Penganan tradisional: efisiensi rapat ala MenPANRB

“Benar gak sih, kalau rapat di KemenPANRB (Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi), penganan ringan yang disajikan sederhana?” pertanyaan seperti itu kerap diajukan teman-teman di kampus ketika rapat dan membandingkan penganan yang kami peroleh dengan Surat Edaran Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 10 Tahun 2014 tentang Peningkatan Efektivitas dan Efisiensi Kerja Aparatur Negara.

Selain membatasi perjalanan dinas dan rapat di luar kantor demi penghematan Anggaran Belanja Barang dan Belanja Pegawai, dalam Surat Edaran ini juga dinyatakan agar menyajikan menu makanan tradisional yang sehat dan/atau buah-buahan produksi dalam negeri pada setiap penyelenggaraan pertemuan/rapat demi mendorong peningkatan produksi dalam negeri dan kedaulatan pangan.

Masalahnya, betulkah itu dilaksanakan? Beberapa kali rapat di kantor KemenPANRB, memang betul surat edaran ini ditegakkan. Masalahnya, yang disebut makanan tradisional tuh apa sih?

Dari laman http://www.intentionallydomestic.com/ diperoleh penjelasan apa sebenarnya yang dimaksud dengan makanan tradisional. Terjemahan bebas dari tulisan tersebut adalah bahwa makanan tradisional terkait dengan:

  • Mengikuti cara nenek moyang kita memakannya.
  • Mengandung gizi dan nutrisi
  • Memilih makanan terbaik sesuai anggaran, kecocokan dengan zat kimia dalam tubuh seseorang, dan ketepatan cara mengkonsumsi sehingga tubuh kita dapat mengambil manfaatnya.

Sedangkan dari modul pembelajaran 2 di Jurusan Kepelatihan Olahraga Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan Universitas Pendidikan Indonesia yang ditulis oleh Lilis Komariyah disebutkan bahwa makanan tradisional adalah makanan dan minuman yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat tertentu, dengan citarasa khas yang diterima oleh masyarakat tersebut.

Artinya, kalau kita mau pakai pendefinisian pertama, akan banyak makanan mentah seperti lalapan dengan sambal, soto, nasi uduk, ikan asin, nasi goreng, rendang dan khas padang lainnya, namun perlu diperhatikan bahwa beberapa makanan tersebut misalnya makanan padang tidak boleh dikonsumsi terlalu sering karena kandungan kolesterolnya yang cukup tinggi. Kalau makan soto, repot juga karena berarti harus disediakan mangkok. Bagaimana dengan orang Palembang yang menyantap mpek-mpek sebagai kebiasaan di pagi hari alias sarapan? Padahal banyak orang, kombinasi asam dan pedas itu cukup berbahaya bagi lambung. Selain itu, agak aneh kalo penganan kecil disajikan tidak sesuai waktu. Kue putu mungkin tidak enak bila dimakan saat dingin karena biasanya agak mengeras.

Nah… ini contoh penganan kecil waktu saya rapat di KemenPANRB. IMG20150311085215Hanya kacang dan ubi. Hari yang lain (sebelumnya lupa difoto), dapat pisang rebus (yang dikemas dengan alumninium foil) dan jagung rebus (juga dikemas dengan aluminium foil). Pernah dapat makaroni panggang (pasti pakai susu, keju, dan daging cincang dong) dan dadar gulung. Terus bagaimana dengan paket makan siang kotak yang cepat saji misalnya makanan jepang? Itu kan bukan ciri khas masyarakat kita. Atau, boleh gak bakso diakui oleh kita sebagai makanan khas padahal ini diambil dari makanan warga Tionghoa dan keturunannya? Nah, bakwan malang kan isinya bakso, ada pangsit nya juga…ini kan bukan Indonesia. Sampai batasan mana itu disebut makanan khas Indonesia. Itu yang harus didefinisikan ulang.

Terkait pengemasan dan bahan baku, ada pengalaman yang cukup menarik. Saya pernah tanya kalau dadar gulung ini isinya keju, apakah ada jaminan bahwa itu bukan keju impor dan memang dapat mendorong peningkatan produksi dalam negeri dan kedaulatan pangan? Terus kalau pisang rebus dikemas dengan aluminium foil dan harganya menjadi naik berkali lipat, dan singkong diberikan tambahan keju dianggap juga bagian yang mendorong penghematan?

Memang lucu yang terjadi di negeri ini. Kreatif sih…Yang tidak perlu diatur dibuat kebijakan, yang perlu diatur dibiarkan pura-pura bukan tanggungjawabnya. Yang perlu diatur tuh, jangan sampai bikin rapat yang seharusnya satu hari, disuruh tanda tangan dua hari. Atau, karena kantor di Jakarta, bikin rapat di Bogor atau Serpong demi per diem.

Hadeuh.

Dari Depok untuk Indonesia yang Lebih Baik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s