Kecantikan versus Kebenaran

Menyaksikan pemberitaan Tempo edisi 6-12 April 2015 dan 13-19 April 2015, rasa-rasanya gimana gitu. Antara sedih dan gelisah. Mengapa tidak. Pertama, seorang narasumber (dalam hal ini yang akan diberitakan atau dijadikan informan) harus dimintakan informed consent-nya alias kesediaan atau persetujuan. Istilah informed consent ini memang biasanya digunakan di bidang kesehatan untuk menyatakan kesepakatan atau persetujuan pasien atas usaha medis yang akan dilakukan oleh dokter terhadap dirinya. Jadi saya tidak bisa menyalahkan Mba Anindya Kusuma Putri –sebagai obyek berita di sini- sepenuhnya. Mungkin saja, yang bersangkutan tidak tahu bahwa pertanyaan yang diajukan si penanya adalah pertanyaan serius sedangkan dia nya sendiri menganggap pertanyaan guyonan. Oleh karena itu, sekali lagi informed consent menjadi hal yang penting dalam sebuah wawancara.

Kedua, sebagai seorang public figure tentu saja juga harus menjawab semua pertanyaan dengan serius dan santun. Artinya, menjawab jujur dan tidak dibuat-buat menjadi hal yang penting. Ingat loh, namanya figur publik, harus siap jadi berita dan diberitakan. Apalagi, semua orang di dunia ini sudah tahu bahwa ada moto yang dibawa semua ajang beauty pageant contest. Brain, Beauty, dan Behavior. Artinya, bukan hanya cantik, tetapi santun, dan juga cerdas. Menurut Sophia Loren, artis Hollywood tercantik di masanya, beauty is how you feel inside and it reflects in your eyes. It is not something physical, dan menurut Kahlil Gibran, beauty is not in the face; beauty is a light in the heart. Jadi sebenarnya, di dalam beauty itu sudah ada brain dan behavior loh.

Ketiga, kedua orang tua saya selalu bilang “say sorry and thanks”. Jujur saja, keduanya tidak mengucapkannya dalam bahasa Inggris kok, tapi tetap pakai bahasa Indonesia “ucapkan maaf dan terima kasih”. Berterima kasihlah saat diberi dan mengaku salah lah jika engkau salah. Tapi memang kok, mengaku salah saat kita salah adalah memang teramat susah. Padahal banyak orang sukses karena diawali dengan kesalahan. Orang akan menganggap kita satria. Justru orang yang tidak pernah berbuat salah, tidak akan mencoba hal baru dan menjadi lebih baik. Thomas Alfa Edison saja, katanya melakukan 1.500 kesalahan sebelum menjadi penemu bola lampu. Nobody is perfect. Sempurna itu hanya ada di lagunya “Andra and The Backbone”. Jadi, mana yang akan dipilih: minta maaf atau membuat klarifikasi?

Terakhir, suami saya yang seorang jurnalis selalu bangga dengan pekerjaannya dan menyebut media massa adalah salah satu pilar demokrasi. Jimly Asshiddiqie (dalam http://www.medanbisnisdaily.com) juga menyebut bahwa salah satu roh demokrasi adalah kebebasan berekspresi dan itu dekat dengan kebebasan pers. Kalau bicara roh dan pilar artinya pers itu penting loh. Orang tidak akan hidup kalau tidak ada roh, dan bangunan tidak akan berdiri tanpa pilar. Saya setuju dengan keduanya (Bang Yasin dan Pak Jimly). Kebebasan pers yang bertanggungjawab tentunya. Pers harus menyajikan berita dan informasi dengan fakta, obyektif dan tentu saja independen, sehingga masyarakat lebih cerdas dan berubah ke arah yang lebih positif. Yang penting, beritanya tidak bohong dan memihak deh. Capek rasanya menyaksikan figur publik yang sengaja mengundang para kuli tinta hanya untuk menceritakan kegiatan harian mereka yang mungkin sengaja untuk publikasi. Yang benar dibuat salah, yang salah dibuat benar. Kasihan kan kalau masyarakatnya jadi pusing. Cukup yang pusing kepala Putri Bahar aja (menyitir lagu Pusing Pala Barbie).

Inti catatan saya bukan masalah kecantikan atau kebenaran saja, tapi cerminan dari kecantikan atau kebenaran itu sendiri. Boleh lah orang tidak tahu asal daerah lagu Ma rencong rencong (yang saya tahu sih dari Bugis Sulawesi Selatan), jumlah kabupaten/kota yang memang tidak pernah dinyatakan secara resmi berapa jumlahnya saat ini (kecuali waktu saya hitung manual dari data resmi Kemendagri ada sebanyak 403 kabupaten dan 98 kota), atau abad keberapa Candi Borobudur dibangun (dari info http://www.borobudurindonesia.com candi ini dibangun pada Wangsa Syailendra pada tahun 750-825 M artinya abad ke 8-9). Tapi, kalau pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya, sepertinya semua anak yang pernah sekolah dasar di Indonesia juga tahu, namanya Wage Rudolf Supratman. Jangan kita menertawai ketika seorang Sarah Palin Cawapres Amerika Serikat dibully gara-gara Afrika disebut sebagai sebuah negara (padahal Afrika adalah benua). Bagi saya cukup wajar seorang Palin lupa, karena Palin kan bukan warga dari salah satu negara di benua Afrika.

Sangat disayangkan saja, kalau orang yang mau mewakili Indonesia dalam ajang internasional tidak tahu (atau mungkin memang benar-benar lupa) siapa nama lengkap pencipta lagu kebangsaan sendiri. Hanya memastikan saja: bukankah orang yang mewakili kita seharusnya tahu tentang apa dan siapa kita? Namanya juga mewakili. “apa kata dunia” (menyitir kalimat sakti dari Bang Naga Bonar dan moto nya Dirjen Pajak).

Dari Depok untuk Indonesia yang Lebih Baik

On 17.49 WIB and still at the office

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s