Dirgahayu ke 32 Hari Olahraga Nasional: Apa kabar olahraga Indonesia?

Hari ini hari Olahraga Nasional. 9 September 1982 yang lalu telah ditetapkan oleh Pemerintah sebagai Hari Olahraga Nasional. Tanggal 9 September dipilih karena penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional di Solo pada 1948 dilaksanakan pada tanggal ini.

Kalau generasi sekarang diminta menyebutkan Haornas -singkatan dari Hari Olahraga Nasional- pasti mereka akan bingung. Makhluk apaan tuh (dengan gaya sambil.menutup sebelah mata seperti Pak Jaja Miharja saat menjadi host sebuah acara dangdut)

Masalahnya, kok prestasi Indonesia masih keok di kancah internasional? Apakah karena memang tidak ada orang Indonesia yang mampu berprestasi? Atau karena olahraga tidak pernah mendapat perhatian khusus? Coba saja lihat pelajaran olahraga di SD hingga SMA. Siswa hanya diajarkan sekadarnya, tanpa bimbingan yang benar. They exercise just to get score for their grade. Selebihnya lari, loncat, main volley, main basket, tanpa tahu bagaimana olahraga yang tepat. Jangan kan bicara kualitas lapangan, di beberapa sekolah bahkan lapangan olahraga sangat minimalis atau bahkan tidak ada.

Para atlet Indonesia juga sering terlihat jago kandamg. Kalau sudah ketemu lawan yang lebih unggul rankingnya, terlihat gak serius dan bahkan cenderung mengalah, pura-pura cidera. Biasanya terlihat dari tempelan plester di sana-sini. Kalah sebelum bertanding. Di mana letak semangat pantang menyerah?

Atlet berprestasi dikalungi bunga ketika menang, disambut bak selebriti, dicaci maki bak penjahat,  tapi tidak jelas bagaimana keberlanjutan pembinaan dilakukan. Coba lihat China yang serius melakukan pembinaan sejak dini dan melakukan regenerasi atlet. Di Indonesia, menjadi atlet bisa sampai habis energi. Saat atlet seangkatan Taufik Hidayat telah pensiun dan kemudian menjadi pelatih, Taufik tetap jadi atlet Indonesia walaupun prestasinya sudah terseok-seok.

Menurut Pak Imam Nahrawi, Menteri Pemuda dan Olahraga Kabinet Kerja, “mulai tahun depan kemenpora akan memberikan jaminan kesejahteraan bagi mantan atlet yang meraih medali olimpiade.” Mengapa hanya olimpiade, Pak Menteri. Bukankah tingkat Asia saja kita sudah keok. Di ASEAN saja kita sudah tidak nomor satu.lagi kok.

Jadi, apa lagi yang harus ditunggu? Kesejahteraan paska juara, atau pembinaan yang utama? Sudah sampai dimana pemberantasan mafia olahraga di Indonesia.

Jangan sampai olahraga di Indonesia hanya akan menjadi slogan “Hidup segan, mati pun tak mau”.

Selamat Hari Olahraga Nasional, jangan hanya sekedar diingat, tapi untuk direnungkan.

Dari Depok untuk Indonesia Lebih Baik. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s