Diskursus seputar Institutionalisasi Prinsip-Prinsip Democratic Governance pada Pemerintahan Provinsi di Indonesia

Tulisan tersebut merupakan sebuah artikel dalam “Seri Bunga Rampai FISIP UI 1/2014: Era Baru Indonesia Menyongsong Komunitas ASEAN 2015 (Pandangan Ilmu-Ilmu Sosial dan Politik). Ditulis bersama saya (ehem, masih dengan nama Lina Miftahul Jannah) dan kolega saya Zuliansyah Putra Zulkarnain.

Tulisan ini ada bagian dari penelitian dengan judul Rekonstruksi Peranan dan Fungsi Pemerintahan Provinsi sebagai Intermediate Level of Institution Dalam Kerangka Desentralisasi di Negara Kesatuan: Studi Perbandingan di Indonesia dan Filipina, yang didanai oleh Hibah Riset Madya Penelitian Unggulan Perguruan Tinggi (PUPT).

Editor: Achmad Fedyani Saifuddin

ISBN: 978-602-71839-1-9

Cetakan pertama, Desember 2014.

Buku Bunga Rampai FISIP

Advertisements

Dahsyatnya Pimnas 28 Kendari: Seminggu untuk Selama-lamanya…

Kalau masih ada yang bingung apa itu PIMNAS, pastinya itu bukan mahasiswa Indonesia. Ini acara yang mengusung lomba ilmiah namun penuh kesahajaan dan kebersamaan. Sstt… rahasia ya, soalnya saya juga menemukan pasangan hidup dari forum seperti ini loh. PIMNAS adalah kependekan dari Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional. Acara tahunan ini saat ini sudah berusia 28 tahun, artinya diselenggarakan sejak tahun 1988. Pimnas kali ini diselenggarakan di kampus Universitas Halu Oleo di Kendari. Rasanya tidak asik kalau saya menuliskan hal serius pada kali ini.

20151006_071751Foto ini di ambil sebelum acara pembukaan. Diambil dari plaza Hotel Grand Clarion. Ini hanya sebagian juri saja loh. Ternyata, hingga saat ini, belum ada foto lengkap dewan juri. Seragamnya keren kan? Bahkan ada yang dijahit hanya dalam hitungan jam loh gara-gara bahannya baru diterima beberapa hari sebelum acara di Kendari, dan pilihannya hanya penjahit vermak jeans yang mampu menyelesaikannya secara cepat. Walaupun, ada beberapa juri yang akhirnya tidak sempat memakai seragamnya karena seragam belum siap dijahit.

Selain kehebohan juri dengan seragamnya yang mepet, para juri juga selalu diisi kehebohan. Mulai dari kipas-kipas selama berlangsungnya pimnas (udara Kendari sangat panas loh… dinginnya hanya ketika di kamar hotel),  kuliner yang dahsyat, dan belanja oleh-oleh yang gak ada matinya (kacang mete, tenun, hingga batu akik erekke).

Juri juga tidak ragu melantai loh
Juri juga tidak ragu melantai loh

Tapi, yang patut diacungi jempol, mereka mau bekerja sambil melantai. Keterbatasan alat mencetak tidak mempengaruhi bagaimana cara juri bekerja. Ada yang mencari driver printer,a da yang menyediakan laptop nya secara sukarela, dan ada juga yang mencetakkannya. Tertib antre… Jempol tiga deh buat mereka.

IMG-20151008-WA0012

Bukan hanya juri yang antre, tapi flashdisk pun ikut antre.

IMG-20151006-WA0011
Leader UGM Drum-band

Salah satu yang membuat pembicaraan hangat adalah si mbak di sebelah. Luar biasa leader dari drumband Universitas Gadjah Mada saat acara pembukaan Pimnas ini.  Ayu tenan loh. Duh…siapa ya namanya cah ayu ini?

Seragam penutupan keren banget loh. Nih, para pendawa lima sedang bergaya. Dahsyat kan? Sepertinya akan cocok jadi cover majalah Pimnas… (kalau ada). 20151008_201115

Sedihnya, saya dan beberapa juri perempuan gak bisa pakai seragam karena kekecilan. He he he… maklumlah ukuran badan yang di atas rata-rata perempuan.

Yang istimewa pada pimnas kali ini, selain Liaison Officer Juri adalah dosen Universitas Halu Oleo (baru kali ini loh terjadi…dahsyat…!!!)  juga  diperkenalkan sebuah theme song. Penciptanya tak lain adalah rektor Universitas Halu Oleo yaitu Prof. Usman Rianse.

Silakan didengarkan dengan menkopi link berikut:

http://pimnas28.uho.ac.id/theme_song_pimnas_ke_28_uho.mp3

Musiknya enak di dengan, syairnya sederhana dan mudah diingat  Yang menjadi penyanyinya adalah Pak Iqbal. keren deh… Theme song ini dibuat dalam dua versi: versi pop dan versi mars-nya.

       Bersama mahasiswa Indonesia berkarya
       Engkau sinari persada dengan cahaya ilmumu
       Terdepanlah sambut panggilan baktimu
       Junjung tinggi semangat kesatriamu
       Mahasiswa mutiara pertiwi

              reff: Di pundakmu jiwa seluruh bangsamu
                     Goresan pena inovasimu
                     Mandirikan seluruh rakyat
                     Cerdaskan bangsamu dengan pimnas
                     Seminggu tuk selama-lamanya

Selamat kepada seluruh pemenang. Selamat juga untuk Universitas Brawijaya yang kembali membawa pulang Juara Umum. Sampai bertemu di Pimnas 29… (Bocorannya sih di Jawa Barat… Wallahu alam). Seminggu tuk selama-lamanya.

Dari Depok untuk Indonesia lebih baik.

Sumpah Pemuda: Riwayatmu Kini

Tanggal 8 September yang lalu, di pagi hari sebelum saya berangkat kerja,  saya bertanya kepada Rajul (anak saya) apakah ada pekerjaan rumah (tugas yang diberikan guru untuk dikerjakan di rumah) hari ini. “Tidak ada, Bunda. Hanya disuruh guru menghafalkan sumpah pemuda.”

Lantas Rajul membaca nyaring-nyaring sumpah pemuda tersebut:

Satu, kami putra putri Indonesia mengaku bertanah air satu, tanah air Indonesia

Dua, kami putra putri Indonesia mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia

Tiga, kami putra putri Indonesia mengaku berbahasa satu, bahasa Indonesia

“Loh, bukannya pakai putra dan putri?” saya tanya kembali. “Terus sepertinya yang pertama itu, bukan tanah air deh, bertumpah darah yang satu.” Lanjut saya. Suami saya mengomentari “Sepertinya sudah ada perubahan. Kan kalau bertumpah darah konotasi nya ada pembunuhan. Jadi sepertinya sudah diganti. Seperti teks proklamasi, kan tahunnya juga ada perbedaan” “Benar juga, ayah.” saya pikir.

Nah loh? Bukannya yang ketiga juga bukan seperti mengaku berbahasa tetapi menunjung bahasa persatuan. Sedikit berdebat tentang teks sumpah pemuda, akhirnya saya berusaha untuk mencari teks sumpah pemuda yang asli melalui mesin pencari google. “Tuh, kan, Yah.” Saya bilang kepada suami saya. Memang benar yang Bunda bilang. Yang pertama tumpah darah, terus yang ketiga menjunjung.” Suami saya bilang, “Ya sudah, nanti kita jalan-jalan aja ke museum Sumpah Pemuda.”

Sebelum jalan-jalan, paling tidak akan saya tuliskan dulu, bagaimana teks orisinil dari sumpah pemuda. Ini saya ambil dari www.akhnurhadi.com. (numpang pakai ya… trims sebelumnya”.

gambar teks sumpah pemuda
gambar teks sumpah pemuda

Jelas dong, yang asli seperti yang saya sampaikan. Dengan kata lain, mengapa kok anak saya yang kelas 3 SD diminta menghafalkan teks yang “sedikit” berbeda ya?

Perubahan mulai muncul dalam buku Muhammad Yamin (Sumpah Indonesia Raja, 1955). Muhammad Yamin adalah tokoh yang ikut merumuskan teks Sumpah Pemuda 1928. Perubahan meliputi urutan, ejaan, dan pemakaian kata:

Kami putera dan puteri Indonesia mengaku berbangsa jang satu, Bangsa Indonesia;

Kami putera dan puteri Indonesia mengaku bertanah air jang satu, Tumpah Darah Indonesia;

Kami putera dan puteri Indonesia mendjundjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.  

Perubahan selanjutnya terkadi pada Peringatan Sumpah Pemuda dalam masa Soekarno (1958). Teks itu mengalami perubahan menjadi:

Kami Putra-Putri Indonesia mengakui satu tanah air, tanah air Indonesia;

Kami Putra-Putri Indonesia mengakui satu bangsa, bangsa Indonesia;

Kami Putra-Putri Indonesia mengakui satu bahasa, bahasa Indonesia

Perubahan teks juga terjadi pada Orde Baru dengan versi Soeharto pada 1978. “yaitu mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia; mengaku bertanah air satu, tanah air Indonesia; mengaku berbahasa satu, bahasa Indonesia.”

Sampul buku http://komunitasbambu.com/katalog/komunitas-bambu/sumpah-pemuda/
Sampul buku http://komunitasbambu.com/katalog/komunitas-bambu/sumpah-pemuda/

Nah, kalau mau lebih lengkap bagaimana perubahan-perubahan itu terjadi, lebih baik baca bukunya Keith Foulcher tentang Sumpah Pemuda: Makna & Proses Penciptaan Simbol Kebangsaan Indonesia)

… Tapi logikanya kalau ikrar pemuda ini diganti, kok ya jadi aneh. Berarti bukan sumpah (atau ikrar) pemuda 1928 dong. Walau masih bulan depan, saya ucapkan Selamat ulang tahun ke 87 Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 2015. Semoga Pemuda Indonesia mampu menunjukkan jati dirinya dan membuktikan prestasinya.

Pulang dari kerja, saya bertanya lagi kepada anak saya tentang bagaimana hafalan Sumpah Pemuda-nya? Dia menjawab “Gak jadi, Bunda. Kata Bu Guru waktu sekolahnya sudah selesai. Belnya sudah berbunyi.”

Catatan: Saya tanya kepada salah seorang kolega, diperingati sebagai hari apakah tanggal 28 Oktober? Jawabannya: hmmmhhh hari Pahlawan. Saya katakan kalau hari Pahlawan itu 10 November. Dia menjawab lagi, Hari Kebangkitan Nasional yang kemudian dia ralat karena Kebangkitan Nasional katanya tanggal 20 Mei. Dia bingung, hari apa ya? Ketika saya tanya kepada Rajul dengan pertanyaan yang sama, dia menjawab: itu adalah hari lahirnya lagu Indonesia Raya, terus Kongres Pemuda yang pertama.

Bunda akan kasih jempol bunda buat Rajul.

Dari Depok untuk Indonesia Lebih Baik