Apakah aku kurang ganteng sehingga kamu tidak suka aku?

Banyak laki-laki yang mengeluarkan pertanyaan “Apakah aku kurang ganteng sehingga kamu tidak suka aku?” karena biasanya ditolak sama perempuan yang dia sukai. Tapi tulisan ini tidak seperti itu. Judul di atas saya ambil dari curahan hati suami saya. Tapi, bukan karena saya tidak suka dia atau karena dia kurang ganteng loh. Suami saya, sampai saat ini masih tidak tergantikan oleh laki-laki manapun di atas muka bumi ini. Disebut ganteng banget, juga gak. Yang pasti, dia adalah orang yang bisa sangat saya andalkan untuk banyak hal, kecuali urusan listrik, otak-atik mesin, dan mengendarai mobil. Mudah-mudahan dia gak baca tulisan ini karena saya khawatir, kalau dia baca, pasti pujian ini membuat dia jadi kurus. Dari pada nanti salah persepsi, mending saya bagi saja ceritanya melalui blog ini.

Setiap pagi, sambil nunggu anak saya siap-siap sekolah, saya duduk sambil nonton TV, berita atau hanya sekedar gosip artis yang gak penting. Biasa lah… kadang perlu juga agar kalau ngobrol dengan siapa saja, jadi nyambung. Kalau suami saya, biasanya duduk di teras, sambil baca koran.

Nah, pagi ini, saat asik menonton siaran gosip pagi, tiba-tiba suami saya datang dari teras dan kemudian duduk di samping saya. “Semalam ayah terbangun jam 1 dan gak bisa tidur lagi. Padahal aku mau kamu, tapi kamu kok tidak suka aku.”

“Apa-apaan sih?” Tanyaku dalam hati. Maksud ayah, apa?” tanyaku penasaran

“Kan ayah pengen tidur, tapi gak bisa juga. Gak tahu kenapa. Makanya ayah bingung, Apakah aku kurang ganteng sehingga kamu tidak suka aku, Tidur?”” curhat suamiku.

Ha ha ha….Saya yang mendengar hanya ketawa tergelak sambil mengucap: “Ayah, ayah…mungkin memang ayah kurang ganteng kali, sampe tidur aja gak suka sama ayah.”

Saya tahu, penyebab utamanya cuma satu. “Pasti gara-gara kepikiran kerjaan ya. Kebanyakan proyek sih…”

“Iya, nih,” ucapnya. Dalam hati saya: Duh… Besok-besok ayah gak perlu jadi orang baik yang susah menolak kalau diminta bantuan. Apalagi kalau hanya membuat capek dan gak bisa tidur.

Dari Depok untuk Indonesia yang Lebih Baik

Advertisements

Penganan tradisional: efisiensi rapat ala MenPANRB

“Benar gak sih, kalau rapat di KemenPANRB (Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi), penganan ringan yang disajikan sederhana?” pertanyaan seperti itu kerap diajukan teman-teman di kampus ketika rapat dan membandingkan penganan yang kami peroleh dengan Surat Edaran Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 10 Tahun 2014 tentang Peningkatan Efektivitas dan Efisiensi Kerja Aparatur Negara.

Selain membatasi perjalanan dinas dan rapat di luar kantor demi penghematan Anggaran Belanja Barang dan Belanja Pegawai, dalam Surat Edaran ini juga dinyatakan agar menyajikan menu makanan tradisional yang sehat dan/atau buah-buahan produksi dalam negeri pada setiap penyelenggaraan pertemuan/rapat demi mendorong peningkatan produksi dalam negeri dan kedaulatan pangan.

Masalahnya, betulkah itu dilaksanakan? Beberapa kali rapat di kantor KemenPANRB, memang betul surat edaran ini ditegakkan. Masalahnya, yang disebut makanan tradisional tuh apa sih?

Dari laman http://www.intentionallydomestic.com/ diperoleh penjelasan apa sebenarnya yang dimaksud dengan makanan tradisional. Terjemahan bebas dari tulisan tersebut adalah bahwa makanan tradisional terkait dengan:

  • Mengikuti cara nenek moyang kita memakannya.
  • Mengandung gizi dan nutrisi
  • Memilih makanan terbaik sesuai anggaran, kecocokan dengan zat kimia dalam tubuh seseorang, dan ketepatan cara mengkonsumsi sehingga tubuh kita dapat mengambil manfaatnya.

Sedangkan dari modul pembelajaran 2 di Jurusan Kepelatihan Olahraga Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan Universitas Pendidikan Indonesia yang ditulis oleh Lilis Komariyah disebutkan bahwa makanan tradisional adalah makanan dan minuman yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat tertentu, dengan citarasa khas yang diterima oleh masyarakat tersebut.

Artinya, kalau kita mau pakai pendefinisian pertama, akan banyak makanan mentah seperti lalapan dengan sambal, soto, nasi uduk, ikan asin, nasi goreng, rendang dan khas padang lainnya, namun perlu diperhatikan bahwa beberapa makanan tersebut misalnya makanan padang tidak boleh dikonsumsi terlalu sering karena kandungan kolesterolnya yang cukup tinggi. Kalau makan soto, repot juga karena berarti harus disediakan mangkok. Bagaimana dengan orang Palembang yang menyantap mpek-mpek sebagai kebiasaan di pagi hari alias sarapan? Padahal banyak orang, kombinasi asam dan pedas itu cukup berbahaya bagi lambung. Selain itu, agak aneh kalo penganan kecil disajikan tidak sesuai waktu. Kue putu mungkin tidak enak bila dimakan saat dingin karena biasanya agak mengeras.

Nah… ini contoh penganan kecil waktu saya rapat di KemenPANRB. IMG20150311085215Hanya kacang dan ubi. Hari yang lain (sebelumnya lupa difoto), dapat pisang rebus (yang dikemas dengan alumninium foil) dan jagung rebus (juga dikemas dengan aluminium foil). Pernah dapat makaroni panggang (pasti pakai susu, keju, dan daging cincang dong) dan dadar gulung. Terus bagaimana dengan paket makan siang kotak yang cepat saji misalnya makanan jepang? Itu kan bukan ciri khas masyarakat kita. Atau, boleh gak bakso diakui oleh kita sebagai makanan khas padahal ini diambil dari makanan warga Tionghoa dan keturunannya? Nah, bakwan malang kan isinya bakso, ada pangsit nya juga…ini kan bukan Indonesia. Sampai batasan mana itu disebut makanan khas Indonesia. Itu yang harus didefinisikan ulang.

Terkait pengemasan dan bahan baku, ada pengalaman yang cukup menarik. Saya pernah tanya kalau dadar gulung ini isinya keju, apakah ada jaminan bahwa itu bukan keju impor dan memang dapat mendorong peningkatan produksi dalam negeri dan kedaulatan pangan? Terus kalau pisang rebus dikemas dengan aluminium foil dan harganya menjadi naik berkali lipat, dan singkong diberikan tambahan keju dianggap juga bagian yang mendorong penghematan?

Memang lucu yang terjadi di negeri ini. Kreatif sih…Yang tidak perlu diatur dibuat kebijakan, yang perlu diatur dibiarkan pura-pura bukan tanggungjawabnya. Yang perlu diatur tuh, jangan sampai bikin rapat yang seharusnya satu hari, disuruh tanda tangan dua hari. Atau, karena kantor di Jakarta, bikin rapat di Bogor atau Serpong demi per diem.

Hadeuh.

Dari Depok untuk Indonesia yang Lebih Baik

Yuk Gunakan Bahasa dengan Tepat [2]

Bahasa Inggris sudah menjadi bahasa kedua di negeri ini. Itu tidak salah. Hanya saja, ada beberapa hal yang harus diingat. Pasal 1 Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan menyatakan bahwa: bahasa resmi nasional yang digunakan di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bahkan ada yang menyebut, “gak keren ah kalo gak pake bahasa asing, kuno, kampungan” IMG20150421124000#1

Nah apakah ada yang salah pada foto di samping? Perhatikan tulisan di bawah Bank Jatim. Ya, benar sekali. Drive True PBB. Tulisan tersebut saya temui saat melakukan perjalanan dinas ke Kabupaten Banyuwangi. Coba bandingkan dengan gambar berikut ini. IMG20150421124014

Gambar sebelah kanan saya peroleh di tempat yang sama. Ceritanya, gambar tersebut adalah penunjuk arah ke loket Bank Jatim.

Penggunaan bahasa asing, sekali lagi tidak dilarang. UU 24/2009 membolehkan hal tersebut sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 38 bahwa: (1) Bahasa Indonesia wajib digunakan dalam rambu umum, penunjuk jalan, fasilitas umum, spanduk, dan alat informasi lain yang merupakan pelayanan umum, dan (2) Penggunaan Bahasa Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat disertai bahasa daerah dan/atau bahasa asing.

Hanya saja, cobalah pakai bahasa yang tepat. Drive True Drive Thru adalah dua hal yang berbeda. Drive True artinya tepat berkendara, sedangkan Drive Thru (berasal dari istilah Drive Through) artinya  lewat berkendara. Kesalahan kecil tapi berbeda makna. Untuk istilah ini, tentu saja yang benar adalah Drive Thru.

Hanya saja, maksud yang baik ini tetapi kenapa ya harus berbahasa asing. Apakah tidak ditemukan padanan katanya dalam bahasa Indonesia? Sejauh yang saya ketahui, kata tersebut belum ada dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Saya memang pernah membaca ada sebuah media cetak yang mengganti istilah Drive Thru menjadi Kendara Lewat. Artinya, pelayanan diberikan tanpa orang perlu turun dari kendaraannya. Biasanya digunakan di loket-loket restoran cepat saji. Apakah ini harusnya yang kita pakai kemudian?

Pemerintah sepertinya harus segera mengatur hal ini. Banyak inovasi yang dilakukan namun merujuk pada bahasa asing, sehingga ke depannya pelayanan-pelayanan yang sejenis dapat memperbaikinya dan kita tetap bangga dengan Bahasa Indonesia, sebagai bahasa pemersatu bangsa.

Di luar perdebatan tersebut, saya cukup mengacungkan jempol bahwa ada inovasi pelayanan. Pak Abdullah Azwar Anas memang luar biasa deh. Beliau bukan hanya ganteng loh, tapi mampu membawa Kabupaten Banyuwangi menjadi daerah yang humanis dan memberikan banyak perbaikan dalam pelayanan. Berada di Banyuwangi saya merasa diwongke.

Selamat ulang Tahun Pancasila, 1 Juni 2015

Dari Depok untuk Indonesia yang Lebih Baik