Comfortable versus Love (antara Kenyamanan dan Cinta)

A perfect relationship starts when you are comfortable with him and goes on when just being with you is enough to make him happy… He patiently listens to what you have to say… He is your best friend and he can understand you deeply, even you unsaid words… He is the perfect man made for you (Neena Gupta: lifelovequotesandsayings.com)

Siang hari yang cerah, dalam perjalanan kembali dari tugas, seorang profesor bertanya kepada Dita (nama ini sudah disamarkan ya…), yang dulu pernah menjadi mahasiswanya.

Mba Dita, apakah memang mba Dita memang mencintai mas Anto (nama ini juga sudah disamarkan)? Tanya si profesor dengan gaya jahil. Anto dulu juga adalah mahasiswa si Profesor. Anto dan Dita saat kuliah adalah teman satu kelas. Oh, ya. Profesor ini sejak masih mahasiswa dikenal sebagai orang yang iseng. comfortable and loveSaya hanya senyum-senyum sambil bilang “nah loh”. Dita terlihat bingung ketika ditanya ini dan bahkan dia bergurau “bukannya prof tadi bilang mau tidur?” Sebelumnya, memang si profesor ini bilang “Saya tidur dulu ya”. Saya yang memang tahu kebiasaan profesor ini menyambung “Tidur aja, mas. Nanti kalau sudah mau dekat rumah, saya akan bangun kan.” ujar saya.Walaupun, saya tahu bahwa ucapan mau tidur itu hanya iseng saja. Dita akhirnya dengan malu-malu menjawab sambil tertawa, “kalau buat saya sih yang penting nyaman dulu, prof. Cinta akan muncul kalau kitanya sudah nyaman.” Jadi kalau dalam bahasa Inggris berarti? Comfortable first, and love next. “Kalau saya bilang saya cinta tapi gak nyaman bagaimana?” lanjut Dita.

Aha… begitu sederhananya, ya. Tapi memang betul. Bagaimana kita bica cinta kalo kita gak nyaman. Makanya, akhirnya yang dilakukan saat pacaran atau taaruf adalah mencari dan mengenal zona kenyamanan yang ada. Berusaha mengenal, apa yang membuat pasangan kita nyaman dan tidak mengganggu kenyamanan kita juga.

Jadi, saya setuju banget sama Miss. Gupta (yang saya cuplik di atas – Terimakasih Miss Gupta atas tulisannya yang sangat dalam). Tinggal sekarang bagaimana kita mendefinisikan cinta dan menyandingkannya dengan kenyamanan.

Dari Depok untuk Indonesia yang Lebih Baik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s