggu. Di rumah.

Your dearest,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s