Kristal Pengetahuan: Hitam Putih Perpustakaan UI

Mahasiswa adalah perpustakaan

Kampus adalah pesta, buku, dan cinta. Itulah jargon yang selalu diingatkan oleh para senior atau dosen kepada mahasiswa baru. Artinya, selain keceriaan dan asmara, seorang mahasiswa juga harus serius belajar. Menjejakkan kaki sebagai mahasiswa di Universitas Indonesia (UI) mungkin rasanya dapat diibaratkan seperti saat seorang Neil Armstrong mendarat di bulan atau ketika sopir bajaj hendak belok. Hanya kita dan Sang Pencipta yang tahu. Antara senang, gugup, takut, semua jadi satu. Mungkin membandingkan dengan Pak Armstrong dan Pak Sopir adalah sesuatu yang berlebihan. Yang pasti, status jelas berbeda antara siswa dan mahasiswa. Kalau bahasa anak sekarang gegana, gelisah, galau, dan merana. Gelisah karena bingung apakah dosen yang akan mengajar sesuai gambaran yang diceritakan para senior sebagai dosen killer, galau karena tidak tahu apa yang harus dilakukan, dan merana karena sepertinya tugas yang akan diberikan membuat tidak bisa tidur pulas.

Betul saja, saat dijelaskan rencana pengajaran selama satu semester oleh seorang dosen, pada awalnya kalimat demi kalimat terbaca dengan menyejukan, dan ternyata pada akhirnya “Loh kok, bukunya banyak sekali? Berbahasa Inggris dan buku-buku lama pula.” Akhirnya, dengan langkah berat namun harus, aku dan teman- temanku melangkahkan kaki menuju perpustakaan UI di dekat Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya). Bingung akan apa yang harus dilakukan dan arah yang dituju tiba-tiba, “Ada yang bisa dibantu?”, sapa seorang laki- laki paruh baya. Aduh, sapaan tersebut menentramkan hati kami yang labil. Wajah- wajah kami memang terlihat bahwa kami perlu pertolongan. Kesan pertama saat itu membuat saya menambahkan dalam agenda saya. Berkunjung ke perpustakaan di kampus cukup menyenangkan kok. Walaupun saya harus mebolak-balik kertas katalog yang lusuh dan kumal, hanya boleh meminjam dua sampai tiga buku, harus mengembalikan sesuai jadual, toh saya dapat bertahan dengan berbagai tugas makalah, ujian, dan berbagai di kampus dan menyelesaikan tugas akhir saya dengan sangat baik. Mahasiswa adalah perpustakaan, perpustakaan adalah mahasiswa.

Perpustakaan UI; Dulu dan Sekarang

Kini, jika berkunjung ke the crystal of knowledge, yang menjulang di tengah kampus Universitas Indonesia, tentu tampilan jauh dari gambaran perpustakaan di manapun. Perpustakaan UI memang laksana kristal, terlihat mahal, megah, mewah, kokoh, bercahaya, dan tidak mudah hancur. Mengingat istilah yang dipakai adalah kristal, mau tidak mau ingatan akan terhampir pada sebuah barang hiasan. Jangan sampai kristal ini hanya menjadi kristal pajangan seperti yang ada di rumah-rumah Pondok Indah atau Menteng saja karena harganya selangit. Kristal pajangan ini akan diletakkan di tempat yang mudah terlihat, sebuah lemari mahal dan terkunci rapat. Boleh dilihat tapi jangan disentuh. Jika malam hari lemari ini akan berhias pencahayaan yang luar biasa sehingga menggairahkan bagi yang melihat. Barang ini akhirnya menjadi simbol dari kemapanan dan kekuasaan. Namun demikian, tentu saja akan berbeda ketika diberi nama kristal pengetahuan. Para pemimpin UI yang memberi nama tersebut tahu pasti maknanya adalah memberikan cahaya pengetahuan, bukan hanya untuk sivitas akademika saja tetapi juga untuk bangsa dan negara.

Bagi saya, berjalan menyusuri perpustakaan UI tidak sarat warna, tidak seperti warna pelangi. Cukup dua saja: hitam dan putih. Hitam adalah saat tidak ada perubahan, dan putih saat kebalikannya. Kalau ditanya kapan kiranya mahasiswa akan lebih intens untuk berkunjung ke perpustakaan? Jawabannya dari dulu hingga sekarang sama, yaitu hanya tiga periode, pada awal sebagai mahasiswa baru karena harus membuat kartu perpustakaan, pada saat menjelang ujian akhir semester karena adanya makalah atau tugas-tugas yang harus dikumpulkan, dan menjelang penyelesaian studinya karena selain diharuskan membaca penelitian sebelumnya oleh dosen, harus membuat tugas akhir, dan tentu saja melaporkan tugas akhirnya. Itulah hitam.

Dulu, pulang dari perpustakaan, saya akan dkondisikan dua hal, kembali ke fakultas atau kamar kos dengan setumpuk buku atau bahkan nihil karena buku yang diinginkan tidak ada. Alasannya hanya dua, sedang dipinjam atau tidak ditemukan. Sekarang, jumlah koleksi memang sudah lebih dari 5 juta buku dan katanya terintegrasi dari semua perpustakaan fakultas. Hal ini rupanya tidak juga sejalan dengan jumlah mahasiswa UI yang semakin tumbuh. Sudah lebih dari 30 ribu mahasiswa jumlahnya. Akhirnya, kekecewaan tetap ada, karena pada katalog elektronik tersebut buku yang diinginkan tersedia, tapi ketika dicari pada rak ternyata tidak ditemukan. Alasannya masih sama, sedang dipinjam atau stock opname. Yang

lebih sedih adalah kalau buku yang kita pinjam ternyata halamannya tidak lengkap alias hilang karena sudah dibegal atau dimutilasi oleh pembaca sebelumnya. Rupanya, masih ada orang yang belum sadar akan nilai dari sebuah buku. Tetap hitam.

Dulu, fasilitas perpustakaan serba terbatas, mulai dari tempat penyimpanan tas (loker), meja untuk membaca, hingga komputer harus berlomba dengan pengunjung lainnya, siapa cepat dia dapat. Sekarang, loker-loker lebih dari cukup, komputer dengan fasilitas internet pun tersedia. Inilah putih. Dulu, perpustakaan UI selalu identik dengan kumpulan buku tua, kusam, sepi, beraroma tidak sedap, dan bahkan acapkali dianggap sebagai sumber penyakit. Kalau mau sakit, datang saja ke perpustakaan. Bahkan ada seorang kawan yang guyon “setan saja takut kok kalau harus ke perpustakaan sendirian.” Sekarang, cobalah melangkah di sekitar perpustakaan. Selain pemandangan danau UI yang menyejukkan, aroma kopi impor merebak dari warung waralaba Amerika ditambah aroma minyak wijen keluar dari resto Korea menggoyang hidung sedikit mengganggu konsentrasi perut untuk berkunjung saat jam makan siang datang. Tidak ada keluh kesah lantaran listrik yang tiba-tiba padam. Suasana pun mendukung untuk bekerja hingga malam hari. Akankah warna putih akan semakin banyak bercerita nantinya?

Epilog

Kristal pengetahuan adalah sebuah simbol luhur atas kreasi seni tingkat tinggi. Di dalamnya terdapat banyak cerita, lakon, dan romansa bagi pengunjungnya. Orang yang memanfaatkan perpustakaan bukan hanya untuk membaca dan menjadi ruang berkumpul untuk menyapa, tetapi untuk menciptakan, menyimpan, dan mendiseminasikan berbagai karya dan karsa ilmu pengetahuan dan teknologi dalam membawa Indonesia menjadi lebih baik. Kitalah yang akan membawa simbol keluhuran ini menjadi simbol yang akan memancarkan energi secara nyata atau simbol yang mati merana. Jangan biarkan perpustakaan UI besar hanya karena nama dan bentuknya tetapi jadilah besar karena maknanya.

Catatan: Walaupun tulisan ini dibuat dalam rangka lomba esai dan tidak menang, buat saya menulis bukan untuk menang, tapi menjadi suatu kebutuhan.

Dari Depok untuk Indonesia yang Lebih Baik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s